Berbagai Jenis KB, Pilih yang Paling Tepat untuk Anda


Penggunaan alat kontrasepsi bertujuan untuk menunda kehamilan dan mengatur jumlah anak yang dilahirkan. Beberapa jenis alat kontrasepsi (KB) yang bisa digunakan, antara lain IUD, kondom, suntik KB, dan pil KB.

(0)
25 Jul 2019|Azelia Trifiana
Jenis KB Pil ada dua, yaitu yang mengandung hormon progesteron dan hormon progesteron estrogenPenggunaan jenis KB hormonal (pil) harus mengikuti petunjuk dan diminum setiap hari
Merencanakan kapan memiliki keturunan adalah kebijakan yang tidak main-main. Biasanya, alternatif yang dipilih adalah dengan memasang alat kontrasepsi yang dikenal dengan KB. Ada banyak jenis KB yang bisa menjadi pilihan sesuai dengan preferensi setiap individu.Perlu diingat pula bahwa apapun jenis KB yang digunakan, kemungkinan untuk hamil tetap ada. Efektivitas KB dalam mencegah kehamilan sampai 99%.Di Indonesia, ada beberapa jenis metode kontrasepsi yang biasa digunakan. Untuk jangka panjang, IUD biasa dipilih. Selain itu, ada banyak ragam KB lainnya seperti pil hingga kondom.

Apa yang dimaksud alat kontrasepsi (KB)?

Alat kontrasepsi adalah metode atau alat yang secara khusus digunakan untuk tujuan mencegah terjadinya kehamilan saat berhubungan seksual. Dalam memilih metode kontrasepsi untuk menunda memiliki anak, pasangan haruslah memperhatikan banyak faktor, termasuk tingkat keamanan, efektivitas hingga kenyamanan dan efek samping.Jenis kontrasepsi yang digunakan setiap orang juga mungkin berbeda, dapat disesuaikan dengan pilihan masing-masing pasangan.

Apa saja jenis KB yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan?

Setiap jenis KB memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang cocok pada seseorang belum tentu berlaku sama pada orang lain. Dikutip dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC), beberapa jenis KB yang umum digunakan adalah:

1. IUD 

IUD adalah singkatan dari Intrauterine device, alat berbentuk huruf T dengan ujung seperti kabel yang dimasukkan ke dalam uterus wanita. Kandungan tembaga di dalamnya menghancurkan dan mencegah sperma bertemu dengan sel telur.IUD ada dua jenis, IUD yang tidak mengandung hormon dan yang mengandung hormon. IUD yang tidak mengandung hormon terbuat dari tembaga dan dapat bertahan hingga 10 tahun serta IUD yang mengandung hormon perlu diganti setiap 5 tahun sekali.Pada IUD dengan hormon setiap harinya akan dilepaskan levonorgestrel. Cara ini juga membuat saluran serviks tidak memungkinkan sperma dan sel telur bertemu.  Biasanya pada awal-awal penggunaan, wanita yang menggunakan IUD akan mengalami menstruasi yang lebih lama dan lebih deras. Namun tenang saja, hal ini tidak berarti berbahaya. Bahkan pada beberapa orang, IUD mengurangi rasa kram perut saat menstruasi.IUD banyak dipilih karena dampaknya berlaku jangka panjang, sekitar lima tahun. Setelah periode tersebut, IUD harus kembali diganti.Baca juga: Setelah Pasang IUD, Kapan Boleh Berhubungan Intim? Ini Jawabannya!

2. Kondom

Metode kontrasepsi yang terbilang mudah tanpa harus menanam atau memasukkan apapun ke dalam tubuh. Kondom biasanya dipasang pada penis pria untuk menjaga agar sperma tidak masuk ke dalam tubuh wanita. Meski demikian, masih ada kemungkinan terjadi kehamilan ketika kondom bocor.

3. Kontrasepsi hormonal (pil)

Ketika berbicara tentang KB hormonal, artinya yang digunakan sebagai alat kontrasepsi adalah pil. Jenis KB yang satu ini bersifat sementara dan perlu dikonsumsi harian. Ada dua jenis pil KB, yaitu yang mengandung hormon progesteron dan yang mengandung hormon estrogen dan progesteron.  Pil KB ini dapat mengentalkan lendir serviks sehingga mencegah sperma mencapai sel telur. Menggunakan jenis KB ini juga dapat mencegah proses ovulasi meski hanya pada saat-saat tertentu.Efek samping dari pil KB adalah berisiko meningkatkan berat badan, tekanan darah tinggi, hingga pendarahan yang terjadi di luar jadwal menstruasi. Selain itu, bisa saja penderitanya merasa mual, sakit kepala, produksi ASI menurun, hingga gairah seks yang tidak lagi seperti sebelumnya.

4. Implan

Metode berikutnya adalah KB implan, menanam benda kecil di lengan bagian atas. Metode ini dapat berefek mencegah kehamilan untuk periode tiga tahun. Kemungkinan gagal dari metode ini sangat sedikit yaitu sekitar 3%.Namun efek sampingnya adalah peningkatan berat badan, menstruasi tidak teratur, rasa nyeri di lengan tempat implan dipasang, hingga kesulitan untuk kembali hamil setelah implan diangkat.

5. Suntik KB

Untuk jenis KB berikutnya adalah suntik KB yang bisa dipilih untuk periode 1 atau 3 bulan. Sama seperti pil, suntik KB bersifat sementara dalam mencegah kehamilan.Wanita yang menggunakan metode suntik KB bisa mengalami efek samping seperti berat badan meningkat, perdarahan, sakit kepala, hingga jerawat.Baca juga: Suntik KB 3 Bulan Tapi Tetap Menstruasi, Normalkah?

6. Tubektomi

Berbeda dengan beberapa jenis-jenis KB di atas yang hanya mencegah kehamilan untuk periode bulanan hingga tahunan, tubektomi adalah pilihan bagi yang ingin mencegah kehamilan permanen.Disebut juga sterilisasi, tubektomi adalah tindakan menutup tuba falopi agar sel telur tidak dapat masuk ke dalam rahim. Artinya, sperma pun tidak bisa masuk ke dalam tuba falopi. Memerlukan operasi, efek samping tubektomi di antaranya adalah perdarahan, infeksi dan nyeri pada panggul.

7. Patch (seperti koyo)

Metode kontrasepsi lain yang bisa mencegah kehamilan adalah menggunakan patch kuilit di bagian bawah bokong atau tubuh bagian atas (tidak di payudara). Metode ini digunakan selama seminggu sekali. Patch ini berfungsi untuk melepaskan hormon progestin dan estrogen ke dalam aliran darah untuk mencegah pembuahan. Tingkat kegagalan metode ini adalah sekitar 7%. Kekurangan dari jenis kontrasepsi ini adalah tidak dapat mencegah penyakit menular seksual dan menyebabkan efek samping layaknya mengonsumsi pil KB.

8. Cincin vagina

Cincin kontrasepsi vagina adalah cincin yang ditempatkan di dalam vagina wanita untuk melepaskan hormon progestin dan estrogen. Cincin ini digunakan selama tiga minggu untuk kemudian diganti ketika Anda mengalami menstruasi. Tingkat egagalan dari metode kontrasepsi ini adalah mencapai 7 persen. Selain itu, efek samping lain yang mungkin ditimbulkan adalah iritasi, mual, sakit kepala dan tidak memberikan perlindungan dari penyakit menular seksual.

9. Diafragma

Diafragma adalah salah satu jenis kontrasepsi yang menggunakan penutup serviks untuk memblokir masuknya sperma. Diafragma yang digunakan bentuknya seperti cangkir dangkal yang bisa mencegah atau membunuh sperma. Alat ini harus dipasangkan oleh dokter, karena untuk diafragma dan tutup serviks memiliki ukuran yang berbeda-beda. Nantinya diafragma ini akan dimasukkan ke dalam vagina dengan menggunakan spermisida. Tingkat kegagalan dari metode kontrasepsi ini adalah sebesar 7%. 

10. Spons

Spons kontrasepsi adalah jenis KB yang mengandung spermisida untuk membunuh sperma. Alat kontrasepsi ini ditempatkan di vagina, tepatnya di atas serviks untuk kemudian bekerja selama 24 jam.Anda harus membiarkan alat ini ada di dalam vagina setidaknya 6 jam setelah berhubungan seksual. Tingkat kegagalan dari metode ini adalah 14% untuk wanita yang belum pernah hamil dan 27% untuk wanita yang sudah pernah melahirkan.

Apa saja macam-macam alat kontrasepsi yang alami?

Selain jenis KB di atas, ada juga sejumlah metode kontrasepsi alami untuk mencegah kehamilan. Cara ini terbilang lebih aman dan bebas efek samping.Sejumlah jenis kontrasepsi alami yang juga aman untuk ibu menyusui adalah:

Mengetahui masa subur

Cara lainnya untuk mencegah kehamilan adalah dengan mengetahui masa subur. Jika Anda memiliki siklus menstruasi yang teratur, Anda memiliki sekitar sembilan hari atau lebih, sebagai masa subur setiap bulan.Jika tidak ingin hamil, hindari berhubungan seks pada hari-hari subur tersebut atau Anda menggunakan metode kontrasepsi penghalang pada hari-hari itu. Tingkat kegagalan metode ini bervariasi yakni 2-23%.

Metode amenore laktasi (menyusui)

Salah satu cara aman untuk mencegah kehamilan menggunakan metode kontrasepsi yang bekerja menghambat ovulasi adalah menerapkan amenore laktasi.Untuk wanita yang baru saja melahirkan dan sedang menyusui, Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alami yang aman. Untuk sukses dalam metode ini, ada sejumlah jika tiga syarat yang harus dipenuhi seperti:
  • Berada dalam fase amenore (tidak mengalami menstruasi setelah melahirkan),
  • Sepenuhnya atau hampir menyusui penuh
  • Masih berada dalam masa kurang dari 6 bulan setelah melahirkan bayi
LAM adalah metode kontrasepsi sementara, dan metode kontrasepsi lain harus digunakan jika salah satu dari ketiga kondisi tersebut tidak terpenuhi.

Mengapa kontrasepsi penting?

Sejatinya, pilihan untuk menggunakan kontrasepsi bukan hanya untuk menunda memiliki keturunan atau mengatur berapa jarak dan jumlah anak yang dilahirkan. Lebih jauh lagi, penggunaan kondom sangat penting untuk menghindari infeksi penyakit menular seksual pada perempuan yang aktif berhubungan seksual. Sayangnya, Anda masih bisa terkena infeksi menular seksual jika mengenakan kontrasepsi lainnya. Apalagi faktanya, menurut World Health Organization, ada 214 juta wanita berusia produktif di negara berkembang belum menyadari pentingnya menggunakan alat kontrasepsi. Padahal, mereka ingin menghindari kehamilan.Dengan menjatuhkan pilihan pada salah satu dari jenis-jenis KB, kesehatan reproduksi wanita semakin terlindungi. Dengan menggunakan alat kontrasepsi, wanita punya otoritas untuk menentukan kapan memiliki keturunan atau berapa jarak yang diinginkan antara satu anak dengan lainnya.Dalam sudut pandang jangka panjang, perencanaan keluarga ini membuat wanita memiliki kesempatan untuk memperjuangkan pendidikan sekaligus mengaktualisasikan diri. Logikanya, keluarga dengan jumlah anak lebih sedikit dapat menginvestasikan dana pendidikan dengan porsi lebih besar ketimbang mereka dengan anak banyak.Baca juga: Bagaimana Cara Mencegah Kehamilan Setelah Berhubungan Seks Tanpa Pengaman?

Apakah akses kontrasepsi mencukupi?

Sayangnya, lagi-lagi masih ada lebih dari 200 juta wanita di negara berkembang yang belum mendapatkan akses memadai untuk menggunakan alat kontrasepsi. Ada banyak penyebabnya seperti:
  • Keterbatasan pilihan jenis-jenis KB
  • Kesulitan akses menggunakan alat kontrasepsi (remaja, populasi miskin, wanita belum menikah)
  • Ketakutan akan efek samping
  • Bertentangan dengan keyakinan agama
  • Tidak ada layanan medis yang menyediakan
Masih banyak lagi faktor yang menyebabkan akses untuk menggunakan alat kontrasepsi tidak mudah. Di Afrika, sebanyak 24,2 persen wanita di usia produktif tidak mendapat akses kontrasepsi modern. Sementara di Asia dan Amerika Latin, masih ada 10,2% wanita menghadapi kesulitan yang sama.Keputusan menggunakan KB harus diambil dengan matang dan mempertimbangkan banyak faktor. Diskusikan dengan dokter kandungan, suami, atau keluarga sebelum menentukan hal ini karena sangat erat kaitannya dengan kesehatan seorang wanita.Jika Anda ingin berkonsultasi secara langsung perihal metode kontrasepsi apa yang paling tepat, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
penggunaan kbkontrasepsi
Family Planning. https://www.familyplanning.org.nz/advice/contraception/contraception-methods
Diakses pada 11 Juli 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/contraception/which-method-suits-me/?tabname=methods-of-contraception
Diakses pada 11 Juli 2019
World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/family-planning-contraception
Diakses pada 11 Juli 2019
CDC. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/contraception/index.htm Diakses pada 15 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait