Jangan Asal Cabut, Ini Fungsi Bulu Hidung bagi Tubuh


Meski terkadang terlihat mengganggu, fungsi bulu hidung sangat penting bagi tubuh. Bulu hidung menangkal debu masuk ke sistem pernapasan.

(0)
17 Mar 2021|Azelia Trifiana
Bulu hidung memiliki peran untuk menghalau debu masuk ke sistem pernapasanBulu hidung memiliki peran untuk menghalau debu masuk ke sistem pernapasan
Mungkin ada yang meremehkan keberadaannya, padahal fungsi bulu hidung merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh. Adanya bulu ini membantu menghalau debu, alergen, dan partikel lainnya agar tidak masuk ke dalam paru-paru.Di sisi lain, ada juga orang yang terbiasa mencabut bulu hidung. Apabila berlebihan, ini akan membuat Anda lebih sensitif terhadap alergen di sekitar.

Fungsi bulu hidung

Rambut-rambut halus di hidung merupakan penyaring debu, serbuk sari, dan alergen lainnya agar tidak terhirup serta masuk ke dalam paru-paru. Ketika ada partikel asing masuk ke hidung, mereka akan menempel di lapisan lendir tipis di bulu hidung.Sebagai respons, seseorang akan mengalami batuk atau bersin. Tidak menutup kemungkinan pula, partikel itu tertelan dan hancur bersamaan dengan proses cerna.Di saat yang sama, fungsi bulu hidung ini juga selaras dengan peran rambut berukuran sangat kecil (mikroskopik) bernama cilia. Bulu halus yang terletak di rongga pernapasan ini juga membantu mendorong lendir dan partikel asing lain agar tidak sampai masuk ke paru-paru.Cilia bergerak maju mundur secara konstan untuk mengusir molekul berbahaya yang masuk ke tenggorokan. Bahkan, bulu halus ini bekerja beberapa lama hingga seseorang telah meninggal dunia sekalipun.Itulah yang membuat terkadang, ahli forensik meraba area cilia untuk menentukan secara pasti kapan waktu meninggalnya seseorang.Fungsi bulu hidung tak berhenti sebagai bagian dari pertahanan tubuh saja. mereka juga menjaga udara tetap lembap hingga masuk ke saluran pernapasan. Kelembapan sekitar 40-50% adalah yang paling ideal untuk kulit dan juga sinus.

Bolehkah mencabut bulu hidung?

Terkadang, ada orang yang merasa terganggu ketika bulu hidung tumbuh lebat dan panjang. Padahal, ini adalah konsekuensi yang wajar terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Sama seperti yang terjadi di rambut sekitar telinga dan punggung.Menariknya, para peneliti di Hacettepe University School of Medicine di Turki menemukan korelasi antara lebatnya bulu hidung dengan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, pasien dengan bulu hidung jarang 3 kali lipat lebih rentan mengalami asma.Data ini terkumpul setelah membandingkannya dengan partisipan berdaun hidung lebih lebat.Lebih jauh lagi, kebiasaan mencabut bulu hidung bisa menimbulkan komplikasi seperti:
  • Rambut tumbuh ke dalam

Disebut juga dengan ingrown hair, ini adalah jenis komplikasi yang paling umum terjadi ketika mencukur rambut atau bulu di badan. Kondisi ini bisa terjadi ketika rambut yang sudah tercukur justru tumbuh masuk ke dalam kulit dan tidak bisa keluar dari folikelnya.Utamanya, kondisi ini paling rentan terjadi di tempat yang rambutnya kerap dicukur seperti wajah, ketiak, dan kemaluan. Ciri-cirinya adalah muncul benjolan seperti jerawat, iritasi, disertai dengan rasa gatal dan nyeri.
  • Nasal vestibulitis

Ini adalah infeksi yang terjadi pada bagian hidung yang disebut nasal vestibule, bagian dalam dari hidung yang menonjol di wajah. Umumnya, infeksi ini terjadi ketika infeksi bakteri Staphylococcus masuk ke dalam luka di wajah.Setiap jenis luka – baik yang kecil sekalipun – bisa menjadi pintu masuknya bakteri. Termasuk luka akibat mencabut bulu hidung, tindik hidung, membuang ingus berlebihan, atau cara mengupil yang salah.Gejala yang paling umum muncul adalah kemerahan di dalam dan luar lubang hidung, benjolan seperti jerawat di tempat tumbuhnya bulu hidung, kerak di sekitar bulu hidung, hingga rasa nyeri.
  • Nasal furunculosis

Infeksi cukup dalam pada folikel bulu hidung disebut dengan nasal furunculosis. Kondisi ini paling umum terjadi pada orang yang menderita masalah autoimun. Gejalanya adalah rasa nyeri, bengkak, dan tampak kemerahan.Pada kasus yang lebih langka, kondisi ini bisa mengakibatkan komplikasi serius. Utamanya, apabila infeksi melebar ke pembuluh darah yang berakhir ke otak.
  • Risiko asma

Mencabut terlalu banyak bulu hidung dapat meningkatkan risiko menderita asma. Alasannya karena tidak ada cukup bulu hidung yang bisa mengusir debu dan alergen sebelum masuk ke rongga hidung.Menurut sebuah studi pada tahun 2011, terlihat hubungan antara bulu hidung dan risiko mengalami asma pada orang yang menderita alergi musiman.Partisipan studi sebanyak 233 orang dibagi dalam 3 kelompok. Ada yang tidak memiliki bulu hidung atau sedikit sekali, sedang, dan lebat. Hasilnya, partisipan dengan jumlah bulu hidung paling sedikit berisiko lebih signifikan menderita asma.

Catatan dari SehatQ

Mengingat fungsi bulu hidung sangatlah krusial sebagai tameng dari debu, serbuk sari, dan pemicu alergi lainnya, sebaiknya Anda bijak mencabutnya. Apabila menjadi kebiasaan atau terlalu sering dilakukan, bukan tidak mungkin partikel asing ini justru masuk ke dalam paru-paru.Risiko lainnya adalah terjadi infeksi dan masalah lain di hidung. Ini justru lebih berbahaya karena menyebabkan komplikasi baru.Apabila ingin cara aman mencabut bulu hidung, bisa menggunakan trimmer maupun terapi laser. Pertimbangkan matang-matang sebelum melakukan prosedur pencabutan bulu hidung. Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar kedua opsi itu, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
hidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/plucking-nose-hairs
Diakses pada 2 Maret 2021
International Archives of Allergy and Immunology. https://www.karger.com/Article/Abstract/321912
Diakses pada 2 Maret 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326920
Diakses pada 2 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait