Mengenal 4 Perbedaan IVA Test dan Pap Smear (Mana yang Lebih Akurat?)

(0)
IVA test dan pap smear memiliki tingkat akurasi dan kecepatan yang berbedaIVA test dan pap smear, dua metode berbeda untuk ketahui kondisi serviks
IVA test dan pap smear adalah pemeriksaan untuk melihat kondisi vagina dan mendeteksi keberadaan sel kanker pada leher rahim (serviks).Pemeriksaan (skrining) ini penting bagi setiap perempuan. Sebab, data dari KPKN Kemenkes melaporkan kanker serviks adalah jenis kanker kedua terbanyak yang diidap penduduk Indonesia.Bahkan, KPKN Kemenkes memprediksi jumlah penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100 ribu penduduk. Dalam setiap tahun, muncul 40 ribu kasus kanker serviks.Hasil tes IVA dan pap smear dapat menentukan tindakan selanjutnya, mulai dari pencegahan kanker serviks maupun pengobatan kanker serviks. Skrining dengan IVA test dan pap smear pun mampu menekan risiko kematian akibat kanker serviksMeski kedua tes memiliki tujuan yang sama. Namun, ada perbedaan yang berarti dari masing-masing IVA test dan pap smear. Apa saja perbedaan itu?

Perbedaan IVA test dan pap smear

Pap smear menggunakan sampel sel serviks dan diuji di lab
Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kementerian Kesehatan (KPKN Kemenkes) menganjurkan skrining dengan IVA atau pap smear bisa dilakukan sejak usia 20 tahun sampai 74 tahun.Studi pada Journal of Lower Genital Tract Disease menemukan, memulai skrining pertama sebelum usia 25 tahun mampu mencegah risiko kanker di masa akan datang.Masing-masing tes tentu memiliki perbedaan keuntungan. Dalam hal ini, keuntungan yang didapat pun menyesuaikan dengan kebutuhan setiap para wanita.Ada empat perbedaan utama pada IVA test dan pap smear, dari proses hingga hasil akhirnya.Berikut perbedaan antara keduanya:

1. Perbedaan metode IVA test dan pap smear

Tes pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel serviks
Untuk mengetahui perbedaan pemeriksaan IVA dan pap smear, terlebih dahulu ketahui cara kerja dari kedua metode pemeriksaan ini. IVA test adalah singkatan dari inspeksi visual asetat. Hal yang bisa dilihat dari perbedaan metode IVA test dan pap smear adalah bahwa skrining IVA test menurut World Health Organization (WHO) adalah pemeriksaan kondisi leher rahim dengan mengoleskan asam asetat 3%-5%.Hasil tes ini bisa dilihat segera melalui kasat mata dan dalam cahaya yang baik. Bahkan, WHO menyatakan, metode IVA test merupakan prosedur yang aman, cepat, andal, dan murah.Saat skrining IVA test, asam asetat dioles ke serviks. Hal ini bertujuan untuk melihat proses peralihan bentuk cairan ke padat (koagulasi) pada protein yang ditemukan di permukaan leher rahim.Hal yang diperhatikan saat IVA test adalah perubahan bentuk protein pada permukaan serviks. Peralihan yang perlu diamati adalah adanya bercak putih (acetowhite) dan padat pada dinding rahim.Sementara, perbedaan metode IVA test dan pap smear, berdasarkan paparan National Cancer Institute, saat pap smear, tes dilakukan dengan cara mengambil sampel sel serviks. Sampel sel serviks didapat dengan cara memasukkan alat bernama spekulum agar leher rahim dapat terlihat.Selanjutnya, petugas kesehatan mengambil sel serviks dengan pengeruk atau sikat khusus. Sampel sel serviks dimasukkan ke dalam botol berisi pengawet cair. Nantinya, sampel sel leher rahim ini dibawa ke laboratorium dan diuji apakah ada tanda-tanda perubahan sel yang mengarah ke pertumbuhan kanker.

2. Perbedaan hasil tes

Gumpalan putih pada IVA menunjukkan adanya dugaan kanker
Perbedaan pada IVA test dan pap smear juga dilihat dari hasilnya. Pada IVA test, jika kondisi serviks tidak mengalami masalah tertentu, maka tidak ditemukan bercak putih pada leher rahim setelah dioles asam asetat. Hal ini dikarenakan pada serviks yang normal, dinding permukaannya mengandung protein yang sangat rendah.Sementara, jika ditemukan bercak putih yang padat sesaat setelah dioles asam asetat, maka hal itu seseorang terdeteksi mengalami prakanker serviks. Semakin padat dan semakin banyak bercak putih, maka semakin tinggi derajat prakanker.Ada tiga jenis hasil yang bisa dibaca dari hasil IVA test. Tiga kategori hasil IVA test, yaitu: 
  • Negatif, tidak ditemukan area dengan acetowhite atau jika ditemukan, bentuknya samar dan tipis, batas areanya tidak jelas.
  • Positif, area leher rahim dengan acetowhite berwarna buram.
  • Dugaan kanker, ditandai dengan adanya pertumbuhan sel atau luka. Area dengan acetowhite sudah tidak terlihat lagi akibat adanya pendarahan.
  Menurut American Cancer Society, ada tiga kategori hasil tes pap smear, yaitu: 
  • Negatif, berarti tidak ditemukan luka atau tanda-tanda sel ganas.
  • Kelainan sel epitel, yaitu adanya perubahan sel pada serviks yang berisiko menjadi kanker atau prakanker.
  • Kumpulan sel abnormal ganas, ditandai dengan adanya luka dan pertumbuhan sel yang tidak wajar.
 

3. Pengulangan IVA test dan pap smear

IVA test hanya sekali, pap smear diulang per tiga tahun
Perbedaan IVA test dan pap smear lainnya adalah soal jadwal pemeriksaan ulang.Pap smear perlu diulang per tiga tahun sekali. Hal ini pun hanya berlaku jika pap smear yang dilakukan hanya untuk mengecek sel yang ada pada serviks, bukan mengecek virus penyebab kanker serviks, Human papilomavirus.Di sisi lain, IVA test tidak perlu diulang. Jadi, jika hasil IVA test pertama Anda negatif, tidak perlu dites lagi beberapa tahun mendatang.

4. Kecepatan dan ketepatan tes

Sel yang diambil untuk pap smear menunjukkan hasil lebih tepat
Perbedaan lainnya yang bisa dilihat dari IVA test dan pap smear adalah kecepatan dan seberapa akurat hasil tes.Penelitian yang diterbitkan pada Journal of Mid-Life Health menunjukkan, IVA test lebih sensitif daripada pap smear.Artinya IVA test mampu lebih cepat mendeteksi penyakit. Bahkan, penelitian ini menemukan, IVA test 89% lebih sensitif daripada pap smear, yang hanya sebesar 52%.Namun, meski demikian, hasil pap smear dinilai lebih akurat daripada IVA test. Riset ini juga menunjukkan, akurasi pap smear bisa mencapai 93% sementara IVA test hanya mencapai 87 persen.

Catatan dari SehatQ

IVA test dan pap smear memiliki empat perbedaan yang kentara. IVA test lebih unggul dalam soal kecepatan mendeteksi penyakit, sementara hasil pap smear lebih akurat.Hal yang bisa digarisbawahi adalah baik pemeriksaan IVA dan pap smear, keduanya berguna untuk mendeteksi risiko kanker serviks. Hal ini nantinya berguna untuk Anda menentukan langkah ke depan, apakah harus melakukan tindakan pencegahan atau pengobatan lebih lanjut.Jika Anda sedang mempertimbangkan antara IVA test dan pap smear, tidak ada salahnya konsultasi dulu dengan dokter melalui chat di aplikasi kesehatan SehatQ agar lebih yakin.Download sekarang di Google Play dan Apple Store.
kelamin perempuankanker servikskesehatan vagina
Komite Penanggulangan Kanker Nasional. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKServiks.pdf (Diakses pada 24 September 2020)Journal of Lower Genital Tract Disease. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6250286/ (Diakses pada 24 September 2020)National Cancer Institute. https://www.cancer.gov/types/cervical/pap-hpv-testing-fact-sheet (Diakses pada 24 September 2020)American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/screening-tests/pap-test.html (Diakses pada 24 September 2020)World Health Organization (WHO). https://www.who.int/docs/default-source/searo/tobacco/trainees-handbook.pdf?sfvrsn=6778145d_2 (Diakses pada 24 September 2020)Journal of Mid-Life Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4481740/ (Diakses pada 24 September 2020)
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait