Bukan Alkohol, Ini Jenis Cairan Pembersih Luka yang Bisa Digunakan

(0)
24 Jul 2020|Annisa Trimirasti
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Povidone iodine merupakan salah satu cairan pembersih luka yang umumPovidone iodine atau biasa disebut betadine adalah salah satu cairan pembersih luka
Cairan pembersih luka digunakan untuk membilas benda-benda asing dari permukaan luka dan area sekitarnya, seperti debu dan kotoran. Langkah ini diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mengurangi risiko infeksi.Meski demikian, tidak semua jenis luka perlu dibersihkan dengan cairan pembersih luka. Ada kondisi tertentu yang sebaiknya diperhatikan.Anda bisa memakai cairan pembersih luka apabila terdapat butir-butir debu atau kotoran pada luka, luka yang terkontaminasi feses, atau ada jaringan mati (sel-sel kulit yang mati) pada luka. Anda juga dapat memakai cairan ini ketika luka mengalami infeksi, yang ditandai dengan bengkak, kemerahan, terasa hangat saat disentuh, nyeri, atau bernanah.

Bukan alkohol, ini ragam cairan pembersih luka yang bisa digunakan

Terdapat beberapa jenis carian pembersih luka yang dapat Anda pakai. Apa sajakah itu?
  • Air

Air adalah pilihan cairan pembersih luka yang sangat mudah didapat dan murah. Manfaatnya juga disebut tidaklah jauh berbeda dengan air saline untuk membersihkan luka. Namun harap diingat bahwa air harus dialirkan pada luka selama 10-15 menit.Meski demikian, air keran mungkin saja mengandung sedikit bakteri dan bukanlah cairan isotonik yang lebih aman digunakan untuk membersihkan luka.Perlu diingat pula bahwa air keran tidak boleh dipakai untuk membersihkan luka yang dalam, terutama jika luka sampai mencapai otot atau tulang. Jadi air hanya bisa digunakan sebagai pembersih luka luar yang ringan.
  • NaCl (natrium klorida) atau saline

NaCl dipilih sebagai cairan pembersih luka karena bersifat isotonik, sehingga tidak mengganggu proses penyembuhan luka. Selain itu, air saline memiliki kadar toksik yang rendah dan tidak menyebabkan reaksi alergi atau perubahan ekosistem di kulit.Meski begitu, NaCl tidak efektif untuk membersihkan luka yang kotor atau memiliki jaringan mati (sel-sel kulit mati). Cairan ini pun tidak memiliki komponen antimikroba dan kemasannya perlu segera dibuang segera setelah digunakan.
  • Povidone iodine

Povidone iodine atau biasa disebut betadine dapat digunakan sebagai pembersih luka terbuka. Misalnya, luka akibat gigitan hewan, luka tusuk, ataupun luka tembak.Cairan pembersih luka ini merupakan cairan antimikroba yang dapat membasmi berbagai macam patogen pada luka. Mulai dari bakteri, virus, ataupun jamur.Penggunaan povidone iodine sebagai pembersih luka juga disebut dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi pada luka akibat sayatan, seperti luka bedah.Namun povidone iodine termasuk agen sitotoksik yang mungkin memperlambat proses penyembuhan luka. Tidak hanya itu, cairan pembersih luka ini mungkin menyebabkan iritasi, kulit kering, hingga perubahan warna pada kulit.Cairan pembersih berwarna cokelat ini juga tidak cocok dipakai pada luka kronis (jangka panjang) dan tidak boleh digunakan lebih dari tujuh hari.
  • Asam asetat atau asam cuka

Asam asetat dapat menjadi pilihan cairan pembersih luka yang murah dan mudah didapat. Cairan ini pun efektif melawan berbagai jenis bakteri maupun jamur, dan dinilai cocok untuk membersihkan luka yang mengalami infeksi.Cairan asam asetat juga dianggap mampu mendukung dan mempercepat proses penyembuhan luka. Pasalnya, cairan ini dapat menurunkan pH pada luka sehingga patogen seperti bakteri tidak dapat berkembang.Tetapi ada satu hal yang perlu Anda ingat. Pemberian asam asetat pada luka mungkin menyebabkan sensasi menyengat.
  • Hidrogen peroksida

Hidrogen peroksida dapat menjadi cairan yang efektif untuk membersihkan debu-debu, kotoran, serta jaringan mati di permukaan luka.Cairan pembersih luka ini bisa dimanfaatkan sebagai pembilas awal luka akibat gesekan. Namun hidrogen peroksida tidak boleh dipakai pada luka berukuran besar atau digunakan dalam kurun waktu yang lama.Anda juga sebaiknya menghindari pemakaian hidrogen peroksida untuk membersihkan luka pada area sinus.Setelah penggunaan hidrogen peroksida sebagai pembersih luka awal, pemakaian air saline disarankan untuk langkah pembersih selanjutnya. Dengan ini, proses pembersihan akan lebih efektif.Mirip dengan povidone iodine, cairan yang sering disebut obat merah ini juga memiliki kemungkinan memperlambat proses penyembuhan luka.

Kapan cairan pembersih luka diperlukan?

Sebagian besar cairan pembersih luka mudah didapat di apotek-apotek terdekat dan harus digunakan. Pasalnya, cairan ini merupakan bahan pertama untuk menangani luka.Kebanyakan luka perlu dibilas dari kotoran dan bakteri. Dengan ini, proses penyembuhan luka bisa berlangsung lebih efektif dan tidak menimbulkan infeksi di kemudian hari.Meski demikian, tidak semua jenis luka membutuhkan cairan pembersih luka. Penggunaan cairan ini secara mandiri umumnya hanya untuk luka-luka terbuka yang cenderung ringan. Contohnya, luka akibat gesekan, sayatan, atau tusukan yang berukuran kecil dan tidak dalam.Sementara penanganan pada luka yang lebih berat, seperti luka akibat terkoyak, luka bakar, luka yang luas atau dalam, serta luka pada organ-organ penting, sebaiknya dilakukan oleh dokter maupun tenaga profesional. Langkah medis ini akan menjamin agar prosesnya tepat dan tidak menimbulkan efek samping.
penyembuhan luka
DermNet NZ. https://dermnetnz.org/topics/wound-cleansers/
Diakses pada 24 Juli 2020
Marsh Field Clinic. https://www.marshfieldclinic.org/sports-wrap/identifying-infected-wounds
Diakses pada 24 Juli 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5868106/
Diakses pada 24 Juli 2020
Nursing Times. https://www.nursingtimes.net/clinical-archive/tissue-viability/when-is-wound-cleansing-necessary-and-what-solution-should-be-used-20-08-2018/
Diakses pada 24 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait