Ini yang Membedakan Anemia Aplastik dengan Anemia Biasa

Anemia aplastik terjadi ketika ada kerusakan pada sumsum tulang belakang sebagai penghasil sel darah
Anemia apalstik terjadi saat tubuh berhenti memproduksi sel darah yang dibutuhkan

Mendengar kata anemia, tentu identik dengan penyakit kekurangan sel darah merah. Namun anemia aplastik adalah kondisi yang lebih jarang terjadi, yaitu saat tubuh berhenti memproduksi sel darah yang dibutuhkan. Konsekuensinya, penderitanya bisa merasa lesu dan berisiko terkena infeksi.

Anemia aplastik bisa terjadi pada usia berapa pun. Penyakit ini bisa terjadi tiba-tiba, bisa juga berlangsung secara perlahan dan semakin memburuk dari waktu ke waktu. Lebih jauh lagi, anemia aplastik bisa menjadi sangat parah dan berakibat fatal.

Penyebab terjadinya anemia aplastik

Anemia aplastik terjadi ketika ada kerusakan pada sumsum tulang belakang sebagai penghasil sel darah. Konsekuensinya, produksi sel darah baru menjadi lebih lambat bahkan berhenti sepenuhnya.

Di dalam sumsum tulang, ada sel punca atau stem cell yang memproduksi sel darah, baik itu sel darah merah, sel darah putih, serta platelet. Pada penderita anemia aplastik, sumsum tulangnya hanya mengandung sedikit sel darah (hipoplastik) atau bahkan kosong (aplastik).

Beberapa faktor yang memicu terjadinya anemia aplastik di antaranya:

  • Radiasi dan kemoterapi

Salah satu pengobatan yang diberikan bagi penderita kanker adalah radiasi dan kemoterapi. Memang perawatan tersebut dapat membunuh sel kanker. Namun sel yang sehat juga bisa jadi korban, termasuk sel punca di dalam sumsum tulang. Sel punca adalah sel awal yang mempunyai potensi tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh.

Anemia aplastik bisa jadi konsekuensi sementara penderita kanker setelah menjalani perawatan radiasi dan kemoterapi.

  • Terpapar bahan beracun

Paparan bahan beracun seperti yang digunakan dalam pestisida dan insektisida juga dapat menyebabkan anemia aplastik. Selain itu, orang yang kerap terpapar benzena seperti yang ada dalam bensin juga berisiko mengalami anemia aplastik.

Kabar baiknya, kondisi penderita anemia aplastik akibat faktor ini bisa membaik apabila menghindari paparan substansi kimia berbahaya. Untuk itu, penting tahu apa substansi kimia beracun yang pertama kali menyebabkan anemia aplastik.

  • Konsumsi obat

Pasien yang mengonsumsi obat tertentu seperti untuk mengatasi artritis dan antibiotik juga dapat mengalami anemia aplastik

  • Gangguan sistem kekebalan tubuh

Bagi penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, imun tubuhnya justru menyerang sel yang sehat. Akibatnya, sel punca dalam sumsum tulang juga bisa terdampak.

  • Infeksi

Ada beberapa jenis virus yang bisa menyebabkan anemia aplastik seperti hepatitis, Epstein-Barr, cytomegalovirus, parvovirus B19, dan juga HIV. Lagi-lagi, infeksi ini menyebabkan sumsum tulang tidak bisa menjalankan fungsinya dengan optimal.

  • Kehamilan

Ibu hamil juga berisiko mengalami anemia aplastik. Biasanya, hal ini berkaitan dengan masalah sistem kekebalan tubuh yang terganggu saat sedang hamil.

Selain beberapa penyebab di atas, ada juga faktor yang masih belum diketahui mengapa seseorang menderita anemia aplastik. Hal ini disebut anemia aplastik idiopatik.

Perbedaan dengan anemia lainnya

Berbeda dengan penyakit anemia pada umumnya, anemia aplastik adalah kondisi yang cukup langka. Hanya orang-orang yang berada dalam kondisi tertentu saja yang berisiko mengalami anemia aplastik.

Itulah mengapa tidak ada langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari anemia aplastik. Salah satu yang paling mungkin dilakukan adalah menghindari substansi kimia beracun yang bisa saja menyebabkan anemia aplastik.

Perbedaan lain dengan anemia adalah gejalanya yang lebih parah. Umumnya, anemia ringan bisa diatasi dengan mengonsumsi makanan untuk meningkatkan kadar zat besi atau mengonsumsi suplemen. Namun bagi penderita anemia aplastik, kondisinya tidak semudah itu diatasi.

Untuk itu, penting mengenali beberapa gejala terjadinya anemia aplastik seperti:

Bisakah penderita anemia aplastik sembuh total?

Bagi penderita anemia aplastik yang menjalani pengobatan, dokter akan melakukan dua hal yaitu meredakan gejala anemia aplastik serta memberi stimulus ke sumsum tulang untuk memproduksi sel darah baru.

Tidak menutup kemungkinan penderita anemia aplastik menerima transfusi darah untuk memastikan kadar sel darahnya kembali normal. Selain itu, dokter bisa meresepkan antibiotik apabila penderita anemia aplastik mengalami infeksi. Hal ini bertujuan untuk membantu kinerja sel darah putih.

Untuk jangka panjang, transplantasi sumsum tulang juga bisa dilakukan. Tujuannya demi memastikan produksi sel darah kembali normal. Biasanya, donor ini diberikan dari keluarga terdekat agar tingkat kecocokannya tinggi dan menurunkan risiko penolakan organ.

Apabila dokter berhasil mengidentifikasi penyebab anemia aplastik dan tahu apa pemicunya, ada kemungkinan penderita anemia aplastik sembuh total. Bahkan jika kondisinya tidak parah dan hanya sementara, anemia aplastik bisa mereda dengan sendirinya.

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/aplastic-anemia
Diakses 28 November 2019

National Heart, Lung, and Blood Institute. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/aplastic-anemia
Diakses 28 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326781.php#outlook
Diakses 28 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/symptoms-causes/syc-20355015
Diakses 28 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed