Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif biasanya jarang BAB karena ASI terserap secara sempurna
Frekuensi BAB bayi yang minum ASI eksklusif memang tidak terlalu sering

Frekuensi bayi buang air kecil atau buang air besar tentu jadi indikator apakah tubuhnya bertumbuh dengan baik. Meski demikian, jangan heran jika bayi ASI jarang BAB. Selama kenaikan berat badannya normal, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Perlu dibedakan pula bahwa bayi ASI jarang BAB berbeda dengan konstipasi. Meskipun jarang BAB, biasanya bayi yang diberi ASI eksklusif masih mengeluarkan kotoran dengan tekstur dan konsistensi lembut. Sementara pada masalah konstipasi, yang terjadi adalah sebaliknya.

Mengapa bayi ASI jarang BAB?

Pada momen-momen awal kehidupannya, biasanya pergerakan saluran cerna bayi cukup aktif. Namun setelah sebulan atau dua bulan, bayi ASI jarang BAB namun tidak berarti mengalami konstipasi.

Hal ini diyakini karena ASI bisa dicerna sepenuhnya sehingga tidak banyak zat sisa yang perlu dibuang. Kondisi ini berlangsung selama beberapa bulan selama bayi masih mendapatkan ASI eksklusif.

Ketika menginjak usia 6 bulan atau saat mulai MPASI dini, siklus BAB akan berubah. Bayi akan lebih sering BAB dengan tekstur dan konsistensi yang lebih padat.

Artinya, orangtua tak perlu khawatir jika bayi ASI jarang BAB. Kondisi yang perlu perhatian adalah jika:

  • Bayi baru lahir jarang BAB di hari-hari awalnya, bisa jadi tanda kekurangan asupan ASI
  • Kenaikan berat badan bayi tidak signifikan bahkan mengalami penurunan
  • Bayi terlambat mengeluarkan mekonium di hari awal usianya, bisa jadi tanda penyakit langka Hirschsprung

Frekuensi ideal bayi BAB

Tidak mudah menentukan frekuensi ideal bayi BAB setiap harinya. Bahkan bayi yang sama-sama mendapatkan ASI eksklusif dengan usia yang sama sekalipun bisa memiliki pola yang berbeda.

Baik itu frekuensi BAB hanya sekali dalam beberapa hari atau sebaliknya beberapa kali dalam sehari, semuanya normal.

Pada usia beberapa hari awal kelahiran bayi, biasanya frekuensi BAB masih sering. Seiring dengan bertambahnya usia bayi, proses cerna menjadi lebih pelan. Pada usia bulan kedua, frekuensi BAB bisa terjadi tidak setiap hari.

Lebih detilnya sebagai berikut:

  • Hari 1-4

Bayi akan BAB sekali sehari, warnanya berubah dari hitam menjadi coklat dengan tekstur lebih lembut.

  • Hari 5-30

Bayi akan BAB dengan frekuensi 3-8 kali per hari. Warnanya bervariasi antara kehijauan, kecokelatan, dan perlahan menjadi kekuningan.

  • Bulan 1-6

Pencernaan bayi semakin baik dalam menyerap ASI sehingga frekuensi BAB bisa jadi hanya sekali dalam rentang waktu beberapa hari.

  • Bulan 6 dan seterusnya

Setelah bayi mulai mengenal MPASI, frekuensi BAB menjadi lebih sering. Sistem pencernaan bayi sedang beradaptasi mengenal jenis makanan baru yang dikonsumsinya.

Bahkan hasil penelitian dari Dr. Israel Gordon pada tahun 1951 lalu menyatakan ada bayi yang dalam sehari BAB sebanyak 8 kali dan ada yang tidak BAB sama sekali selama rentang waktu 27 hari.

Dari hasil penelitian itu, semua bayi dinyatakan sehat dan tidak ada masalah klinis terkait pencernaan mereka. Namun ketika anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, frekuensi BAB biasanya bertambah.

Mengenali konstipasi pada bayi

Bayi ASI jarang BAB tidak berarti konstipasi. Tak perlu khawatir karena meskipun bayi tidak BAB selama beberapa hari, bukan berarti ada tumpukan feses di saluran cernanya. Mungkin jika anak terlihat tidak nyaman, ada hal lain yang menjadi pemicunya.

Memasuki usia 6 bulan ketika bayi mulai mengonsumsi MPASI, konstipasi bisa terjadi namun bisa diatasi dengan mudah. Beberapa cara mengatasi konstipasi pada bayi di antaranya:

  • Memberi pijatan dengan gerakan ILU pada perut bayi
  • Mandi air hangat
  • Memberikan olahan jus pear atau buah pear 
  • Jika bayi alergi laktosa, beri alternatif susu lain seperti almond atau kedelai

Perlu diingat untuk tidak memberikan air putih untuk bayi berusia di bawah 6 bulan atau yang belum mulai MPASI. Memang dehidrasi bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya konstipasi, tapi bukan memberi air putih solusinya.

Anda cukup memberikan ASI atau susu formula mengandung sodium, potasium, dan substansi lainnya yang diperlukan bayi. Ketika bayi diberi air putih saat usianya belum cukup, elektrolit dalam tubuhnya dapat terganggu. Dikhawatirkan hal ini dapat mengganggu fungsi ginjal bayi. Risiko infeksi juga dapat terjadi karena pemberian air putih.

Artinya, tak perlu khawatir jika bayi ASI jarang BAB hingga beberapa hari. Selama bayi tidak menunjukkan gejala apapun, seperti rewel atau sering buang gas, teratur menyusu, berat badan bertambah dengan baik, maka frekuensi BAB bukan masalah berarti.

Healthline. https://www.healthline.com/health/constipation-in-breastfeeding-baby#typical-poop-schedule
Diakses 8 November 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3397847
Diakses 8 November 2019

Science of Mom. https://scienceofmom.com/2015/07/16/how-often-should-a-baby-poop-and-other-important-questions/
Diakses 8 November 2019

Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/breastfeeding-and-constipation-2634470
Diakses 8 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed