Ini Penyebab Invaginasi, Gangguan pada Usus yang Bisa Dialami Anak

Invaginasi berisiko menyebabkan obstruksi atau penyumbatan usus pada anak.
Invaginasi dapat mengakibatkan penyumbatan usus pada anak.

Invaginasi atau intususepsi merupakan penyebab paling umum dari penyumbatan atau obstruksi usus pada anak berusia di bawah 3 tahun. Kondisi ini terjadi ketika ada salah satu bagian usus yang berpindah ke bagian di sebelahnya.

Meski dianggap sebagai kondisi yang gawat darurat, invaginasi sebenarnya bisa diatasi, baik dengan jalan operasi maupun non-operasi. Mengapa invaginasi bisa terjadi?

Penyebab invaginasi yang mesti diwaspadai

Invaginasi umumnya terjadi pada bayi dan anak berusia 6 bulan-3 tahun. Anak laki-laki disebut tiga kali lipat lebih rentan mengalami gangguan medis serius tersebut ketimbang anak perempuan. Invaginasi juga sangat jarang terjadi pada individu berusia dewasa, kendati risiko terkena invaginasi tetap ada. Apa saja penyebab invaginasi?

Invaginasi pada anak

Mayoritas kasus invaginasi pada anak tidak diketahui pemicunya. Sebab, invaginasi biasanya lebih sering terjadi pada musim gugur dan musim salju (pada negara yang mengalami musim-musim tersebut). Anak-anak dengan kondisi tersebut, juga menunjukkan gejala menyerupai flu, yang memang sering muncul pada kedua musim itu.

Namun terkadang, ada kondisi yang bisa diidentifikasi sebagai penyebab dari invaginasi pada anak, yaitu Meckel divertikulum. Yang dimaksud dengan Meckel divertikulum adalah kantung kecil yang terdapat pada dinding usus halus.

Invaginasi pada orang dewasa

Sementara itu pada orang dewasa, invaginasi biasanya merupakan dampak dari kondisi medis maupun prosedur tertentu, misalnya:

  • Polip atau tumor
  • Jaringan bekas luka di usus yang mengalami perlengketan
  • Operasi penurunan berat badan maupun operasi lainnya pada saluran usus
  • Peradangan akibat beberapa penyakit tertentu, misalnya penyakit Crohn

Faktor-faktor ini tingkatkan risiko invaginasi

Ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko invaginasi, dan tentunya penting untuk dicermati, yaitu faktor usia, jenis kelamin, kelainan bawaan pada usus, riwayat invaginasi sebelumnya, dan riwayat keluarga.

1. Usia:

Anak-anak biasanya lebih rentan mengalami invaginasi dibandingkan orang dewasa. Invaginasi menjadi penyebab umum obstruksi usus pada balita berusia 6 bulan-3 tahun.

2. Jenis kelamin:

Ternyata, invaginasi lebih sering dialami anak laki-laki, dibandingkan anak perempuan.

3. Kelainan bawaan pada usus:

Kelainan berupa malrotasi usus, menyebabkan usus tidak berkembang dengan semestinya, maupun tidak berotasi dengan benar. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap invaginasi.

4. Riwayat invaginasi sebelumnya:

Sekali saja Anda pernah mengalami invaginasi, maka risiko untuk menghadapi kondisi ini semakin tinggi di kemudian hari.

5. Riwayat keluarga:

Kakak, adik, maupun anggota keluarga lain dengan riwayat invaginasi, meningkatkan risiko Anda terhadap kondisi serupa.

Seperti apa gejala invaginasi?

Gejala invaginasi pada anak dan dewasa ternyata berbeda. Pada anak, gejalanya cenderung lebih mudah diamati. Apa saja gejala tersebut?

Gejala invaginasi pada anak

Nyeri perut bisa tandakan invaginasi pada anak.

Bayi yang mengalami invaginasi umumnya akan menangis dan merintih kesakitan akibat nyeri di bagian perut. Biasanya bayi akan menarik lutut hingga ke dada akibat kram perut yang dialaminya.

Rasa sakit akibat invaginasi dapat datang silih berganti, sekitar 15-20 menit. Semakin lama, rasa sakitnya semakin parah, dengan durasi yang lebih panjang. Selain itu, yang umumnya menjadi gejala invaginasi pada anak adalah:

  • Feses yang bercampur darah maupun lendir, yang menyerupai jeli
  • Benjolan di perut
  • Muntah
  • Lesu
  • Diare
  • Demam

Namun, belum tentu setiap anak yang mengalami invaginasi, menunjukkan gejala-gejala tersebut. Ada bayi yang tidak menunjukkan rasa sakit secara jelas.

Selain itu, ada juga anak dengan kondisi invaginasi, yang ternyata tidak mengalami perdarahan serta tanpa benjolan di perut. Sementara ini, anak yang berusia lebih dewasa, bisa merasakan sakit akibat invaginasi, tapi tanpa disertai gejala lainnya.

Gejala invaginasi pada orang dewasa

Invaginasi memang jarang terjadi pada orang dewasa. Jikapun terjadi, gejalanya menyerupai gangguan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, gejala invaginasi pada orang dewasa sulit untuk dikenali.

Yang biasanya menjadi gejala adalah sakit perut yang silih berganti. Mual dan muntah juga bisa muncul. Sayangnya, orang dewasa yang mengalami invaginasi, membiarkan gejala ini selama beberapa minggu sebelum akhirnya mencari penanganan medis.

Apakah invaginasi bisa disembuhkan?

Invaginasi bisa diatasi melalui metode non-pembedahan maupun pembedahan. Tingkat keparahan invaginasi menentukan perawatan yang akan diterima. Usia dan kondisi kesehatan secara keseluruhan pun menjadi pertimbangan.

1. Metode non-pembedahan:

Biasanya, metode inilah yang diutamakan untuk menyembuhkan kondisi invaginasi. Suntikan barium maupun injeksi cairan saline sebagai pencuci perut yang disertai udara ke usus, diperlukan dalam metode ini. Tekanan udara bisa mendorong jaringan yang terdampak, kembali ke posisi asalnya.

Cairan yang dialirkan melalui selang di dubur juga mampu membantu mengembalikan jaringan ke tempat yang seharusnya.

2. Metode pembedahan:

Jika metode non-pembedahan tidak efektif, maka operasi pun diperlukan. Tim medis akan memberikan anestesi umum, karena selanjutnya akan membuat sayatan di bagian perut.

Dokter bedah akan mengembalikan usus ke posisi normalnya. Jika ada jaringan yang rusak, sebagian usus akan dibuang. Sementara itu, bagian usus yang masih sehat, akan disambungkan dengan jahitan.

Operasi menjadi pilihan utama bagi orang dewasa dengan invaginasi, serta anak-anak yang mengalami sakit parah akibat kondisi tersebut.

Catatan dari SehatQ:

Jangan terlalu khawatir, karena invaginasi jarang terjadi. Jikapun terjadi pada anak, perawatan tanpa pembedahan sudah cukup efektif untuk mengatasinya.

Meski begitu, Anda harus selalu waspada jika anak mengalami sakit perut dan perubahan warna maupun tekstur feses. Bila hal ini terjadi, segera periksakan Si Kecil ke dokter.

Healthline.
https://www.healthline.com/health/intussusception#treatment
Diakses pada 24 Maret 2020

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/intussusception/symptoms-causes/syc-20351452
Diakses pada 24 Maret 2020

Artikel Terkait