Kenali Penyebab Bayi Tidak BAB, Apakah Mengalami Konstipasi?


Bayi tidak BAB dalam beberapa hari atau susah BAB bukan berarti mengalami konstipasi. Kenali penyebab bayi ASI tidak BAB dan apa itu konstipasi pada bayi berikut.

(0)
12 Nov 2019|Azelia Trifiana
Bayi tidak BAB adalah wajar dan belum tentu konstipasiFrekuensi BAB bayi yang minum ASI eksklusif memang tidak terlalu sering
Bayi tidak BAB beberapa hari adalah hal wajar yang biasa terjadi pada anak yang masih mengonsumsi ASI. Keadaan ini memang bisa disebut konstipasi ketika memenuhi gejala tertentu. Berikut ulasan lengkapnya.Frekuensi bayi buang air kecil atau buang air besar memang bisa jadi indikator apakah tubuhnya bertumbuh dengan baik. Meski demikian, jangan heran jika bayi ASI jarang BAB. Selama kenaikan berat badannya normal, tak ada yang perlu dikhawatirkan.Perlu dibedakan pula bahwa bayi tidak BAB berbeda dengan konstipasi. Meskipun jarang BAB, biasanya bayi yang diberi ASI eksklusif masih mengeluarkan kotoran dengan tekstur dan konsistensi lembut. Sementara pada masalah konstipasi, yang terjadi adalah sebaliknya.

Penyebab bayi tidak BAB atau jarang buang air besar

Pada momen-momen awal kehidupannya, biasanya pergerakan saluran cerna bayi cukup aktif. Namun setelah sebulan atau dua bulan, bayi ASI jarang BAB namun tidak berarti mengalami konstipasi.Hal ini diyakini karena ASI bisa dicerna sepenuhnya sehingga tidak banyak zat sisa yang perlu dibuang. Kondisi ini berlangsung selama beberapa bulan selama bayi masih mendapatkan ASI eksklusif.Ketika menginjak usia 6 bulan atau saat mulai MPASI dini, siklus BAB akan berubah. Bayi akan lebih sering BAB dengan tekstur dan konsistensi yang lebih padat.Artinya, orangtua tak perlu khawatir jika bayi tidak BAB dalam beberapa hari. Kondisi yang perlu perhatian adalah jika:
  • Bayi baru lahir jarang BAB di hari-hari awalnya, bisa jadi tanda kekurangan asupan ASI
  • Kenaikan berat badan bayi tidak signifikan bahkan mengalami penurunan
  • Bayi terlambat mengeluarkan mekonium di hari awal usianya, bisa jadi tanda penyakit langka Hirschsprung

Frekuensi buang air yang ideal pada bayi

Tidak mudah menentukan frekuensi ideal bayi BAB setiap harinya. Bahkan bayi yang sama-sama mendapatkan ASI eksklusif dengan usia yang sama sekalipun bisa memiliki pola yang berbeda.Baik itu frekuensi BAB hanya sekali dalam beberapa hari atau sebaliknya beberapa kali dalam sehari, semuanya normal.Pada usia beberapa hari awal kelahiran bayi, biasanya frekuensi BAB masih sering. Seiring dengan bertambahnya usia bayi, proses cerna menjadi lebih pelan. Pada usia bulan kedua, barulah bayi mulai tidak sering BAB. Dikutip dari penelitian dalam National Library of Medicine, lebih detilnya sebagai berikut:
  • Hari 1-4

Bayi akan BAB sekali sehari, warnanya berubah dari hitam menjadi coklat dengan tekstur lebih lembut.
  • Hari 5-30

Bayi akan BAB dengan frekuensi 3-8 kali per hari. Warnanya bervariasi antara kehijauan, kecokelatan, dan perlahan menjadi kekuningan.
  • Bulan 1-6

Pencernaan bayi semakin baik dalam menyerap ASI sehingga frekuensi BAB bisa jadi hanya sekali dalam rentang waktu beberapa hari.
  • Bulan 6 dan seterusnya

Setelah bayi mulai mengenal MPASI, frekuensi BAB menjadi lebih sering. Sistem pencernaan bayi sedang beradaptasi mengenal jenis makanan baru yang dikonsumsinya.Bahkan hasil penelitian dari Dr. Israel Gordon pada tahun 1951 lalu menyatakan ada bayi yang dalam sehari BAB sebanyak 8 kali dan ada yang tidak BAB sama sekali selama rentang waktu 27 hari.Dari hasil penelitian itu, semua bayi dinyatakan sehat dan tidak ada masalah klinis terkait pencernaan mereka. Namun ketika anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, frekuensi BAB biasanya bertambah.

Mengenali konstipasi pada bayi

Bayi ASI jarang BAB tidak berarti konstipasi. Tak perlu khawatir karena meskipun bayi tidak BAB selama beberapa hari, bukan berarti ada tumpukan feses di saluran cernanya. Mungkin jika anak terlihat tidak nyaman, ada hal lain yang menjadi pemicunya.Bayi dapat dikatakan konstipasi jika mengalami gejala sulit BAB dalam satu bulan, yakni tanda atau gejalanya adalah seperti berikut:
  • buang air besar kurang dari 2 kali dalam seminggu
  • tinja bayi keras dan kering 
  • perut bayi akan terasa lebih keras saat disentuh
  • tampak tidak ingin menyusu
  • tinja berukuran besar hingga bisa mengeluarkan darah saat BAB
Memasuki usia 6 bulan ketika bayi mulai mengonsumsi MPASI, konstipasi bisa terjadi namun bisa diatasi dengan mudah. Beberapa cara mengatasi konstipasi pada bayi di antaranya:
  • Memberi pijatan dengan gerakan ILU pada perut bayi
  • Mandi air hangat
  • Memberikan olahan jus pear atau buah pear 
  • Jika bayi alergi laktosa, beri alternatif susu lain seperti almond atau kedelai
Perlu diingat untuk tidak memberikan air putih untuk bayi berusia di bawah 6 bulan atau yang belum mulai MPASI. Memang dehidrasi bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya konstipasi, tapi bukan memberi air putih solusinya.Anda cukup memberikan ASI atau susu formula mengandung sodium, potasium, dan substansi lainnya yang diperlukan bayi. Ketika bayi diberi air putih saat usianya belum cukup, elektrolit dalam tubuhnya dapat terganggu. Dikhawatirkan hal ini dapat mengganggu fungsi ginjal bayi. Risiko infeksi juga dapat terjadi karena pemberian air putih.Artinya, tak perlu khawatir jika bayi ASI jarang BAB hingga beberapa hari. Selama bayi tidak menunjukkan gejala apapun, seperti rewel atau sering buang gas, teratur menyusu, berat badan bertambah dengan baik, maka frekuensi buang air besar bukan masalah berarti.

Cara mengatasi bayi tidak BAB

Jika bayi tidak BAB selama beberapa hari namun tanda yang ditunjukan tidak seperti konstipasi, maka untuk memperlancar BAB pada bayi, melakukan beberapa hal ini akan membantu:

1. Ganti asupan susu

Bayi yang mengonsumsi ASI umumnya akan jarang mengalami masalah BAB atau sembelit. Namun, jika bayi Anda mengalaminya, cobalah untuk mengganti asupan ASI dengan susu formula selama beberapa hari dengan turut memperbaiki pola makan Anda. Sembelit yang terjadi mungkin karena usus bayi sensitif terhadap apa yang Anda konsumsi. Jika bayi sedari awal sudah mengonsumsi susu formula maka gantilah merek susu yang dikonsumsi dengan berkonsultasi pada dokter Anak terlebih dahulu.

2. Berikan kombinasi makanan sehat

Saat bayi sudah memasuki waktu MPASI untuk mendapatkan makanan padat, cobalah untuk tidak langsung memberikan makanan padat berat seperi nasi. Sebagai tahap awal, berikan makanan berupa puree atau makanan yang dilumatkan dengan kandungan tinggi serat. Makanan tinggi serat bisa didapatkan dari buah dan sayur hijau seperti bayam, brokoli, wortel hingga pisang untuk memperlancar buang air besar.

3. Lakukan perawatan rutin

Cara melancarkan BAB pada bayi juga bisa dilakukan dengan memberikan perawatan rutin seperti pelatihan fisik, memijat, hingga mandi air hangat. Melatih fisik bayi memungkinkan mereka banyak bergerak sehingga melancarkan pencernaan pada bayi tidak BAB.Anda bisa turut rutin memijat perut bayi dengan lembut selama 3-5 menit untuk menstimulasi kerja usus. Memijat perut bayi sebelum memberi makan juga akan bantu melancarkan pencernaan pada bayi yang susah BAB. Selain itu, mandi air hangat juga bisa jadi solusi melancarkan BAB karena membuat perut rebih rileks hingga mudah mengeluarkan kotoran.

4. Cukupi kebutuhan cairan

Menjamin kebutuan cairan terpenuhi akan membantu menormalkan frekuensi buang air besar pada bayi yang tidak BAB selama berhari-hari. Pastikan Anda memberikan ASI yang cukup. Jika bayi sudah di atas 6 bulan, pemberian air putih dan sayuran hijau bisa bantu penuhi kebutuhan cairan mereka. Namun, sebaiknya orangtua tetap berkonsultasi dengan dokter mengenai pemberian cairan lain selain ASI dan susu formula

Kapan harus ke dokter?

Segera konsultasikan kesehatan bayi Anda dengan dokter apabila gejala-gejala seperti dibawah ini mulai muncul:
  • Bayi terlihat tidak nyaman
  • Bayi menolak untuk makan
  • Bayi mulai demam
  • Bayi muntah
  • Bayi Anda memiliki perut yang terasa keras dan bengkak
Dokter akan memeriksa bayi Anda apabila gejala-gejala tersebut mulai muncul. Rontgen perut juga mungkin perlu dilakukan untuk memeriksa apabila terdapat penyumbatan usus.Orang tua juga wajib membwa bayi ke dokter Anak jika BAB bayi sangat keras, bayi tidak BAB dalam kurun waktu 24 jam dari rutinitas biasanya, hingga tinja berwarna merah darah, putih dan hitam. 
menyusuiasi eksklusifkonstipasibayi sembelitkotoran bayifeses bayisaluran pencernaanbayi baru lahir
Healthline. https://www.healthline.com/health/constipation-in-breastfeeding-baby#typical-poop-schedule
Diakses 8 November 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3397847
Diakses 8 November 2019
Science of Mom. https://scienceofmom.com/2015/07/16/how-often-should-a-baby-poop-and-other-important-questions/
Diakses 8 November 2019
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/breastfeeding-and-constipation-2634470
Diakses 8 November 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/constipation-in-breastfeeding-baby#seeking-help
Diakses 6 Mei 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait