Jadi Perokok Aktif dan Pasif Sama Bahayanya, Bisa Renggut Masa Depan Anak

Perokok aktif dan pasif sama-sama berisiko terkena kanker paru-paru
Perokok aktif dan pasif sama-sama bisa terganggu kesehatannya

Rokok adalah persoalan kronis di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2013, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah perokok laki-laki terbanyak di dunia. Belum lagi, sebanyak 97 juta orang di negara ini sudah terpapar asap rokok. Hal ini menunjukkan, perokok aktif dan pasif masih bertebaran di sekitar kita.

Berlanjut ke lima tahun setelahnya, menurut hasil Riskesdas tahun 2018 justru terjadi peningkatan prevalensi merokok pada penduduk berusia 18 tahun dari 7,2% di tahun 2013, menjadi 9,1% di tahun 2018. Indonesia juga tercatat menyumbangkan angka kematian sebesar 230.000 jiwa setiap tahunnya akibat penggunaan produk tembakau.

Masih banyak angka dan data yang membuktikan betapa bahayanya kebiasaan buruk yang satu ini. Penyuluhan mengenai dampak buruk kesehatan yang bisa terjadi pada perokok aktif dan pasif pun terus digalakkan. Namun, mengapa seakan para perokok tak peduli?

Derita perokok pasif: “kau yang merokok, aku yang menderita"

Perokok pasif bisa menerima akibat yang sama dengan perokok aktif
Sama seperti perokok aktif, perokok pasif juga bisa terganggu kesehatannya

Setiap ada topik yang membahas seputar bahaya jadi perokok pasif, seolah sudah jadi setelan otomatis bagi para perokok aktif untuk mengeluarkan guyonan, “Kalau sama-sama bahaya, ya lebih baik jadi perokok sekalian”. Kalimat tersebut terus-menerus terlontar. Padahal, perokok tidak hanya “mengundang” penyakit ke dirinya sendiri, tapi juga orang-orang di sekelilingnya.

Masalahnya, tidak ada istilah hanya terpapar sedikit. Sebab sedikit saja seseorang terkena paparan asap rokok, maka risikonya terkena berbagai penyakit berbahaya akan meningkat.

Berdasarkan data yang disebutkan oleh lembaga kesehatan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, sejak tahun 1964 sudah terdapat 2,5 juta jiwa yang melayang karena menjadi perokok pasif.

Tidak merokok tapi bisa meninggal karena rokok? Itulah derita perokok pasif. Terpapar asap rokok akan meningkatkan risiko seseorang terkena kanker paru-paru hingga 30%. Risiko terkena kanker jenis lain pun akan meningkat dengan presentase yang kurang lebih sama.

Paparan asap rokok yang diterima perokok pasif juga bisa menyebabkan gangguan jantung. Tidak hanya itu, racun yang ada di udara yang penuh asap rokok pun akan membuat darah menjadi lebih kental, meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan merusak dinding pembuluh darah di tubuh. Perubahan-perubahan tersebut, nantinya bisa berujung pada serangan jantung atau stroke.

Anak-anak, perokok pasif yang paling rentan terkena dampak

Anak yang menjadi perokok pasif berisiko lebih tinggi terkena asma
Anak yang jadi perokok pasif bisa berisiko lebih tinggi kena asma

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak berbahaya sebagai perokok pasif. Sebab, saat ada udara yang terpapar asap rokok, anak-anak akan lebih banyak menghirup racun yang ada di udara.

Mengapa bisa begitu? Sebab, paru-paru anak belum terbentuk sempurna. Hal ini menyebabkan anak bernapas lebih cepat dari orang dewasa. Sehingga, frekuensi napasnya pun lebih banyak.

Lagipula, anak juga belum memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk melindungi dirinya dari asap rokok. Anak yang masih bayi, misalnya, tidak bisa berpindah tempat meski ruangan tempatnya berada dipenuhi oleh asap rokok. Seringkali, orangtua yang merokok tidak memiliki kesadaran untuk menjauhkan anaknya dari paparan asap rokok.

Kalau ingin anak tetap sehat dan punya masa depan yang cerah, sebagai orangtua yang merokok, Anda harus sadar diri. Setidaknya, jauhkan paparan asap dari anak atau lebih baik lagi jika sama sekali berhenti.

Jangan cuek terhadap dampak asap rokok untuk anak. Berikut ini berbagai gangguan yang bisa dialami oleh buah hati.

1. Dampak paparan asap rokok untuk bayi di dalam kandungan

Bayi sudah bisa menjadi perokok pasif sejak masih di dalam kandungan. Jika ibu yang mengandungnya merokok saat hamil, bayi berisiko lahir dengan berat badan yang lebih rendah dari normal. Kondisi ini akan meningkatkan risiko kematian bayi.

Selain itu, merokok saat hamil juga bisa meningkatkan risiko anak mengalami gangguan perkembangan, seperti kesulitan belajar. Risiko anak mengalami lumpuh otak (cerebral palsy) juga akan meningkat.

2. Ini bahayanya jika anak jadi perokok pasif

Sementara itu, anak yang sering terpapar asap rokok dari lingkungan atau bahkan orangtuanya merupakan perokok aktif, berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan berupa:

  • Infeksi saluran pernapasan, seperti bronkitis dan pneumonia
  • Gangguan pekembangan paru-paru
  • Asma dan batuk kronis
  • Infeksi telinga
  • Sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS)
  • Tekanan darah tinggi pada anak-anak
  • Gangguan perilaku dan gangguan belajar
  • Katarak pada anak
  • Penyakit gigi dan mulut

Asap rokok yang menempel di baju juga berbahaya, inilah thirdhand smoke

Thirdhand smoke juga berbahaya untuk kesehatan
Paparan asap rokok di pakaian juga bisa menyebabkan penyakit

Bahaya asap rokok tidak hanya berhenti di perokok pasif yang menghirup asap rokok secara langsung. Saat seorang perokok pasif berada di lingkungan yang dipenuhi asap rokok, racun yang ada di udara juga akan menempel di pakaian. Ketika orang ini kembali ke rumah dan bermain bersama anaknya menggunakan pakaian yang sama, maka anak masih akan terpapar racun dari asap rokok. Inilah yang dinamakan thirdhand smoke.

Contoh lain yang bisa terjadi adalah saat ada tamu perokok datang ke rumah Anda, lalu merokok. Meski saat itu Si Kecil sedang tidak berada di ruangan yang sama, tapi asap rokok yang menempel di meja, kursi, atau karpet ruang tamu, tetap bisa terhirup saat anak kemudian main di ruangan yang sama, meski tamu Anda sudah pulang.

Jangan anggap remeh bahaya thirdhand smoke ini. Sebab, kondisi ini juga bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti kanker. Bahkan, sisa asap yang menempel di pakaian dan barang-barang lainnya juga dapat mengakibatkan kerusakan DNA. Saat DNA rusak, risiko seseorang terkena berbagai penyakit juga akan meningkat.

Perokok aktif dan pasif sama-sama akan menerima akibat berbahaya dari rokok dan asapnya. Sehingga, selain terus menganjurkan para perokok untuk berhenti merokok, kita pun harus menjaga diri dan memastikan untuk menjauhkan diri dari asap rokok.

Jangan ragu untuk menegur perokok yang merokok di tempat umum, apalagi di tempat dengan banyak anak-anak. Jadikan juga lingkungan tempat tinggal kita menjadi lingkungan yang bebas asap rokok, agar keluarga bisa tetap sehat dan terhindar dari risiko penyakit berbahaya.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.depkes.go.id/article/view/19071100001/htts-2019-jangan-biarkan-rokok-merenggut-napas-kita.html
Diakses pada 18 Februari 2020

CDC. https://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/secondhand_smoke/general_facts/index.htm
Diakses pada 18 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/smoking-cessation/effects-of-secondhand-smoke
Diakses pada 18 Februari 2020

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/10644-secondhand-smoke-dangers
Diakses pada 18 Februari 2020

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/the-effects-of-secondhand-smoke-on-children-2825232
Diakses pada 18 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/expert-answers/third-hand-smoke/faq-20057791
Diakses pada 18 Februari 2020

Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/5-things-you-should-know-about-the-risks-of-thirdhand-smoke/
Diakses pada 18 Februari 2020

Artikel Terkait