Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Mentega dan Margarin

Sekilas mentega dan margarin memiliki bentuk yang sama tetapi terdapat perbedaan kandungan nutrisi dan cara pembuatannya
Dari segi warna, mentega dan margarin memiliki perbedaan yang cukup jelas

Ibu-ibu yang gemar memasak sudah pasti mengenal mentega yang dikenal sebagai butter dan margarin. Umumnya, margarin dan mentega digunakan sebagai pengganti minyak goreng.

Keduanya memiliki kegunaan yang sama dengan bentuk yang hampir serupa. Perbedaan mentega dan margarin sekilas hanya terlihat dari warnanya saja. Akan tetapi, apakah terdapat perbedaan mentega dan margarin selain dari segi warnanya?

Perbedaan mentega dan margarin

Perbedaan mentega atau butter dan margarin yang paling terlihat adalah dari segi warnanya, margarin biasanya berwarna lebih kuning dan mentega cenderung berwarna kuning keputihan. 

Umumnya, mentega lebih sering digunakan dalam proses memanggang, seperti proses pembuatan kue, biskuit, dan sebagainya. Margarin biasanya lebih condong ditemukan di dapur dan digunakan untuk menumis, menggoreng, atau dioleskan pada roti tawar sebagai sarapan si Kecil.

Namun, perbedaan mentega dan margarin tidak hanya dari segi warna saja, tetapi juga dari proses, kandungan nutrisi, dan bahan yang digunakan untuk membuat keduanya.

  • Bahan utama

    Mentega atau butter dibuat dengan lemak atau krim yang dipisahkan dari susu sapi. Sementara margarin terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan serta dibuat sebagai pengganti dari mentega. Umumnya, margarin dibentuk dari minyak kacang kedelai, minyak canola, dan minyak dari tumbuh-tumbuhan lainnya.
  • Proses pembuatan

    Dari segi proses pembuatan, mentega atau butter dibuat dengan memisahkan krim dari susu sapi terlebih dahulu sebelum krim diaduk sampai mengental. Setelahnya, sisa cairan sehabis proses pengadukan akan dibuang dan bagian padatnya yang akan dibentuk menjadi mentega.

    Sedangkan margarin dibentuk dengan proses yang disebut sebagai hidrogenasi. Proses ini berfungsi untuk membuat minyak tumbuh-tumbuhan yang awalnya berbentuk cairan menjadi padatan dengan memaparkan minyak dengan panas dan tekanan yang tinggi.
  • Jenis lemak

    Mentega kaya akan lemak jenuh karena terbuat dari lemak hewani, berbeda dengan margarin yang terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan yang dipadatkan.

    Meskipun margarin terbentuk dari minyak tumbuhan yang rendah lemak jenuh, tetapi proses hidrogenasi menyebabkan perubahan pada beberapa lemak tak jenuh menjadi lemak jenuh, serta memunculan lemak trans yang tidak sehat sebagai salah satu hasil dari proses hidrogenasi.

    Akan tetapi, sekarang ini sudah ada proses interesterifikasi untuk membuat margarin yang tidak mengandung lemak trans. 
  • Kandungan nutrisi

    Proses pembuatan dan bahan utama yang berbeda juga menghasilkan perbedaan kandungan nutrisi. Kandungan nutrisi dalam mentega di antaranya adalah, asam lemak butirat, lemak jenuh, vitamin K2, omega-3, dan asam linoleat terkonjugasi.

    Sedangkan margarin umumnya mengandung sterol, stanol, lemak tak jenuh ganda, lemak trans, omega-6, zat pewarna, dan zat-zat tambahan lainnya.

Bahaya dari mentega

Di balik kandungan nutrisi yang menyehatkan, seperti omega-3, vitamin K2, dan lainnya, mentega atau butter memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi. Konsumsi lemak jenuh ditemukan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Hal yang lebih mencengangkan adalah fakta bahwa hampir 50% dari mentega terbuat dari lemak jenuh. Selain lemak jenuh, mentega juga mengandung banyak kolesterol yang dapat memicu kemungkinan meningkatnya kadar kolesterol dalam tubuh.

Tidak hanya itu, kolesterol juga dikaitkan dengan risiko penyakit jantung. Meskipun demikian, kaitan kolesterol dengan risiko penyakit jantung masih memerlukan studi lebih lanjut.

Bahaya dari margarin

Margarin juga mengandung lemak trans yang bisa meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL)

Namun, bahaya yang mengintai tidak hanya dari lemak transnya, tetapi juga dari kandungan omega-6 dalam margarin yang bisa meningkatkan kemungkinan terkena penyakit peradangan kronis, serta dari zat-zat tambahan lain, berupa zat pewarna, dan sebagainya.

Meskipun demikian, sebagian besar margarin mengandung lemak tak jenuh ganda yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung. 

Beberapa margarin juga diperkaya dengan sterol dan stanol yang bisa meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar kolesterol jahat LDL, tetapi riset lebih lanjut masih diperlukan untuk menelusuri efek sterol dan stanol terhadap penyakit jantung.

Manakah yang lebih sehat?

Perbedaan mentega dan margarin mengundang pertanyaan mendasar mengenai manakah produk yang lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi. Pertanyaan ini masih kontroversial, tetapi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta cita rasa yang berbeda.

Hal yang paling penting yang harus diingat adalah untuk tidak mengonsumsi mentega atau butter dan margarin secara berlebihan, serta mengusahakan untuk memilih jenis margarin dan mentega yang lebih sehat untuk dikonsumsi. 

Bila Anda ingin menggunakan mentega, maka pilihlah mentega yang lebih bernutrisi yang terbuat dari susu dengan sapi yang diberikan pakan rumput dan bukan makanan olahan.

Jika Anda memilih margarin, maka carilah margarin yang bebas dari lemak trans dan terbuat dari minyak tumbuhan yang sehat, seperti margarin dari minyak zaitun. 

Selalu cek label margarin untuk melihat apakah margarin mengandung minyak yang terhidrogenasi. Meski margarin disebut tidak mengandung lemak trans, tetapi bila terdapat minyak yang terhidrogenasi, maka pasti terdapat lemak trans di dalamnya.

Pilihlah juga margarin yang tidak terlalu keras. Semakin keras margarin, maka semakin banyak pula lemak trans yang terkandung di dalamnya.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/butter-vs-margarine
Diakses pada 02 Agustus 2019

Dairy Goodness. https://www.dairygoodness.ca/butter/how-butter-is-made
Diakses pada 02 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/304283.php
Diakses pada 02 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed