Ini yang Terjadi ketika Kadar Bilirubin Bayi Terlalu Tinggi

Orangtua perlu waspada jika kadar bilirubin bayi terlalu tinggi
Kadar bilirubin bayi yang tinggi membuat bayi menjadi kuning

Merupakan reaksi yang normal jika ibu merasa panik saat melihat bayi menderita penyakit kuning alias jaundice. Namun, perlu diketahui bahwa bayi kuning merupakan kondisi normal pada bayi berusia 2-3 hari, yang disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin bayi itu sendiri.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 6 dari 10 bayi sehat mengalami kuning di pekan-pekan pertama kehidupannya. Ibu perlu mulai waspada jika kadar bilirubin bayi mencapai lebih dari 12 mg/dL yang tentunya didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium, bukan pemantauan fisik semata.

Ibu harus memperbanyak asupan cairan (air susu ibu) ketika kadar bilirubin bayi mencapai 15 mg/dL, namun bayi dengan kadar bilirubin 20 mg/dL atau lebih harus, bayi disarankan untuk langsung menjalani terapi sinar. Jaundice yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan kernikterus.

Apa itu kernikterus?

Kernikterus adalah kerusakan otak yang terjadi karena terlalu tingginya kadar bilirubin di dalam darah bayi. Kondisi ini dapat menyebabkan cacat pada bayi, misalnya cerebral palsy athetoid, tuli, kerusakan pada penglihatan, gigi, dan (terkadang) intelektual.

Gejala kernikterus yang biasanya terlihat pada bayi adalah:

  • Tubuh yang kaku, atau bahkan terlalu lunglai
  • Suara tangisan yang melengking dan terius-menerus
  • Pergerakan bola mata bayi yang aneh atau tidak terkoordinasi dengan baik
  • Tubuh bayi melengkung seperti busur panah, yakni kepala, leher dan tumit bengkok ke belakang, sedangkan bagian tubuh yang lain justru melengkung ke depan
  • Kejang
  • Terdapat benjolan di bagian ubun-ubun bayi

Apa yang menyebabkan bilirubin bayi tinggi?

Pascapersalinan, bayi biasanya harus meningap di rumah sakit setidaknya selama 48 jam. Hal ini dimaksudkan untuk memantau kadar bilirubinnya setiap 8 hingga 12 jam dalam 48 jam pertama kehidupannya.

Sebelum meninggalkan rumah sakit usai persalinan, Anda biasanya akan diberi hasil tes bilirubin bayi. Sekalipun hasilnya normal, Anda tetap harus memantau perkembangan bayi mengingat bilirubin bayi biasanya mencapai puncak tertinggi saat usianya 3 hingga 5 hari.

Kernikterus sendiri terjadi ketika kadar bilirubin bayi terlalu tinggi sehingga mampu menembus batasan antara saluran darah dengan jaringan otak. Kondisi ini hampir selalu berhubungan dengan jaundice yang parah atau tidak segera ditangani.

Penyebab terjadinya kadar bilirubin bayi yang jauh melampaui batas normal, yaitu:

  • Kerusakan organ hati
  • Hancurnya sel darah merah pada bayi, biasanya dikarenakan tipe darah ibu tidak sama dengan tipe darah bayi
  • Bayi yang lahir prematur, biasanya sebelum 37 minggu masa kehamilan
  • Produksi bilirubin yang meningkat tajam
  • Sindrom Gilbert
  • Terdapat sumbatan di saluran empedu

Beberapa bayi juga memiliki faktor risiko terkena jaundice parah yang mengarah pada kernikterus, di antaranya:

  • Ibu dan bayi tidak memiliki golongan darah yang sama
  • Bayi kekurangan glukosa-6-fosfat dehydrogenase (G6PD), enzim yang membantu sel darah merah bekerja sebagaimana mestinya
  • Bayi yang lahir dengan berat badan rendah
  • Bayi yang lahir prematur
  • Sepsis dan meningitis
  • Bayi yang memiliki warna kulit gelap sehingga kuning pada bayi sulit terdeteksi
  • Malas menyusu atau mengalami kesulitan dalam proses menyusu
  • Memiliki anggota keluarga yang pernah menderita penyakit kuning
  • Mengalami cedera akibat persalinan yang sulit

Meskipun demikian, bayi dengan faktor risiko di atas tetap bisa hidup sehat jika jaundice yang dideritanya cepat terdeteksi dan tertangani. Oleh karena itu, Anda sebaiknya tidak menunda untuk memeriksakan kadar bilirubin bayi ke dokter atau rumah sakit terdekat jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda jaundice pada bayi.

Apa saja komplikasi akibat kernikterus?

Seperti telah diterangkan di atas, kernikterus yang disebabkan tingginya kadar bilirubin bayi bisa mengakibatkan masalah kesehatan yang serius, terutama kerusakan otak. Komplikasi akibat kernikterus itu sendiri, di antaranya adalah:

  • Kerusakan pendengaran atau kesulitan memproses suara
  • Masalah penglihatan
  • Gigi dan rahang yang tidak berkembang optimal
  • Gigi yang terlihat penuh noda
  • Masalah mobilitas karena terdapat kerusakan pada otak
  • Kelainan intelektual dan tumbuh kembang, misalnya disleksia
  • Gangguan spektrum autisme
  • Epilepsi
  • Kelainan pada fokus dan perilaku anak

Sama seperti jaundice, kernikterus pada bayi harus segera ditangani. Jika tidak, bukan tidak mungkin bayi akan berada dalam fase koma hingga meninggal dunia.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/indikasi-terapi-sinar-pada-bayi-menyusui-yang-kuning
Diakses pada 14 Agustus 2019

CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/jaundice/facts.html
Diakses pada 14 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320701.php
Diakses pada 14 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed