logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kehamilan

Mengenal Hipertensi dalam Kehamilan dan Komplikasinya yang Berbahaya

open-summary

Hipertensi dalam kehamilan terkadang menjadi masalah pada calon ibu. Ada komplikasi pada kehamilan yang berkaitan dengan hipertensi, yaitu hipertensi gestasional, preeklampsia, dan eklampsia.


close-summary

1 Agt 2019

| Rianti Dea Rizky Pratiwi

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Hipertensi dalam kehamilan bisa membahayakan ibu hamil dan janinnya

Hipertensi dalam kehamilan memiliki berbagai komplikasi.

Table of Content

  • Hipertensi saat hamil (hipertensi gestasional)
  • Penyebab hipertensi pada ibu hamil
  • Ciri-ciri darah tinggi pada ibu hamil
  • Risiko yang mungkin terjadi akibat hipertensi pada kehamilan
  • Cara mengatasi hipertensi dalam kehamilan

Pada masa kehamilan, berbagai komplikasi bisa saja terjadi. Beberapa dari komplikasi kehamilan yang mungkin terjadi seringkali berhubungan dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Jika dibiarkan, hipertensi dalam kehamilan juga bisa membahayakan dan menyebabkan kematian ibu dan janinnya.

Advertisement

Hipertensi saat hamil (hipertensi gestasional)

Dikutip dari American Pregnancy, jenis hipertensi kehamilan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu hipertensi kronis, hipertensi gestasional dan preeklampsia.

Di mana hipertensi kronis terjadi ketika tekanan darah tinggi mencapai 140/90 atau lebih sebelum hamil, saat hamil dan setelah melahirkan. 

Gestasional hipertensi sendiri merupakan keadaan di mana tekanan darah terus naik setelah usia kehamilan 20 minggu dan menghilang setelah bayi dilahirkan. Hipertensi gestasional dapat memengaruhi 6-8% wanita hamil. 

Sekitar 6 minggu pascamelahirkan, kondisi kesehatan ibu akan kembali normal. Namun, jika Anda memiliki tekanan darah yang tinggi, yaitu 140/90 mmHg sebelum hamil atau pada awal kehamilan, maka Anda bisa terus mengalaminya meski telah melahirkan.

Beberapa faktor risiko dari hipertensi gestasional yang mungkin terjadi pada Anda, yaitu kehamilan pertama, kehamilan kembar, kelebihan berat badan atau obesitas sebelum hamil, berusia 40 tahun keatas ketika hamil, dan memiliki riwayat hipertensi atau pada kehamilan sebelumnya.

Kedua kondisi tersebut dapat mengalami komplikasi yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan urine yang mengandung protein. Kondisi ini disebut preeklampsia.

Hipertensi dalam kehamilan dapat menyebabkan plasenta tidak mendapat cukup darah sehingga bayi kekurangan oksigen. Untuk mengatasi kondisi ini, terdapat obat penurun tekanan darah yang bisa digunakan.

Namun, sebaiknya Anda selalu memeriksakan diri Anda ke dokter untuk mengawasi tekanan darah Anda selama kehamilan.

Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal Ibu Hamil? Ketahui Rentangnya Berikut Ini

Penyebab hipertensi pada ibu hamil

Penyebab tekanan darah tinggi saat hamil belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami hipertensi, salah satunya yaitu:

  • Punya riwayat darah tinggi sebelum hamil atau memiliki riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya
  • Memiliki penyakit ginjal atau diabetes
  • Berusia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun saat hamil
  • Hamil kembar
  • Kelebihan berat badan
  • Mengalami gangguan pada sistem imun

Hipertensi dalam kehamilan dapat berbahaya dan bisa menyebabkan sejumlah komplikasi lain seperti keguguran, aliran darah ke plasenta terganggu, kerusakan organ, gangguan plasenta, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur hingga penyakit kardiovaskular.

Ciri-ciri darah tinggi pada ibu hamil

Gejala paling umum ibu hamil mengalami hipertensi ketika tekanan darahnya sudah mencapai 140/99 mmHg atau lebih. Jika sudah semakin parah dan menyebabkan preeklampsia, tubuh ibu umumnya akan menunjukkan ciri-ciri seperti berikut:

  • Sejumlah area tubuh mulai membengkak, terutama di daerah telapak kaki, wajah, mata dan tangan
  • Merasakan nyeri yang mengganggu
  • Sakit kepala
  • Tekanan darah melonjak drastis
  • Sesak napas
  • Mual dan muntah
  • Mengalami gangguan fungsi hati
  • Mengalami gangguan penglihatan

Jika Anda mengalami ciri-ciri darah tinggi seperti di atas, maka segera berkonsultasi ke dokter.

Baca Juga

  • Wajib Tahu, Ini 10 Minuman Penurun Darah Tinggi
  • Obat-obatan ACE Inhibitor untuk Hipertensi, Cermati Peringatan dan Efek Sampingnya
  • Hamil Kembar, Inilah 13 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Risiko yang mungkin terjadi akibat hipertensi pada kehamilan

Komplikasi hipertensi pada ibu hamil bisa menyebabkan kondisi yang lebih berbahaya berupa preeklampsia dan eklampsia. Jika tidak segera ditangani, kedua kondisi ini dapat membahayakan nyawa ibu dan janin.

Berikut risiko yang mungkin terjadi akibat darah tinggi saat hamil:

1. Preeklampsia

Pada kasus hipertensi kronis, hipertensi gestasional dapat menyebabkan preeklampsia. Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi pada ibu hamil.

Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan tingkat protein yang tinggi dalam urine atau disertai proteinuria. Preeklampsia biasanya muncul di akhir kehamilan, namun dapat pula terjadi lebih awal ataupun berkembang setelah melahirkan.

Penyebab pasti dari preeklampsia tidaklah diketahui, namun terdapat berbagai anggapan mengenai penyebabnya, seperti plasenta yang tidak berfungsi dengan baik, nutrisi yang buruk, lemak tubuh yang tinggi, ataupun genetik.

Sedangkan, faktor risiko untuk preeklampsia meliputi kehamilan pertama, hamil pada usia remaja atau di atas 40 tahun, memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, memiliki ibu atau saudara perempuan yang pernah mengalami preeklampsia, dan memiliki riwayat diabetes, ginjal, lupus, atau rheumatoid arthritis.

Sementara itu, tanda-tanda dari preeklampsia adalah berat badan bertambah dengan cepat, sakit perut, sakit kepala hebat, urine berkurang atau tidak keluar, penglihatan kabur, pusing, serta mual dan muntah.

Preeklampsia tentu berbahaya karena dapat mencegah plasenta menerima banyak darah sehingga janin kekurangan oksigen dan nutrisi. Selain itu, ibu juga bisa mengalami eklampsia dan berbagai masalah lainnya.

Satu-satunya cara dalam mengobati preeklampsia adalah dengan melakukan persalinan lebih awal demi keselamatan Anda dan bayi.

Dokter akan mempertimbangkan waktu yang tepat untuk melahirkan bayi Anda, dengan melihat kondisi bayi dalam kandungan dan seberapa parah preeklampsia yang Anda alami.

2. Eklampsia

Meski jarang, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia jika sudah memengaruhi otak.

Eklampsia adalah komplikasi parah dari preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, namun juga kejang, koma, atau bahkan kematian pada ibu hamil.

Meski tidak memiliki riwayat kejang, namun Anda dapat mengalaminya jika terkena eklampsia. Gejala-gejala dari eklampsia, yaitu kejang, hilang kesadaran, dan gelisah berat.

Eklampsia dapat disertai dengan gejala preeklampsia ataupun tidak. Oleh sebab itu, Anda perlu waspada dan sering melakukan pemeriksaan kehamilan.

Jika Anda pernah atau sedang mengalami preeklampsia, maka Anda berisiko mengalami eklampsia.

Sama halnya dengan preeklampsia, eklampsia juga dapat memengaruhi plasenta sehingga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah, kelahiran prematur, ataupun lahir mati.

Bukan hanya itu, ibu juga dapat mengalami berbagai komplikasi, seperti stroke, henti jantung, penyakit hati, bahkan kematian. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penanganan untuk eklampsia dan preeklampsia adalah dengan persalinan.

Sementara itu, Anda juga mungkin memerlukan obat untuk mencegah kejang, yaitu obat antikonvulsan dan obat penurun tekanan darah.

Baca juga: Memahami Preeklamsia dan Eklamsia, Komplikasi Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Cara mengatasi hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang perlu selalu mendapatkan pengawasan dokter. Oleh sebab itu, ibu hamil dengan hipertensi haruslah rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.

Cara mengatasi hipertensi dalam kehamilan umumnya dengan pemberian obat penurun tekanan darah. Dokter akan meresepkan dosis yang sesuai dengan kondisi kehamilan Anda.

Untuk menghindari komplikasi yang lebih parah, pastikan Anda mengonsumsi obat penurun darah tinggi sesuai dosis dan petunjuk dokter. Jangan berhenti minum atau mengganti dosis tanpa pengawasan dokter.

Selain itu, hindari mengonsumsi suplemen atau obat-obatan herbal yang dipercaya bisa menurunkan tekanan darah, terlebih jika belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya.

Selama mengonsumsi obat, Anda dianjurkan untuk tetap aktif berolahraga secara rutin. Pastikan selalu makan makanan yang bergizi dan menjalani pola hidup sehat, seperti cukup tidur, tidak mengonsumsi alkohol dan merokok.

Jika Anda ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Advertisement

hipertensimasalah kehamilanpreeklampsiaeklampsia

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved