Dapat Menjadi Bumerang, Ini Jenis Hubungan Seks yang Berisiko Menularkan Penyakit

Hubungan seks yang tidak setia dengan satu pasangan, berisiko menularkan penyakit seksual
Setia dengan satu pasangan, menjadi salah satu pencegahan penyakit menular seksual

Seks mungkin menjadi bagian penting untuk Anda, sehingga tak dapat dipisahkan dari kehidupan. Jika dilakukan dengan baik dan benar, ada banyak sekali manfaat berhubungan seks untuk kesehatan, seperti membakar kalori, mengurangi risiko penyakit jantung, hingga mengurangi gejala gangguan stres.

Namun, adakalanya berhubungan seks menjadi bumerang, apabila senggama yang Anda lakukan, tergolong sebagai seks berisiko. Seks berisiko tak ayal berkontribusi terhadap berbagai infeksi menular seksual, mulai dari sifilis, herpes genital, HIV dan AIDS, dan banyak infeksi lainnya.

Jenis-jenis hubungan seks berisiko yang harus Anda perhatikan dampaknya

Gejala infeksi menular seksual di atas, sebagai akibat dari hubungan seks berisiko, seringkali tidak disadari oleh penderitanya. Sehingga, menjalani tes penyakit menular seksual, menjadi cara utama untuk mengetahui potensi penularan pada Anda.

Berikut ini jenis seks yang meningkatkan risiko penyakit kelamin tersebut.

  • Seks dengan sering berganti pasangan

Hubungan seks dengan sering berganti pasangan, membuat Anda lebih berisiko untuk tertular penyakit menular seksual. Sebab, semakin sering berganti partner, semakin besar kemungkinan terhadap riwayat penyakit kelamin.

Bahkan ada ungkapan, apabila berhubungan seks dengan seseorang, Anda otomatis juga berhubungan seks dengan orang lain, yang pernah menjadi partner seks orang tersebut.

Setia dengan satu orang, menjadi cara utama, untuk menghindari risiko penyakit kelamin.

  • Seks tanpa kondom

Anda tentu sudah sering mendengar dampak buruk hubungan seks tanpa pengaman, seperti kondom, sebagai salah satu perilaku berhubungan seks yang berisiko. Perilaku seksual yang dimaksud mencakup seks melalui vagina (vaginal), seks melalui anus (anal), maupun seks melalui mulut (oral).

Kondom dapat mengurangi risiko tertular dari berbagai infeksi menular seksual, termasuk HIV dan AIDS. Selalu gunakan kondom saat berhubungan seks, terlebih jika Anda tidak mengetahui riwayat kesehatan pasangan.

Walau tidak bisa 100% mencegah penularan infeksi menular seksual, penggunaan kondom tetap dipercaya sebagai cara aman untuk menghindari infeksi seksual.

  • Seks anal

Sesuai namanya, hubungan seks ini dilakukan melalui penetrasi penis ke saluran anus pasangan. Perilaku seks ini termasuk berisiko, karena anus tidak seperti vagina yang dapat memproduksi pelumas secara alami. Sehingga seks anal rentan membuat jaringan di dalam anus menjadi terluka.

Tak hanya itu, jaringan di dalam anus juga lebih sensitif daripada jaringan di luarnya. Hal ini membuat jaringan di dalam anus juga rentan robek dan berdarah, yang membuat infeksi virus dan bakteri mudah terjadi. Oleh karena itu, penerima penetrasi 13 kali lebih rentan untuk terkena efek buruk seks anal.

Selain risiko penyakit menular seksual, seperti infeksi gonorea dan klamidia, seks anal juga dapat memperparah wasir yang diderita oleh penerima penetrasi.

Jika Anda masih ingin melakukan hubungan seks anal, selalu gunakan kondom dan pelumas berbahan dasar air. Selain itu, lakukan gerakan dengan perlahan, karena dorongan yang terlalu cepat, bisa memicu luka pada jaringan di dalam anus.

Selalu komunikasikan dengan pasangan Anda, mengenai dampak seks anal serta penanganannya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Seks yang didapat dari aplikasi kencan

Perkembangan teknologi memudahkan segala aspek kehidupan, termasuk perihal mencari pasangan. Kehadiran aplikasi cari jodoh yang bisa diunduh dengan cepat, membuat Anda tak lagi sulit mencari teman kencan.

Kehadiran aplikasi model ini tentu juga memiliki risiko negatif. Aplikasi kencan diasosiasikan dengan gangguan mental, tindak kejahatan, dan perilaku seks berisiko. Perilaku seks berisiko yang kerap yang dimaksud, termasuk seks tanpa kondom serta seks yang berganti pasangan.

Sebuah studi tahun 2017 membuktikan, kencan online memicu peningkatan terjadinya perilaku seks berisiko, di kalangan penggunanya. Penelitian lain yang dilakukan di Hong Kong juga menemukan hasil serupa.

Penelitian tersebut mengungkap, pemakai aplikasi kencan kerap berhubungan seks tanpa kondom, serta rentan melakukan hubungan seks dengan berganti pasangan.

Mengurangi penggunaan aplikasi kencan menjadi langkah terbaik, untuk menghindari Anda dari risiko penyakit kelamin. Apabila terpaksa, selalu gunakan kondom, karena Anda tak pernah tahu riwayat kesehatan dari calon pasangan dan partner seks, terutama yang ditemukan melalui aplikasi kencan.

Skrining pemeriksaan infeksi penyakit menular seksual, termasuk tes HIV, perlu rutin dijalani untuk mengetahui status kesehatan Anda. Selain itu, Anda juga harus mengetahui status kesehatan pasangan, terutama sebelum memutuskan untuk menikahi seseorang yang akan menjadi teman hidup Anda.

Dengan mengetahui status masing-masing, penanganan dari dokter akan memudahkan Anda untuk terhindar dari dampak yang lebih buruk.

Healthline. https://www.healthline.com/health/healthy-sex/anal-sex-safety
Diakses pada 17 Juli 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5102411/
Diakses pada 17 Juli 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5739860/
Diakses pada 17 Juli 2019

US Food & Drug Administration. https://www.fda.gov/patients/hiv-prevention/condoms-and-sexually-transmitted-diseases
Diakses pada 17 Juli 2019

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/cybersex-associated-internet-safety-risks-22456
Diakses pada 17 Juli 2019

Web MD. https://www.webmd.com/sex/whats-risky-sex#1
Diakses pada 17 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed