Gangguan sistem saraf pusat dapat memicu terjadinya kesemutan di kepala
Kesemutan di kepala biasanya terkait dengan gangguan sistem saraf pusat

Pernahkah Anda merasakan kesemutan di kepala? Sensasi yang terasa seperti ditusuk jarum hingga kebas.

Umumnya, kesemutan di kepala ini jarang terjadi. Namun bagi sebagian orang, kesemutan seakan tak pernah pergi.

[[artikel-terkait]]

Mengapa kesemutan di kepala terjadi?

Parestesia atau kesemutan bisa terjadi karena banyak hal. Umumnya, Anda akan merasa kebas atau kesemutan di bagian tubuh tertentu apabila tertindih terlalu lama. Akibatnya, darah tidak bisa mengalir ke area tersebut.

Saat kesemutan di kepala terjadi, area manapun bisa merasakannya. Mulai dari atas kepala, kulit kepala, belakang kepala, hingga leher.

Biasanya, kesemutan di kepala ini ada hubungannya dengan gangguan pada sistem saraf pusat. Berikut ini beberapa penyebab kesemutan di kepala:

  • Stres dan cemas

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa kesemutan di kepala adalah sinyal awal stres dan kecemasan berlebih. Ketika stres, otot dan saraf akan menjadi tegang dan menyebabkan kesemutan hingga kebas.

Stres juga berpengaruh ke area kulit kepala yang sangat sensitif. Akan muncul rasa panas dan kesemutan di kulit kepala. Jika dibiarkan, bisa menyebabkan dermatitis di kulit kepala.

  • Migrain

Sakit kepala sebelah ini juga bisa menyebabkan kesemutan di kepala. Untuk kasus migrain yang parah, penderitanya akan merasakan gangguan pendengaran hingga berbicara.

  • Diabetes

Jika dibiarkan, gangguan metabolisme tubuh akibat gula darah tinggi ini bisa menyebabkan kerusakan saraf. Terutama pada lansia, mereka lebih rentan merasakan kesemutan di kepala dan wajah.

  • Cedera kepala

Cedera apapun yang terjadi di kepala bisa saja merusak saraf di dalam otak. Akibatnya bisa berupa kesemutan, kebas, hingga kelumpuhan pada otot wajah.

  • Sinusitis

Infeksi sinus juga bisa menambah tekanan pada kepala dan menyebabkan kesemutan. Belum lagi adanya radang di dahi, hidung, dan di antara mata dan berdampak pada saraf trigeminus, saraf terbesar di kepala.

  • Lyme disease

Penyakit Lyme yang ditularkan lewat perantara kutu juga bisa menyebabkan kesemutan di kepala. Biasanya, ciri-ciri lainnya adalah munculnya ruam kemerahan. Penderitanya harus mengonsumsi antibiotik untuk sembuh. Penyakit ini sangat jarang terjadi di daerah Asia.

  • Stroke

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu. Penelitian dari Journal of the American Heart Association menyebutkan bahwa kesemutan di kepala merupakan salah satu indikasi stroke.

  • Sklerosis ganda

Penyakit progresif yang terkait dengan kekebalan tubuh ini juga berdampak pada sistem saraf pusat. Salah satu gejelanya adalah rasa kesemutan di kepala, leher, dan bagian kepala lainnya.

  • Penyakit autoimun

Ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang jaringan tubuhnya sendiri, terkadang bisa berpengaruh pada saraf di otak. Contohnya adalah penyakit lupus, sindrom Gullain-Barre, sindrom Sjogren, fibromialgia, dan lainnya.

Cluster saraf di otak

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa rasa kebas atau kesemutan di kepala terjadi karena banyak faktor risiko. Sebagian besar berdampak pada saraf di sekitar kepala.

Ada beberapa cluster saraf utama yang menghubungkan otak dengan bagian-bagian di kepala dan wajah manusia. Ketika saraf mengalami peradangan, tekanan, atau cedera, kesemutan bisa terjadi.

Jika terjadi terus-menerus, jangan sepelekan kesemutan di kepala. Periksakan diri ke dokter untuk tahu penyebab pastinya. Lewat diagnosis dokter, Anda bisa menjalani pengobatan yang tepat.

Artikel Terkait

Banner Telemed