Sederet Jenis Antibiotik untuk Tipes yang Dianjurkan oleh Dokter

Antibiotik untuk tipes harus diresepkan oleh dokter
Penanganan tipes butuh antibiotik dari dokter

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Di Indonesia, penyakit ini lebih dikenal dengan istilah tipes.

Antibiotik menjadi satu-satunya obat yang efektif untuk menangani demam tifoid. Apa saja jenis-jenis antibiotik untuk tipes yang direkomendasikan oleh dokter?

Sekilas tentang tipes

Tipes atau demam tifoid adalah infeksi bakteri serius yang mudah menyebar. Misalnya, melalui air dan makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri penyebabnya.

Anak-anak hingga orang dewasa dapat mengalami tipes. Namun penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak dan umum terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Gejala tipes biasanya meliputi demam tinggi, sakit perut, dan ruam pada kulit. Jika tak ditangani dengan baik, tipes dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Mulai dari perdarahan hingga robekan pada organ pencernaan.

Oleh sebab itu, penanganan dengan antibiotik untuk tipes harus dilakukan secepatnya oleh dokter.

Jenis-jenis antibiotik untuk tipes

Infeksi bakteri seperti tipes dapat ditangani dengan pemberian antibiotik. Antibiotik adalah obat yang berfungsi untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan bakteri.

Karena itu, antibiotik tidak bisa digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Misalnya, pilek dan flu.  

Antibiotik untuk tipes harus diresepkan oleh dokter agar sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Beberapa jenis antibiotik yang biasa diberikan meliputi:

  • Ciprofloxacin

Termasuk dalam antibiotik golongan fluoroquinolone, ciprofloxacin tersedia dalam bentuk tablet hingga suntik. Obat ini tidak boleh diberikan pada anak-anak berusia di bawah 18 tahun, kecuali mereka memiliki infeksi yang tidak mempan diobati dengan antibiotik lainnya.

Ciprofloxacin dapat berinteraksi dengan beberapa obat lainnya, seperti antasida atau sediaan obat yang mengandung zat besi atau zinc. Jadi, perlu jeda waktu di antara konsumsi ciprofloxacin dan obat-obatan tersebut.

Jika Anda tidak mengonsumsi obat-obatan lain atau tidak memiliki kondisi medis lain yang serius, efek samping ciprofloxacin biasanya meliputi diare, mual, muntah, dan ruam.

Meski jarang, ciprofloxacin juga bisa menyebabkan efek samping yang serius. Contohnya, ganguan pada tendon, masalah saraf, perubahan suasana hati atau perilaku yang serius, atau kondisi gula darah rendah. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami hal-hal ini.

  • Azithromycin

Antibiotik untuk tipes berikutnya adalah azithromycin. Obat ini bisa diresepkan oleh dokter bila bakteri tidak lagi mempan dengan ciprofloxacin.

Anda tidak boleh menggunakan azithromycin jika memiliki alergi terhadap obat ini, pernah terkena penyakit kuning, atau mengalami gangguan hati karena penggunaan azithromycin.

Apabila Anda juga menggunakan obat antasida yang mengandung aluminum atau magnesium, tunggu setidaknya dua jam sebelum atau sesudahnya untuk mengonsumsi azithromycin.

Diare, mual, muntah, sakit perut, dan sakit kepala merupakan efek samping dari azithromycin. Sementara reaksi alergi akibat obat ini bisa menimbulkan gejala berupa gatal-gatal, sulit bernapas, bengkak pada wajah dan tenggorokan, serta ruam. Segeralah cari bantuan medis jika Anda merasa mengalami alergi obat.

  • Ceftriaxone

Ceftriaxone dapat diberikan pada anak-anak maupun dewasa. Namun beri tahu dokter jika Anda atau anak Anda memiliki kadar gula darah tinggi. Kenapa?

Pasalnya, beberapa produk ceftriaxone mengandung gula. Jenis antibiotik untuk tipes ini juga tidak boleh diberikan pada bayi baru lahir dengan kadar bilirubin tinggi.

Obat-obatan lain yang dapat berinteraksi dengan ceftriaxone adalah vitamin dan produk-produk herbal. Karena itu, informasikan pada dokter jika Anda rutin mengonsumsi suplemen maupun obat herbal tertentu.

Efek samping ceftriaxone bisa berupa feses yang kering dan hitam, sakit dada, menggigil, batuk, demam, buang air kecil terasa sakit, sesak napas, dan sakit tenggorokan. Sebagian besar efek samping ini biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus, dan akan hilang seiring tubuh yang menyesuaikan diri dengan obat.

Penanganan tipes umumnya bisa dilakukan di rumah, dengan pemberian antibiotik selama minimal 7-14 hari. Gejala biasanya akan membaik dalam 2-3 hari setelah mengonsumsi antibiotik.

Namun jangan langsung menghentikan pengobatan antibiotik meski Anda sudah merasa baikan. Berhenti mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter bisa membuat bakteri resistan terhadap antibiotik di kemudian hari. Bila resistansi antibiotik terjadi, Anda akan membutuhkan jenis antibiotik yang lebih keras untuk mengatasi infeksi bakteri tersebut.

Sambil Anda mengonsumsi antibiotik untuk tipes, ada pula beberapa langkah lain yang bisa Anda lakukan agar pemulihan berjalan lancar. Apa sajakah itu?

Langkah penyembuhan tipes

Selama pengobatan, pastikan Anda menerapkan hal-hal berikut agar pemulihan bisa berjalan dengan lebih cepat:

  • Istirahat yang cukup.
  • Minum banyak cairan, misalnya air putih atau sup.
  • Makan dengan porsi lebih sedikit, namun lebih sering. Contohnya, setengah porsi normal Anda, tapi lima kali sehari.
  • Utamakan makanan dengan tekstur lunak.
  • Rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir supaya penularan bisa dicegah.

Apabila Anda mengalami gejala tipes yang parah (seperti muntah terus-menerus, diare parah, atau perut menjadi membesar), Anda perlu dirawat di rumah sakit. Pasien tipes anak-anak juga sebaiknya ditangani di rumah sakit agar asupan cairan tubuhnya terjaga.

Sekali lagi, harap diingat bahwa antibiotik untuk tipes hanya boleh digunakan atas resep dokter. Langkah ini akan memastikan bahwa jenis dan dosis obat tersebut cocok dengan kondisi yang Anda alami.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/156859.php
Diakses pada 16 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever/diagnosis-treatment/drc-20378665?_escaped_fragment_=&p=1
Diakses pada 16 Desember 2019

Drugs. https://www.drugs.com/tips/ciprofloxacin-patient-tips
Diakses pada 16 Desember 2019

Drugs. https://www.drugs.com/ciprofloxacin.html
Diakses pada 16 Desember 2019

Drugs. https://www.drugs.com/azithromycin.html
Diakses pada 16 Desember 2019

Drugs. https://www.drugs.com/cdi/ceftriaxone.html
Diakses pada 10 Desember 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/typhoid-fever/treatment/
Diakses pada 16 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed