Kenali Jenis dan Fungsi Cairan Infus untuk Pasien di Rumah Sakit

Jenis cairan infus yang diberikan berfungsi sebagai cairan pemeliharaan atau cairan resusitasi saat pasien kritis
Infus diberikan oleh petugas rumah sakit kepada pasien yang kehilangan cairan dan zat-zat makanan dalam tubuh

Infus adalah perawatan medis yang dilakukan dengan memberikan cairan dan obat langsung melalui pembuluh darah. Jenis cairan infus yang diberikan dapat berfungsi sebagai cairan pemeliharaan atau pun cairan resusitasi saat pasien kritis.

Umumnya, cairan infus diberikan oleh petugas rumah sakit kepada pasien yang kehilangan cairan dan zat-zat makanan dalam tubuh. Perawatan medis ini dilakukan dengan cara mengaliri tubuh melalui selang dan jarum infus ke dalam pembuluh darah.

Apa tujuan pemberian cairan infus?

Cairan infus untuk perawatan medis biasanya terdiri dari air yang mengandung elektrolit, gula, atau obat-obatan tertentu tergantung pada kondisi pasien. Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang membutuhkan cairan infus, termasuk:

  • Mengalami kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) akibat sakit atau melakukan aktivitas secara berlebihan.
  • Pengobatan yang disebabkan oleh infeksi menggunakan antibiotik
  • Mengendalikan rasa nyeri menggunakan jenis obat-obatan tertentu
  • Pengobatan kemoterapi

Berbagai jenis cairan infus beserta manfaatnya

Ada berbagai jenis cairan infus yang dapat digunakan oleh pasien saat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Jumlah dan jenis cairan infus yang diberikan akan bergantung pada kondisi pasien, ketersediaan cairan, tujuan pemberian cairan infus, ukuran tubuh, dan usia.

Cairan infus yang umum digunakan terbagi menjadi dua jenis, yaitu cairan infus kristaloid dan koloid.

1. Cairan infus kristaloid

Kristaloid adalah jenis cairan infus yang paling banyak digunakan dalam perawatan medis. Cairan kristaloid mengandung natrium klorida, natrium glukonat, natrium asetat, dan magnesium klorida.

Cairan kristaloid memiliki partikel-partikel kecil yang mudah berpindah dari aliran darah ke dalam sel-sel dan jaringan tubuh.

Jenis cairan infus ini biasanya digunakan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, menyeimbangkan pH, menghidrasi tubuh yang kekurangan cairan, hingga sebagai cairan resusitasi untuk menyelamatkan nyawa. Cairan infus kristaloid memiliki berbagai jenis, di antaranya:

  • Cairan infus saline

Cairan saline adalah jenis cairan infus kristaloid yang paling banyak digunakan dalam perawatan medis. Cairan saline ada yang mengandung natrium klorida 0.9 persen dan natrium klorida 0.45 persen yang larut dalam air.

Jenis cairan saline dengan natrium klorida 0.9% bertujuan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat muntah, diare, perdarahan, asidosis metabolik, dan syok. Selain itu, cairan saline juga berfungsi mengembalikan keseimbangan elektrolit, dan sebagai cairan resusitasi.

Bagi pasien dengan gangguan jantung dan penyakit ginjal tidak disarankan menggunakan cairan infus saline 0.9% persen. Pasalnya kandungan natrium di dalamnya dapat menyebabkan retensi cairan atau volume cairan berlebih.

Sementara, cairan saline natrium klorida 0.45 persen diberikan bagi pasien dengan kondisi hipernatremia (gangguan elektrolit) dan ketoasidosis diabetik.

Cairan saline natrium klorida 0,45 persen bisa menyebabkan kelebihan cairan pada paru-paru (edema paru) dan penurunan kadar elektrolit.

  • Cairan infus ringer laktat

Ringer laktat adalah jenis cairan infus kristaloid yang mengandung natrium klorida, magnesium klorida, kalsium klorida, natrium laktat, dan air.

Selain bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, infus ringer laktat juga diberikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang saat mengalami luka, cedera, atau kondisi lain yang menyebabkan Anda kehilangan darah dengan cepat.

Infus ringer laktat tidak disarankan digunakan bagi orang yang memiliki pH tubuh lebih dari 7.5, memiliki penyakit hati yang tidak dapat melakukan metabolisme lakta, dan kondisi asidosis laktat

  • Dextrose

Dextrose adalah jenis cairan infus yang hanya mengandung gula. Biasanya, dextrose diberikan melalui infus bersamaan dengan jenis obat lainnya guna meningkatkan kadar gula darah pada seseorang yang mengalami hipoglikemia (gula darah rendah).

Cairan infus dextrose juga dapat diberikan pada penderita hiperkalemia atau kondisi di mana kadar kalium dalam tubuh tinggi.

Dextrose tidak dapat diberikan pada orang dengan kondisi medis tertentu. Ini karena dextrose dapat berisiko meningkatkan kadar gula darah serta penumpukan cairan di dalam paru-paru.

2. Cairan infus koloid

Selain kristaloid, jenis cairan infus lainnya adalah koloid. Cairan koloid memiliki molekul yang lebih berat sehingga akan berada di dalam pembuluh darah dalam waktu yang lama sebelum menyebar ke area tubuh.

Cairan koloid diberikan pada pasien yang menderita sakit kritis, pasien bedah, pasien yang membutuhkan transfusi darah, serta pasien yang melakukan terapi penyakit ginjal baik menggunakan mesin dialisis atau tidak.

Ada pun koloid memiliki tiga jenis cairan lainnya, yaitu:

  • Albumin

Cairan infus albumin biasanya diberikan bagi pasien yang mengalami kehilangan banyak darah akibat kecelakaan, luka bakar yang parah, dan kondisi lainnya.

Albumin juga diberikan bagi pasien yang memiliki kadar albumin rendah akibat melakukan tindakan pembedahan dan dialisis atau mengalami infeksi perut, gagal ginjal, pankreatitis, operasi bypass jantung, serta gangguan pada ovarium yang disebabkan oleh obat kesuburan.

  • Dextran

Dextran adalah jenis cairan koloid yang mengandung polimer glukosa. Dextran dapat digunakan untuk memulihkan kondisi kehilangan darah setelah operasi dan gejala hipovolemia akibat dehidrasi, serta mencegah terjadinya tromboemboli setelah operasi.

  • Gelatin

Gelatin adalah jenis cairan koloid yang mengandung protein hewani. Jenis cairan ini diberikan apabila pasien kehilangan banyak darah hingga gejala hipovolemia berangsur membaik.

Efek samping cairan infus

Semua obat tentunya dapat menyebabkan efek samping. Hubungi dokter Anda atau minta bantuan medis jika Anda menemukan efek samping yang mengganggu atau tidak hilang seperti berikut:

  • Iritasi pada titik suntik
  • Bengkak pada titik suntik
  • Nyeri pada area bekas suntik

Cairan infus tidak boleh diberikan secara sembarangan. Penggunaannya pun harus berada di  bawah pengawasan dokter. Maka dari itu, pemilihan jenis cairan infus perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter Anda.

Healthline. https://www.healthline.com/health/intravenous-fluid-regulation

Diakses pada 3 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/dextrose#common-preparations

Diakses pada 3 Februari 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/albumin-human.html

Diakses pada 3 Februari 2020

National Cancer Institute. https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-drug/def/balanced-crystalloid-solution

Diakses pada 3 Februari 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537326/

Diakses pada 3 Februari 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4901826/

Diakses pada 3 Februari 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20953964

Diakses pada 3 Februari 2020

World Health Organization. https://apps.who.int/medicinedocs/en/d/Jh2929e/9.2.html

Diakses pada 3 Februari 2020

Nurse Plus Academy. https://nurse.plus/become-a-nurse/4-most-commonly-used-iv-fluids/

Diakses pada 3 Februari 2020

Amboss. https://www.amboss.com/us/knowledge/Intravenous_fluid_therapy

Diakses pada 3 Februari 2020

Drugs. https://www.drugs.com/cdi/intravenous-iv-fluids.html

Diakses pada 24 Maret 2020

Artikel Terkait