Ini Beda Gangguan Hormon Tiroid Hipertiroidisme dan Tirotoksikosis

Gangguan hormon tiroid hipertiroidisme dan tirotoksikosis memiliki perbedaan maupun terlihat sama
Kelenjar tiroid terletak pada leher kita dan berfungsi mengatur kinerja tubuh

Kelenjar tiroid yang tidak bekerja secara normal, dapat mengakibatkan berbagai masalah. Salah satu gangguan hormon tiroid yang sering terjadi pada wanita ialah hipertiroidisme yang bisa berujung pada tirotoksikosis.

Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid bekerja terlalu aktif sehingga menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid. Hormon ini kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan dapat memicu kondisi tirotoksikosis. Meski demikian, kedua penyakit tiroid ini sebenarnya memiliki perbedaan.

Apa perbedaan hipertiroidisme dan tirotoksikosis?

Hipertiroidisme dan tirotoksikosis merupakan dua istilah yang kerap diartikan sama. Tapi sebetulnya terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya. Apa sajakah perbedaab tersebut?

1. Penyebab

Hipertiroidisme dapat mengakibatkan komplikasi berupa tirotoksikosis, yaitu kondisi di mana metabolisme tubuh menjadi lebih cepat. Namun tirotoksikosis tidak selalu disebabkan oleh hipertiroidisme. 

Hipertiroidisme paling sering disebabkan oleh Graves’ disease. Penyakit Graves adalah kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid dan mengganggu kinerjanya. Penyakit ini paling banyak dialami oleh wanita di bawah usia 40 tahun.

Ketika terkena gangguan hormon tiroid berupa penyakit Graves, Anda bisa mengalami kondisi bernama Graves’ ophtalmopathy. Kondisi ini memengaruhi mata, otot, serta jaringan di sekitar mata.

Akibatnya, mata penderita bisa tampak menonjol (exophthalmos), memerah, bengkak, nyeri atau terasa seperti tertekan, sensitif terhadap cahaya, kelopak mata menyusut, serta pandangan kabur atau ganda.

Di lain pihak, tirotoksikosis tidak hanya bisa disebabkan oleh hipertirodisme. Penyakit tiroid ini dapat muncul akibat banyak kondisi yang yang membuat kelenjar tiroid melepaskan terlalu banyak hormon ke dalam aliran darah. Berikut contohnya:

  • Tiroiditis atau peradangan pada kelenjar tiroid.
  • Infeksi virus atau bakteri.
  • Pengaruh penggunaan obat-obatan (misalnya lithium).
  • Anomali pada sistem kekebalan tubuh penderita.

2. Pengobatan

Pengobatan hipertiroidisme difokuskan untuk menurunkan kadar hormon di dalam tubuh. Misalnya dengan obat-obatan antitiroid, kapsul iodium radioaktif, maupun operasi pengangkatan kelenjar tiroid.

Prosedur penanganan tersebut juga bisa digunakan untuk mengatasi kondisi tirotoksikosis. Namun dokter juga umumnya akan menambah penggunaan obat beta blockers pada pasien tirotoksikosis. Obat ini akan meredakan gejala tirotoksikosis yang berhubungan dengan jantung.

Pemantauan secara berkala akan dianjurkan untuk melihat perkembangan keadaan pasien. Apabila kondisi hipertiroidisme dan tirotoksikosis tidak kunjung mereda meski Anda telah menjalani pengobatan, dokter akan mengubah dan menyesuaikan langkah penanganan dengan kondisi Anda. 

Persamaan hipertiroidisme dengan tirotoksikosis

Pada dasarnya, hipertiroidisme dan tirotoksikosis memiliki kesaamaan. Keduanya sama-sama tergolong gangguan hormon tiroid, yang memicu kelebihan hormon tiroid dalam tubuh penderita.

Oleh sebab itu, hipertiroidisme dan tirotoksikosis dapat memperlihatkan gejala yang relatif serupa. Pada wanita yang mengidap kelebihan hormon tiroid, ia akan mengalami sejumlah tanda di bawah ini:

  • Penurunan berat badan, meski Anda tidak melakukan perubahan pada pola makan dan beraktivitas seperti biasa.
  • Metabolisme tubuh yang terlalu cepat. Kondisi ini bisa ditandai dengan frekuensi buang air besar yang lebih sering,
  • Lebih mudah berkeringat meski cuaca tidak terlalu panas.
  • Jantung berdebar-debar, detak jantung yang lebih cepat, maupun detak jantung yang tidak beraturan.
  • Cemas, gugup, atau mudah marah (mood swing).
  • Tangan yang gemetar.
  • Otot-otot terasa lemah.
  • Kelenjar tiroid yang membengkak, sehingga leher akan terlihat membesar.
  • Khusus wanita, siklus menstruasi yang tidak beraturan.

Gejala-gejala di atas mungkin sangat awam dan bisa Anda merasakannya dalam kondisi normal sekalipun. Namun jangan abaikan jika Anda mengalaminya. Segera konsultasikan ke dokter agar diagnosis bisa dilakukan dengan tepat.

Langkah diagnosis hipertiroidisme dan tirotoksikosis

Ketika Anda mencurigai bahwa diri Anda mengalami gangguan hormon tiroid, segera hubungi dokter untuk melakukan tes darah. Melalui tes darah, dokter akan mengetahui kadar hormon stimulasi tiroid (thyroid-stimulating hormone/TSH), hormon tiroksin (T4), maupun triiodotironin (T3) dalam tubuh Anda. 

Kondisi terlalu banyak hormon tiroid akan ditandai dengan kadar TSH yang rendah, dengan jumlah T4 dan T3 yang tinggi. Meski begitu, hasil tes juga terkadang bisa menunjukkan hanya T3 yang mengalami kenaikan. 

Setelah Anda dinyatakan positif mengidap hipertiroidisme, dokter akan mencari tahu lebih rinci mengenai penyebab gangguan hormon tiroid ini. Pemeriksaan ini akan dilakukan dengan cara prosedur pencitraan dengan konsumsi kapsul besiri iodium radioaktif.

Meski disebut iodium radioaktif, obat ini tidak membahayakan tubuh. Pasalnya, kadar radioaktif di dalamnya hanya tingkat rendah, sehingga tidak akan berdampak buruk pada kesehatan.

Setelah semua tes selesai dan penyebab di balik gangguan hormon tiroid telah diketahui, dokter akan menentukan langkah pengobatan yang sesuai. Ini berarti, semakin cepat jenis penyakit tiroid diketahui, penanganan juga semakin cepat bisa dilakukan.

Dengan begitu, kompikasi yang tidak diingankan pun dapat dicegah. Jangan sampai kondisi Anda berlangsung berlarut-larut.

Semantic Scholar. https://pdfs.semanticscholar.org/1802/f0a17fb081532cacef64ddfd031f27658fc1.pdf
Diakses pada 1 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/overactive-thyroid-hyperthyroidism
Diakses pada 1 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/women/thyrotoxicosis-hyperthyroidism#1-3
Diakses pada 1 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/news/20150126/thyroid-trouble-may-harm-womens-fertility-study-finds#1
Diakses pada 1 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed