Proses sulam alis sama seperti membuat tato sehingga ibu hamil yang ingin melakukannya perlu memahami risikonya
Sebelum melakukan sulam alis, ibu hamil perlu memahami dulu risiko apa saja yang bisa dialami oleh dirinya dan janin dalam kandungan

Kerap melihat orang-orang mengunggah foto selfie dengan caption “I woke up like this”? Tentu, yang ingin ditonjolkan bukan wajah bangun tidur yang apa adanya, tapi yang “ada apanya”. Misalnya wajah dengan eyelash extension, sulam alis, hingga tato bibir.

Sekilas memang semua makeup permanen namun buatan itu terasa nyaman dan mudah. Sulam alis, misalnya. Tak perlu repot menggambar alis sebelum meninggalkan rumah tentu menghemat banyak waktu, bukan? Belum lagi alis yang tahan air dan tidak akan memudar meski beraktivitas seharian.

Tapi ingat, tetap ada risiko yang membayangi. Terutama, ketika konteksnya adalah melakukan sulam alis saat hamil.

Amankah sulam alis saat hamil?

Berbicara tentang sulam alis saat hamil, tidak sah rasanya tanpa berbicara tentang prosedur sulam alis. Prosedur ini dilakukan menggunakan jarum berukuran mikro yang bisa mengeluarkan warna “alis buatan” dengan pigmentasi tertentu.

Terapis akan menggambar barisan rambut yang menyerupai alis di lapisan terluar kulit. Bentuknya pun bisa disesuaikan dengan keinginan Anda. Nantinya, sulam alis ini akan terlihat seperti alis alami dan bertahan sekitar 1-3 tahun.

Tentu popularitas sulam alis bukan tanpa alasan. Alis memegang peranan yang cukup penting bagi wajah seseorang. 

Alis menonjolkan area mata, membentuk wajah, bahkan mengubah rona wajah seseorang. Tak heran, sulam alis saat hamil kadang juga menjadi hal yang menarik.

Namun sebelum melakukan sulam alis saat hamil, ada 7 hal yang harus Anda perhatikan:

  • Tes alergi

Sebelum melakukan sulam alis saat hamil, tes dulu apakah Anda memiliki alergi tertentu terhadap keseluruhan prosedur dan peralatan yang digunakan. Biasanya, Anda bisa meminta terapis untuk menguji coba di area kulit yang lebih kecil untuk memastikan tidak ada respon negatif.

Jangan ragu untuk bertanya apa saja prosedur yang akan Anda alami sejak awal sampai akhir.

  • Riset mendalam

Apapun yang akan Anda lakukan terhadap bagian tubuh Anda – terutama yang semi permanen hingga permanen – tentu butuh riset mendalam. Jangan ragu untuk membuka browser di ponsel Anda untuk mencari tahu apa risiko yang mungkin terjadi.

Apabila Anda telah menentukan pilihan ke sebuah salon kecantikan atau mempercayakan prosedur ini ke seorang pakar, cari tahu pengalaman orang yang sudah melakukan sulam alis dengannya. Semua informasi ini pasti tersedia di Internet atau dengan bertanya langsung pada kliennya.

  • Waspadai anestesi

Seperti halnya semua prosedur pemberian makeup permanen, terapis akan memberikan anestesi topikal (oles) ke area alis. Rupanya, ini menjadi salah satu risiko sulam alis saat hamil.

Anestesi topikal ini kemungkinan mengandung epinephrine yang bisa saja mengakibatkan detak jantung janin yang tidak stabil (fetal tachycardia). Biasanya hal ini bisa diketahui lewat pemeriksaan USG. 

  • Pastikan jarum steril

Jika keputusan telah benar-benar bulat untuk melakukan sulam alis saat hamil, pastikan jarum yang digunakan benar-benar steril dan sekali pakai. Menggunakan jarum bekas hanya akan meningkatkan risiko infeksi seperti HIV dan Hepatitis B yang bisa membahayakan ibu dan janin.

  • Pertimbangkan hormon saat hamil

Sulam alis saat hamil juga harus mempertimbangkan hormon sang calon ibu yang tidak stabil. Hormon kehamilan ini sangat berpengaruh terhadap sirkulasi darah sehingga lebih rentan mengalami perdarahan.

Ketika perdarahan di area alis terjadi lebih dominan, hasilnya bisa saja berpengaruh terhadap seberapa pekatnya alis yang digambar. Tak hanya itu, bisa saja hormon saat hamil berdampak pada penyerapan warnanya ke kulit.

  • Melasma

Pernah dengar istilah melasma? Ini adalah kondisi hiperpigmentasi atau kulit menggelap yang terjadi ketika seseorang hamil. Ciri-cirinya adalah area kulit yang menjadi semakin gelap di sekitar mulut, dahi, dan pipi.

Sulam alis saat hamil dan ketika sang ibu mengalami hiperpigmentasi bisa saja membuat terapis salah memilih warna pigmen yang tepat. Jika hal ini terjadi, kemungkinan alis Anda memiliki warna yang tidak cocok dengan warna alami kulit ketika melasma sudah mereda pascapersalinan.

  • Mual

Rasa kembung dan mual adalah hal yang akrab dialami ibu hamil. Pun ketika melakukan prosedur sulam alis saat hamil, rasa mual ini bisa muncul. Ternyata, hal ini juga bisa berpengaruh terhadap mood. 

Bentuk sulam alis bisa berubah ketika seseorang tak lagi hamil. Bisa saja, Anda tidak akan senang dengan perubahan ini.

Serba serbi makeup permanen

Menambahkan makeup permanen di area wajah sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, sudah banyak salon kecantikan yang menyediakan makeup permanen dengan sederet testimoni positif. Selama ditangani oleh pakar yang tahu betul prosedurnya, sulam alis tidak berbahaya.

Namun perlu diingat bahwa sulam alis melibatkan proses mikropigmentasi yang mirip dengan menggambar tato. Prosesnya adalah menusukkan jarum yang bekerja dengan menyuntikkan bahan tertentu di lapisan teratas kulit. 

Tentunya prosedur ini hanya akan dilakukan setelah memberikan anestesi ke kulit di area tersebut.  

Benang merahnya sama, ketika Anda melakukan prosedur sulam alis saat hamil, ada risiko infeksi yang mungkin dialami. Hal yang sama juga berlaku bagi ibu menyusui. Ketika seorang ibu hamil atau ibu menyusui mengalami infeksi, ada kemungkinan infeksi ini akan dialami oleh janin atau bayinya.

Mungkin menunggu sulam alis hingga masa hamil dan menyusui usai akan lebih aman dan hasilnya pun memuaskan. Para ibu tetap akan terlihat cantik kok, meski tanpa sulam alis. Hello pregnancy glow!

Parents. https://www.parents.com/pregnancy/my-baby/fetal-heart-arrhythmia/
Diakses 15 Agustus 2019

Parents. https://www.parents.com/parenting/moms/beauty/what-is-microblading-and-is-it-safe/
Diakses 15 Agustus 2019

WebMD. https://www.webmd.com/beauty/features/how-safe-permanent-makeup#1
Diakses 15 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed