Dampak Perceraian Bagi Anak yang Menjadi Peristiwa Pahit

Ada beberapa dampak perceraian bagi anak, seperti risiko gangguan mental, perilaku berisiko, dan penurunan prestasi
Perceraian tak hanya berat bagi orangtua, namun juga bagi Si Kecil

Saat Anda dan pasangan memutuskan untuk bercerai dan berpisah, menceritakannya pada anak tentu bukan perkara mudah. Namun, bagaimanapun juga, Si Kecil memiliki hak untuk tahu, sehingga penting bagi Anda untuk menyampaikan kondisi yang sesungguhnya.

Bagi anak-anak, perceraian dapat memberikan dampak yang berat, pada diri mereka. Sebab, mereka akan merasa kehilangan keluarga bahagia, yang selama ini dimiliki. Selain itu, Si Kecil akan merasa kehilangan sosok orangtua yang selama ini selalu mendampingi.

Mengenal dampak perceraian bagi anak, serta cara membantunya untuk pulih, merupakan kewajiban orangtua.

Beberapa kemungkinan dampak perceraian bagi anak

Setidaknya, ada empat risiko dampak perceraian bagi anak. Dampak tersebut, dapat berupa gangguan mental, perilaku, hingga prestasi belajarnya.

Berikut empat dampak pada perceraian pada anak, yang sangat patut untuk Anda ketahui.

1. Dampak perceraian bagi anak: risiko gangguan mental

Terlepas dari usia dan jenis kelamin, anak korban perceraian orangtua, memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan mental. Sebagian anak korban perceraian memang mampu melakukan penyesuaian, yang baru bisa pulih beberapa bulan kemudian. Namun, tak sedikit pula yang mengalami kondisi depresi dan gangguan kecemasan.

2. Dampak perceraian bagi anak: perilaku eksternalisasi

Dibandingkan dengan anak-anak dengan keluarga utuh, anak korban perceraian sangat rentan terhadap perilaku eksternalisasi, atau masalah perilaku yang ditujukan pada lingkungan luar. Beberapa contoh perilaku eksternalisasi tersebut, meliputi:

  • Conduct disorder, atau gangguan perilaku yang ditandai dengan penyimpangan norma sosial dan perampasan hak orang lain
  • Delinquency, atau kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur
  • Perilaku impulsif, atau melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang
Dampak perceraian bikin anak nakal
Si Kecil rentan menjadi nakal, karena orangtua yang bercerai

Selain itu, perceraian orangtua menempatkan anak pada risiko terhadap konflik dengan anak-anak lain seusianya.

3. Dampak perceraian bagi anak: perilaku berisiko

Selain rentan berperilaku tidak baik terhadap lingkungan luarnya, anak korban perceraian juga berisiko terhadap tindakan berbahaya, yang mengancam kesehatannya. Beberapa kemungkinan perilaku berisiko tersebut, yakni:

  • Melakukan penyalahgunaan obat terlarang
  • Melakukan seks di usia dini
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol sebelum waktunya

Menurut ahli, anak yang orangtuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau kurang, berisiko untuk menjadi aktif secara seksual sebelum menginjak usia 16 tahun.

Selain itu, anak-anak yang berpisah dari ayah mereka, juga berpotensi melakukan seks berganti-ganti pasangan selama masa remaja.

4. Dampak perceraian bagi anak: penurunan prestasi

Menurut ahli, anak yang menghadapi perceraian orangtuanya yang dikabarkan dengan tiba-tiba, memiliki masalah pada prestasi belajar di sekolah. Apabila anak sudah memperkirakan bahwa orangtuanya akan bercerai, kemungkinan dampaknya mungkin tidak separah kasus pertama.

Membantu anak untuk pulih dalam menghadapi perceraian orangtua

Karena perceraian juga sangat berat untuk anak, dan ada kemungkinan dampak-dampak perceraian bagianak, Anda juga harus terus mendampinginya untuk melewati momen pahit ini.

Berikut ini cara yang bisa Anda lakukan, untuk membantu anak menghadapi perceraian, dan mengantisipasi dampak yang lebih parah.

1. Meminta anak untuk jujur

Doronglah Si Kecil untuk terus menyampaikan setiap perasaannya terhadap perceraian Anda dan pasangan. Anda dapat mengungkapkan, mengetahui perasaannya sangat penting bagi Anda.

2. Menerima perasaan anak

Sampaikan pada anak, bahwa perasaan sedih dan marah yang ia rasakan merupakan hal yang wajar. Misalnya, Anda dapat menyampaikan bahwa Anda dan pasangan sangat memahami perasaan yang muncul dalam hatinya.

3. Menanyakan bantuan yang bisa Anda berikan

Anda dapat menawarkan bantuan, agar anak merasa lebih baik. Ada kemungkinan bahwa Si Kecil tidak tahu bantuan yang bisa Anda berikan, sehingga memberikan ide juga dianjurkan.

4. Meminta bantuan ahli

Walau kesedihan dan kemarahan Si Kecil dapat menjadi wajar, dampak perceraian bisa saja tidak kunjung hilang. Pada titik ini, mencari bantuan ahli seperti psikolog maupun psikiater, sangat disarankan.

Menanyakan perasaan anak
Tanyakan bantuan yang bisa Anda berikan pada anak, dalam menghadapi perceraian

Terapi dan layanan pendukung, mungkin akan disarankan oleh dokter. Terapi tersebut dapat berupa terapi individual bagi anak, maupun terapi keluarga untuk menyampaikan perubahan dalam dinamika keluarga Anda.

Catatan dari SehatQ

Tak hanya Anda dan pasangan yang akan sulit menghadapi perceraian. Si Kecil pun, sangat mungkin untuk mengalami kesulitan dalam menerima perceraian. Oleh karena itu, Anda harus terus mendampinginya.

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/parenting-family/children-and-divorce.htm
Diakses pada 23 Oktober 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/help-child-divorce.html
Diakses pada 23 Oktober 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/delinquency
Diakses pada 23 Oktober 2019

Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/psychological-effects-of-divorce-on-kids-4140170
Diakses pada 23 Oktober 2019

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/signs-of-conduct-disorder-in-children-4127239
Diakses pada 23 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed