Ini Alasan Mengapa Manusia Senang Bercerita dan Mendengarkan Cerita


Mengapa kita tertarik mendengarkan cerita? Alasannya cerita dapat membuat orang terhibur dan terhanyut di dalamnya. Selain itu mendengarkan cerita memiliki manfaat positif seperti melindungi ingatan hingga menyembuhkan.

(0)
01 May 2021|Azelia Trifiana
Mendengarkan cerita sangat bermanfaat bagi otakMendengarkan cerita sangat bermanfaat bagi otak
Hampir semua orang menikmati bercerita maupun mendengarkan cerita. Otak bisa begitu tertarik pada narasi yang ada dalam cerita. Bahkan, tak jarang orang terhanyut dalam cerita yang sedang dibacanya karena ada bagian otak yang lebih aktif.Biasanya, cerita fiksi bisa membuat seseorang merasa asyik dan seakan lupa dengan sekitarnya. Apabila ditarik korelasinya dengan dunia psikologis, ternyata cerita punya manfaat tersendiri untuk terapi.

Mendengarkan cerita dan aktivitas otak

Dalam studi yang dipublikasikan pada Februari 2021 oleh The Ohio State University dan University of Oregon, aktivitas otak ketika membaca cerita menarik menjadi lebih aktif. Para peneliti melihat kinerja otak fans serial HBO “Game of Thrones” saat menghubungkan antara karakter dalam cerita dengan diri sendiri.Hasilnya, orang yang terhanyut dalam cerita GoT memiliki aktivitas otak lebih aktif. Terutama, pada saat melakukan refleksi diri berkaitan dengan karakter favorit mereka.Para peneliti meminta partisipan mengurutkan siapa di antara 9 karakter yang dinilainya paling dekat dengan dirinya. Skalanya mulai dari 0 hingga 100. Reaksi yang menjadi sorotan adalah ketika kesembilan karakter itu terbunuh.Kemudian, peneliti memindai aktivitas otak dengan mesin khusus. Terlihat ada perubahan aliran darah yang menandakan aktivitas otak. Fokusnya terutama pada ventral medial prefrontal cortex, bagian otak yang aktif ketika seseorang memikirkan dirinya dan orang-orang terdekatnya.Selama dipindai, partisipan melihat gambar berisi karakter Game of Thrones hingga foto dirinya sendiri. Di sampingnya, ada pula daftar sifat seperti pandai, bisa dipercaya, moody, pesimistis, dan lainnya. Lalu, partisipan diminta menjawab “ya” atau “tidak” tentang kecocokan karakter dan sifat yang muncul.Dengan kata lain, otak membuat seakan-akan dirinya hampir menjadi karakter dalam cerita itu. Inilah alasan mengapa cerita fiksi bisa menjadi hal yang menggugah bagi sebagian orang.

Aktivitas otak saat mendengarkan cerita

menonton tv
Menonton film termasuk mendengarkan cerita
Hasil dari eksperimen itu mengungkap bahwa aktivitas ventral medial prefrontal cortex paling tinggi saat partisipan mengevaluasi sifat yang mirip dengan diri mereka sendiri. Justru, aktivitas menjadi lebih rendah ketika partisipan berpikir tentang karakter Game of Thrones.Dari situ, terlihat bagaimana otak menggunakan cerita sebagai media untuk melakukan beberapa hal ini:

1. Melindungi ingatan

Cerita memberikan ruang agar ingatan tetap tertata rapi. Dengan demikian, cerita membantu mengingat informasi dengan cara menghubungkan beberapa bagian otak di saat bersamaan. Bukan hanya itu, emosi juga ikut tergugah sehingga menjadi semakin peka.

2. Proyeksi masa depan

Narasi yang ada dalam cerita juga membantu merancang masa depan. Ketika mengingat masa lalu sekaligus merancang masa depan, ada satu bagian otak yang bekerja lebih aktif. Inilah mengapa pasien amnesia parah juga bisa mengalami kesulitan membayangkan masa depannya.Apa yang terjadi di masa lalu menjadi bekal informasi terhadap proyeksi masa depan. Fenomena ini berlaku dalam berbagai aspek kehidupan.

3. Memikat perhatian orang lain

Bercerita juga merupakan cara memikat perhatian orang lain. Utamanya, apabila berkaitan dengan peristiwa yagn tengah terjadi. Pendengar mencatat format cerita yang tengah dituturkan, bahkan bukan tak mungkin mengelaborasinya lebih jauh lagi.Setelah mendapatkan perhatian orang lain, bercerita akan lebih mudah membuat orang terpengaruh. Cerita adalah satu-satunya cara yang mengaktifkan bagian otak sehingga apa yang didengarnya diubah menjadi ide dan pengalamannya sendiri.

4. Membangun rasa empati

Ketika bercerita, otak akan memproduksi oksitosin. Ini akan mengasah rasa empati kepada sesama karena bisa memiliki sudut pandang baru. Ketika ada cerita yang menganjurkan untuk berbuat baik, bisa jadi mengurangi gesekan sosial dan menjadi pemersatu orang.Lihat saja masyarakat yang terdiri dari banyak individu dengan sifat, tujuan, dan agenda berbeda-beda. Apa yang bisa menyatukan mereka selain kekerabatan? Cerita.

5. Menemukan identitas baru

Begitu bermaknanya cerita karena bisa membuat seseorang tergugah dan seakan punya identitas baru. Mendengarkan cerita akan memancing dialog dalam pikiran terus menerus. Fase kesadaran ini secara psikologis bersifat terapi dan baik untuk jiwa.

6. Menyembuhkan

Pakar kesehatan mental melihat bahwa klien dengan gangguan mental bisa merasa lebih percaya diri dan empati ketika mendengarkan cerita yang baik. Menghubungkan diri sendiri dengan salah satu karakter dalam cerita akan memberikan ruang untuk mengesampingkan masalah mental dan menjadi sosok lebih baik.Tak hanya itu, cerita juga membantu otak memproses emosi yang mungkin tidak mudah disampaikan. Namun, caranya sama sekali tidak mengintimidasi.Ada kekuatan menyembuhkan dari bercerita maupun mendengarkan cerita. Bisa muncul respons positif hingga harapan.

Catatan dari SehatQ

Cerita yang menggugah bisa jadi hanyalah fiksi dan tidak berdasarkan realita. Namun, studi menunjukkan bahwa untuk sebagian orang, sifat dari karakter fiksi ini bisa mengaktifkan bagian otak yang berperan dalam menilai diri sendiri atau konsep diri.Artinya, identitas diri sangat bisa merasa terkoneksi dengan karakter yang ada dalam cerita. Bukan hanya itu, potensi menyembuhkan dari cerita juga memberikan harapan menjanjikan untuk dunia medis.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar gejala gangguan mental dan kapan perlu menjalani terapi psikologis, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjaga kesehatanpola hidup sehat
Open Colleges. https://www.opencolleges.edu.au/informed/features/brain-love-stories/
Diakses pada 18 April 2021
Cognitive Neuroscience Society. https://www.cogneurosociety.org/memory_addis_yia/
Diakses pada 18 April 2021
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/the-effect-of-stories-on-your-brain-5118221
Diakses pada 18 April 2021
Social Cognitive and Affective Neuroscience. https://academic.oup.com/scan/advance-article/doi/10.1093/scan/nsab021/6143004
Diakses pada 18 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait