Catat Jenis-jenis Imunisasi untuk Anak Hingga usia 18 Tahun Ini

(0)
09 Aug 2020|Annisa Trimirasti
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Jenis-jenis imunisasi umumnya diberikan dengan suntikanHampir semua imunisasi diberikan melalui suntikan
Vaksinasi bertujuan melindungi seseorang dari penyakit tertentu. Karena itu, jenis-jenis imunisasi juga beragam. Kegiatan ini penting terutama untuk anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih dalam proses pembentukan.Imunisasi, khususnya untuk anak, perlu diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan agar proteksinya optimal. Sebagian vaksin cukup diberikan sekali, sedang sebagian lainnya harus diulang beberapa kali supaya dapat memberikan perlindungan efektif terhadap penyakit tertentu.

Jenis-jenis imunisasi yang harus didapatkan oleh anak

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut jenis-jenis imunisasi yang perlu diberikan pada anak sesuai dengan kelompok usianya:

Usia di bawah 1 tahun

Pada kelompok usia ini, imunisasi dasar wajib dipenuhi untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang berbahaya di awal masa kehidupan buah hati. Apa saja jenis-jenis imunisasi tersebut?
  • Hepatitis B

Vaksin hepatitis B perlu diberikan 4 kali. Pertama dalam waktu 12 jam setelah lahir, lalu berikan secara berturut-turut pada usia 2,3 dan 4 bulan. Apabila ibu memiliki penyakit hepatitis B, maka bayi yang dilahirkan harus segera mendapat suntikan vaksin hepatitis B serta diberikan suntikan imunoglobulin hepatitis B (HBIG).Area bekas suntikan dapat terasa sakit dan membengkak. Namun keluhan ini biasanya hilang setelah 2 hari. Untuk meringankan nyeri, ibu disarankan untuk memberi lebih banyak ASI dan menempelkan kompres dingin di bekas suntikan.
  • BCG

Vaksin BCG diperuntukkan bagi pencegahan tuberkulosis (TBC). Imunisasi ini hanya perlu dilakukan 1 kali, dan waktu terbaiknya saat bayi sudah berusia 2 atau 3 bulan. Pasalnya, bayi di bawah 2 bulan belum memiliki sistem imun yang matang.Sekitar 2-6 minggu setelah pemberian vaksin BCG, mungkin akan timbul bisul kecil di area bekas suntikan. Tapi bisul ini perlahan-lahan akan sembuh.Bila bisul mengeluarkan cairan, harap dikompres dengan cairan antiseptik. Jika bisul tidak kunjung sembuh, segera bawa Si Kecil ke dokter.
  • DPT-HiB

DPT adalah singkatan dari difteri pertusis tetanus. Sementara HiB adalah Haemophilus influenzae. Vaksin penyakit-penyakit ini bisa digabung dan diberikan sebanyak 4 kali pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan dan 18 bulan.Area bekas suntik mungkin akan terasa nyeri dan membengkak sementara. Orang tua disarankan untuk menyusui lebih banyak dan menggunakan kompres dingin pada area tesebut.
  • Polio

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan, kesulitan bernapas hingga dapat menyebabkan kematian. Vaksin polio oral (OPV) diberikan dengan cara diteteskan ke mulut pada saat baru lahir lalu diberikan berturut-turut  2, 3, 4 bulan. Sedangkan vaksin polio yang disuntikan (IPV) diberikan satu kali saat Si Kecil berusia 4 bulan. Vaksin polio tersebut umumnya tidak menyebabkan efek samping apa-apa pada anak yang sudah menjalaninya.
  • Campak

Campak adalah penyakit yang memiliki gejala ruam kemerahan pada seluruh tubuh dan disebabkan oleh virus. Vaksin campak pertama diberikan pada usia 9 bulan. Imunisasi ini bisa menyebabkan demam ringan dan kemerahan selama 3 hari pada hari 8-12 setelah imunisasi. Kemudian diberikan kembali pada saat anak berusia 18 bulan dan 6 tahun.Para orang tua disarankan untuk memperbanyak pemberian ASI atau MPASI, dan mengompres dingin area bekas suntikan.
  • Pneumokokus (PCV) dan rotavirus

PCV adalah vaksin untuk melawan bakteri pneumokokus dimana bakteri ini dapat menyebabkan infeksi yang berat, seperti pneumonia, sepsis dan meningitis.Sedangkan rotavirus adalah adalah infeksi virus yang menyebabkan adanya peradangan pada saluran pencernaan sehingga terjadi diare pada bayi dan anak-anak.Jenis-jenis imunisasi ini diberikan secara terpisah, tapi dalam periode waktu yang sama, yaitu sebanyak 3 kali saat bayi usia 2, 4, dan 6 bulan.

Usia 1-4 tahun

Pada rentang ini, berikut jenis-jenis imunisasi yang masih merupakan kelanjutan dari rentang usia sebelumnya:
  • DPT, kembali dilakukan pada usia 18 bulan sebagai vaksin booster (penguat). Pasalnya, imunisasi dasar pada rentang usia 0-1 tahun mungkin melemah sehingga perlu dikuatkan kembali.
  • Polio, kembali dilakukan pada usia 18 bulan sebagai vaksin booster.
  • HiB, kembali dilakukan pada rentang usia 15-18 bulan sebagai vaksin booster.
  • Pneumokokus, kembali dilakukan pada rentang usia 12-15 bulan sebagai vaksin booster.
Ada juga beberapa jenis imunisasi tambahan yang diperlukan. Beberapa jenisnya meliputi:
  • MMR

Vaksin ini dilaksanakan pada usia 15 bulan,kemudian diberikan dosis booster pada usia 5 tahun. Pemberian vaksin MMR ini bertujuan membentuk antibodi terhadap virus rubella, campak, dan gondongan
  • Tifoid dan hepatitis A

Kedua vaksin ini diberikan pada usia anak memasuki 24 bulan. Vaksin hepatitis A diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Sementara vaksin tifoid bisa dilakukan berulang setiap 3 tahun sekali. Keduanya dapat dilakukan sampai anak berusia 18 tahun.
  • Varisela

Vaksin varisela bertujuan mencegah cacar air, dan diberikan 1 kali setelah anak berusia di atas 1 tahun sampai 18 tahun.
  • Influenza

Vaksin influenza bisa diberikan setiap tahun sejak anak berusia 6 bulan sampai 18 tahun.

Usia 5-12 tahun

Pada rentang usia 5-12 tahun, tidak ada jenis imunisasi baru. Jenis-jenis imunisasi dilakukan sebagai ulangan, memenuhi vaksin yang belum dilakukan, atau booster.Berikut jenis imunisasi yang dapat dilakukan pada rentang usia ini:
  • DPT yang bisa dilakukan pada usia 5 tahun dan 12 tahun sebagai imunisasi booster
  • Campak yang bisa dilakukan antara usia 6-7 tahun sebagai booster
  • MMR yang bisa dilakukan pada usia 5 tahun sebagai booster

Usia 12-18 tahun

Rentang usia 12-18 tahun sama dengan rentang usia 5-12 tahun. Jenis-jenis imunisasi yang dilakukan merupakan vaksin ulangan, melengkapi daftar vaksin, atau untuk booster.Pada rentang usia ini, dokter bisa memberikan imunisasi DPT booster serta ulangan vaksin tifoid, hepatitis A, dan varisela.Pada usia 12-18 tahun, imunisasi pilihan juga sudah bisa dilakukan seperti HPV. Vaksin HPV diberikan sebanyak 2-3 kali dengan interval 6-12 bulan di antara penyuntikan.

Catatan dari SehatQ

Jenis-jenis imunisasi dapat dibagi menjadi imunisasi wajib atau pilihan. Tipe vaksin wajib meliputi BCG, DPT, HiB, hepatitis B, polio dan campak. Sementara imunisasi tambahan berupa MMR, varisela, tifoid, hepatitis A, influenza, pneumokokus, rotavirus, dan HPV.Anak-anak dianjurkan untuk memenuhi kedua jenis vaksinasi tersebut supaya dapat memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang bersangkutan. Anda bisa mendiskusikan dengan dokter mengenai penjelasan yang lebih lanjut supaya benar-benar cocok dengan kebutuhan buah hati.
vaksin bayi dan anakimunisasi anak
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-i
Diakses pada 8 Agustus 2020
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada 8 Agustus 2020
Kementerian Kesehatan Indonesia. http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/10/03Buku-Ajar-Imunisasi-06-10-2015-small.pdf
Diakses pada 8 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait