Jagung Manis Hingga Semangka, Ini Makanan Rekayasa Genetika di Sekitar Kita

Jagung merupakan salah satu makanan rekayasa genetika yang membuatnya tetap terasa manis
Jagung GMO atau yang telah direkayasa secara genetik memiliki rasa yang manis dan berair

Pernah dengar istilah makanan GMO atau genetically modified organism? Itu adalah makanan rekayasa genetika, yang bahan bakunya mendapat rekayasa genetik sehingga sifatnya berbeda. Misalnya lebih besar, lebih singkat periode tanam, dan lainnya.

Meski terdengar asing, sebenarnya ada banyak makanan rekayasa genetika di sekitar kita. Selain itu, makanan rekayasa genetika juga aman dikonsumsi terlepas dari hoaks yang pernah beredar bahwa makanan GMO bersifat beracun. Sebelum dijual bebas, makanan rekayasa genetika telah dicek dulu kadar toksisitasnya.

Contoh makanan rekayasa genetika

Setiap makanan rekayasa genetika telah diuji lewat serangkaian tes untuk memastikan keamanannya, sebelum didistribusikan ke masyarakat luas. Beberapa contoh makanan rekayasa genetika yang ada di sekitar kita adalah:

  • Jagung manis

Alasan mengapa jagung manis tetap manis dan berair adalah adanya rekayasa genetika di dalamnya. Baik di Indonesia maupun luar negeri, salah satu jumlah perkebunan dengan rekayasa genetika terbanyak adalah perkebunan jagung.

  • Jambu kristal

Berbeda dengan jambu kebanyakan, jambu kristal adalah makanan rekayasa genetika karena tidak terlalu banyak mengandung biji. Tak hanya itu, adanya rekayasa genetika juga membuat jambu kristal berair dan renyah.

  • Pepaya California

Disebut pepaya California tentu bukan karena buah berwarna oranye ini berasal dari Amerika Serikat, tapi karena termasuk salah satu makanan rekayasa genetika. Nama aslinya adalah pepaya Callina yang kemudian lebih akrab disebut pepaya California.

Pepaya ini merupakan makanan rekayasa genetika karya seorang profesor dari Institut Pertanian Bogor. Berkat rekayasa genetika ini, ada kelebihan seperti rasa pepaya lebih manis dan masa tanamnya singkat sehingga bisa panen lebih cepat.

  • Semangka tanpa biji

Adanya semangka tanpa biji yang berbeda dengan semangka kebanyakan juga merupakan bagian dari rekayasa genetika. Dalam proses menanamnya, bijinya diinduksi dengan persilangan serta zat kolkisin sehingga kromosomnya menjadi 3n. Dengan demikian, bisa dihasilkan semangka tanpa biji hasil rekayasa genetika.

  • Kedelai

Beberapa jenis kedelai yang diimpor dari negara seperti Amerika Serikat juga merupakan hasil rekayasa genetika. Kelebihannya adalah ukuran lebih besar, harga murah, dan selalu tersedia karena masa panennya sering. 

  • Kentang

Demi mendapatkan kentang yang lebih tahan terhadap hama dan jamur, maka dilakukan rekayasa genetika. Opsi ini dinilai jauh lebih baik ketimbang menyemprotkan zat kimia terus menerus ke tanaman kentang. Di luar negeri, perizinan tentang makanan rekayasa genetika sangat ketat.

Baik itu makanan rekayasa genetika dari Indonesia maupun impor dari negara lain, sudah pasti teruji keamanannya melalui serangkaian tes. Jadi, kemungkinan besar aman dikonsumsi sehari-hari.

Amankah mengonsumsi makanan rekayasa genetika?

Sesuai dengan yang disebutkan di atas, setiap makanan rekayasa genetika telah melalui serangkaian tes sehingga aman untuk dikonsumsi manusia. Jadi, tidak perlu khawatir tentang keamanannya. Mutasi genetik yang dilakukan tidak membuat makanan rekayasa genetika menjadi beracun.

Di luar sana, ada banyak sekali hoaks atau berita bohong seputar makanan rekayasa genetika. Ada yang menuding beracun, gizinya berkurang, hingga resisten terhadap antimikroba alami.

Padahal, pemerintah telah menugaskan Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Balai Kliring Keamanan Hayati untuk memastikan setiap makanan rekayasa genetika aman dikonsumsi.

Apabila produk impor atau produksi sendiri tidak lolos serangkaian tes, pemerintah tidak akan memberikan izin untuk dijual. Tes ini pun sangat komprehensif meliputi alergenitas, toksisitas, perubahan nilai gizi, hingga kesepadanan substansial.

Best Food Facts. https://www.bestfoodfacts.org/what-foods-are-gmo/
Diakses 21 Februari 2020

WHO. https://www.who.int/health-topics/food-genetically-modified#tab=tab_1
Diakses 21 Februari 2020

Nature. http://www.nature.com/scitable/topicpage/genetically-modified-organisms-gmos-transgenic-crops-and-732
Diakses 21 Februari 2020

Artikel Terkait