Jengkol untuk Ibu Hamil, Haruskah Konsumsinya Dibatasi?

Jengkol untuk ibu hamil boleh saja dikonsumsi asalkan sesuai batasan
Jengkol balado, salah satu makanan yang disukai oleh masyarakat Indonesia

Selama sekitar 9 bulan mengandung, ibu hamil harus memastikan asupan nutrisi untuk janinnya tercukupi. Namun bukan berarti Anda menjadi serba khawatir dan takut mencoba makanan baru, termasuk jengkol untuk ibu hamil yang sah-sah saja dikonsumsi. Hanya saja, sebisa mungkin konsumsi dalam jumlah wajar.

Jengkol atau Archidendron pauciflorum sudah akrab dikonsumsi masyarakat Indonesia baik sebagai lalapan atau gulai. Banyak anggapan miring seputar jengkol karena aromanya yang menyengat. Padahal jika diolah dengan tepat, bau jengkol bisa hilang.

Bolehkah jengkol untuk ibu hamil?

Seperti halnya tidak ada makanan penyebab keguguran, jengkol untuk ibu hamil juga boleh saja dikonsumsi. Bagi pecinta jengkol, hamil bukan berarti benar-benar harus melupakan makanan favorit mereka. 

Meski demikian, apapun yang dikonsumsi berlebihan tentu tidak disarankan, termasuk ketika berurusan dengan jengkol untuk ibu hamil.

Jengkol mengandung asam amino yang disebut djenkolic acid atau asam jengkolat. Ini adalah asam amino yang setelah proses pencernaan rampung akan dibuang ke ginjal.

Jika dikonsumsi berlebihan, akibatnya tentu saja asam amino dengan kandungan atom belerang ini bisa mengendap di ginjal. Bentuknya seperti kristal yang tidak mudah larut. Jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, hal ini bisa menyebabkan gagal ginjal.

Bahkan sebelum terjadi gagal ginjal, tentu kebiasaan mengonsumsi jengkol untuk ibu hamil berlebihan akan menimbulkan gejala yang tidak nyaman seperti nyeri saat buang air kecil. Padahal, masalah seputar buang air kecil seperti ISK pada ibu hamil kerap terjadi, bahkan berulang.

Pada kasus ekstrem, bisa juga terjadi keracunan asam jengkolat.

Berapa batas konsumsi jengkol yang wajar?

Bagi ibu hamil dengan riwayat medis gangguan ginjal, sebaiknya membatasi konsumsi jengkol jangan terlalu sering dan jangan terlalu banyak. Ingat bahwa dalam tiap jengkol, 1-2% di dalamnya adalah asam jengkolat yang tidak larut dicerna.

Sementara bagi ibu hamil yang tidak memiliki riwayat masalah dengan jengkol atau ginjal, 1-3 keping saja sudah cukup. Sebaiknya jangan mengonsumsi setiap hari dan ganti dengan makanan bernutrisi lain yang lebih bermanfaat bagi ibu hamil dan janin.

Apa manfaat jengkol untuk tubuh?

Jengkol mengandung banyak nutrisi, mulai dari antioksidan, protein, vitamin dan mineral, serta senyawa flavonoid. Itulah mengapa ketika dikonsumsi, jengkol bisa mengurangi kadar gula darah agar tetap berada di batas normal.

Sebagai salah satu sumber kalori, jengkol juga bisa meningkatkan produksi sel darah merah. Adanya fosfor dan kalsium dalam jengkol juga membantu proses pembentukan tulang serta gigi bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Untuk memperjelas apa saja manfaat jengkol untuk ibu hamil, berikut penjabarannya:

  • Mencegah konstipasi

Di antara keluhan ibu hamil, konstipasi atau sembelit termasuk salah satu yang kerap dialami. Mengonsumsi jengkol secukupnya sekitar 1-2 keping bisa melancarkan buang air besar karena kandungan serat di dalamnya. Namun tentu saja, konsumsi jengkol tetap harus dibarengi dengan konsumsi sayuran dan protein lain.

  • Cegah anemia

Kandungan zat besi dalam jengkol sekitar 4,7 gram di setiap 100 gram sajiannya. Artinya, jengkol untuk ibu hamil bisa mencegah terjadinya kekurangan zat besi hingga anemia.

  • Sumber antioksidan

Jengkol adalah sumber antioksidan bermanfaat bagi ibu hamil dan janin dalam kandungannya. Terlebih bagi ibu hamil yang kerap terpapar zat radikal bebas, jengkol bisa menjadi salah satu sumber antioksidan yang lezat.

Terlepas dari manfaat jengkol, ingat bahwa ada risiko masalah pada ginjal jika dikonsumsi berlebihan. Ibu hamil perlu mempertimbangkan kesehatan dan asupan nutrisinya. Tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga pada si buah hati yang sedang bertumbuh dalam rahimnya.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21744354
Diakses 25 Februari 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3998865/
Diakses 25 Februari 2020

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/262021419_Djenkolism_Case_report_and_literature_review
Diakses 25 Februari 2020

Artikel Terkait