7 Jenis Gangguan pada Sistem Gerak, Penyakit Parkinson Salah Satunya

Contoh gangguan sistem gerak bisa berupa tremor di tangan lansia
Tremor di tangan lansia termasuk salah satu gangguan sistem gerak

Gangguan pada sistem gerak adalah masalah neurologis yang berdampak pada gerakan tubuh. Contohnya, gerak anggota tubuh yang menjadi tidak terkendali atau malah sulit hingga tidak bisa digerakkan. Gangguan ini memiliki banyak jenis dan bisa dialami oleh siapa saja.

Jenis-jenis gangguan pada sistem gerak

Ada cukup banyak gangguan pada sistem gerak. Berikut adalah beberapa jenisnya yang umum terjadi:

  1. Tremor

Yang dimaksud dengan tremor adalah gerakan atau kondisi gemetar yang tidak terkontrol. Tremor biasanya terjadi di salah satu atau kedua tangan dan kondisi gemetar bisa bertambah parah saat penderita mencoba menggerakkan tangannya.

Gangguan pada sistem gerak ini disebabkan oleh ketidaknormalan pada bagian otak yang mengendalikan gerakan, dan umumnya tidak terkait dengan penyakit tertentu. Sekitar 50 persen penderita tremor memiliki anggota keluarga dengan masalah medis yang sama.

Walau sebaian besar kondisi tremor tidak menimbulkan komplikasi serius, gangguan medis ini bisa menganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan stres pada penderita.

  1. Myasthenia gravis

Myasthenia gravis merupakan kondisi cepat lelah dan melemahnya otot-otot, termasuk otot gerak sadar. Gangguan pada sistem gerak ini terjadi akibat masalah pada komunikasi antara saraf dengan otot.

Gejala myasthenia gravis biasanya muncul ketika pengidap menggunakan otot yang terkena penyakit ini. Keluhan kemudian hilang dengan sendirinya setelah otot tersebut diistirahatkan. Meski begitu, keluhan myasthenia gravis akan cenderung memburuk dalam waktu beberapa tahun.

  1. Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson juga termasuk salah satu jenis gangguan pada sistem gerak. Penyakit ini muncul saat sel saraf di otak tidak cukup memproduksi senyawa dopamine.

Gejala Parkinson umumnya muncul pada orang yang berusia 60 tahun ke atas. Namun keluhannya juga dapat dialami pada usia di bawah itu.

Gejala penyakit Parkinson akan terjadi secara bertahap di salah satu sisi tubuh, kemudian menyerang kedua sisi tubuh. Keluhan awalnya berupa gemetar pada tangan, kaki dan rahang, adanya kekakuan pada tangan, kaki dan batang tubuh, gerakan jadi lambat dan keseimbangan tubuh terganggu.

  1. Ataksia

Ataksia merupakan gangguan pada sistem gerak yang bersifat degeneratif, yang berarti memicu penurunan fungsi. Penyebab kondisi ini adalah masalah pada otak, batang otak, atau saraf tulang belakang.

Penderita ataksia akan mengalami gerakan yang terkesan ceroboh dan tidak stabil, tubuh yang tidak seimbang, mengalami gemetar, atau ada anggota gerak yang kurang terkoordinasi saat melakukan gerakan secara sadar.

Sebagai akibatnya, penderita ataksia memiliki risiko sering jatuh. Kemampuan bicara dan pergerakan mata pengidapnya juga bisa terganggu.

  1. Distonia

Distonia adalah gangguan pada otot yang bersifat neurologis. Gejalanya berupa kejang pada otot-otot.

Ganggan pada sistem gerak satu ini bisa muncul akibat adanya fungsi abnormal pada ganglia basalis, yaitu sebuah area di bagian dalam otak yang bertugas mengontrol koordinasi dan kelancaran gerak, serta mencegah gerakan tak sadar.

Penderita distonia biasanya mengalami gerakan tubuh tertentu yang berulang tidak terkontrol, serta posisi dan postur tubuh yang tidak normal. Penyakit ini bisa menyerang bagian tubuh manapun, seperti lengan, kaki, batang tubuh, kelopak mata, bahkan pita suara.

Tergantung dari bagian tubuh yang terkena, distonia bisa sampai menimbulkan kondisi kecatatan pada penderitanya.

  1. Sklerosis lateral amiotrofik (ALS)

Sklerosis lateral amiotrofik (ALS) atau penyakit Lou Gehrig biasanya terjadi pada orang berusia 40 hingga 70 tahun. Penyakit ini merupakan kondisi degenerasi saraf yang progresif.

Proses degenerasi yang progresif tersebut menyebabkan sel-sel neuron di otak dan saraf tulang belakang akhirnya mati.

Tanpa sel neuron, otak dan saraf tidak bisa mengirimkan perintah gerak dan kendali ke otot. Kondisi ini akan menyebabkan penderita ALS kehilangan kemampuan bergerak, berbicara, makan, menelan, hingga bernapas.

  1. Ankylosing spondylitis

Pada penderita ankylosing spondylitis, beberapa bagian dari tulang belakang bagian bawahnya mengalami peradangan yang berujung pada kerusakan atau tumbuhnya tulang baru. Pada beberapa kasus, kondisi peradangan ini membuat ruas tulang belakang menyatu dan kehilangan kelenturannya.

Gejala ankylosing spondylitis umumnya meliputi sakit dan kaku pada punggung, nyeri dan bengkak di bagian sendi dan tendon yang melekat ke tulang, serta keletihan yang parah. Keluhan ini muncul secara bertahap serta sering hilang dan timbul sendiri.

Pada sebagian penderita, gejala ankylosing spondylitis dapat mereda. Namun pada sebagian pengidap lainnya, keluhan justru bisa bertambah parah.

Catatan dari SehatQ

Pengobatan gangguan pada sistem gerak tentu bervariasi dan tergantung dari jenis penyakit yang Anda alami. Perlu bantuan dan konsultasi medis dengan dokter untuk mengetahui penyakit yang menjadi dalang dari keluhan-keluhan yang menyerang Anda.

Sayangnya, kebanyakan dari masalah medis tersebut tidak bisa disembuhkan dan akan menyertai penderita seumur hidupnya. Karena itu, penanganan medis umumnya bertujuan meredakan serta mengendalikan gejala.

American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Movement-Disorders
Diakses pada 20 Mei 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/parkinsonsdisease.html
Diakses pada 20 Mei 2020

ALS Association. http://www.alsa.org/about-als/what-is-als.html
Diakses pada 20 Mei 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/myasthenia-gravis/symptoms-causes/syc-20352036
Diakses pada 20 Mei 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ankylosing-spondylitis/
Diakses pada 20 Mei 2020

Artikel Terkait