Generasi Alpha Sangat Melek Teknologi, Orangtua Harus Bagaimana?

Generasi alpha cenderung memiliki opini yang terbentuk sejak dini.
Anak-anak generasi alpha memanfaatkan teknologi untuk bermain dan belajar.

Anak-anak yang baru lahir sampai yang duduk hingga kelas 4 sekolah dasar saat ini, termasuk generasi alpha. Generasi ini lahir pada 2010-2025 kelak. Secara garis besar, anak-anak yang masuk kategori ini, lahir di abad 21.

Anak-anak dari generasi alpha akan memiliki karakteristik yang khas, termasuk pada cara mereka belajar dan berinteraksi. Maka, orangtua dan pendidik juga perlu memahami kecenderungan sikap dan perilaku mereka seturut jamannya.

Anak zaman sekarang telah menghadapi dunia lewat perspektif yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perspektif ini juga menantang bagi para orangtua. Misalnya, perdebatan tentang efek bemain gadget, atau malah manfaatnya untuk belajar dan mengenal dunia?

Generasi alpha lahir di era teknologi, apa efeknya?

Selain bermain, gadget pun dimanfaatkan anak-anak
generasi alpha untuk belajar.

Hari ini, anak-anak balita sudah belajar mengoperasikan gawai layar sentuh sejak umur dua tahun. Ada kasus orangtua yang panik akan respons gawai kecerdasan artifisial saat anak balitanya berbicara untuk memberikan instruksi pada si gawai.

Teknologi memang akan menjadi bagian dari pertumbuhan anak-anak generasi alpha. Berikut ini adalah dua dampak penggunaan teknologi oleh generasi alpha.

  1. Anak belajar melalui IOT, internet of toys

    Tren teknologi dengan gawai kecerdasan artifisial dengan pengenalan citra dan suara, saat ini sudah menyasar anak-anak generasi alpha. Hasil penelitian terhadap anak-anak yang menggunakan gawai ini menunjukkan bahwa interaksi ini bisa berpengaruh untuk mengubah persepsi anak tentang kecerdasan saat bersekolah nanti.

    Artinya, anak akan cenderung mengartikan kecerdasan sebagai kemampuan menghafal. Namun, kita belum tahu konsekuensi lebih lanjutnya. Penelitian jangka panjang mengenai hubungan paparan layar gawai dengan perkembangan otak, masih dikembangkan dan terus berjalan.
  2. Orangtua harus lebih memperhatikan jejak digital

    Pada generasi sebelumnya, konten yang diunggah oleh para orangtua dan meninggalkan jejak digital, belum menjadi masalah besar. Namun saat ini, setiap gambar dan status yang disebar online bisa berkaitan langsung dengan portofolio seseorang, termasuk anak Anda kelak.

    Konten tersebut adalah informasi yang bisa diakses saat anak nantinya tumbuh dewasa, dan menapaki dunia pendidikan maupun karier profesional.
    Jadi, bukan hanya anak-anak yang perlu memperhatikan konten medsos.

    Para orangtua generasi X dan generasi alpha juga harus berhati-hati dalam memilih konten yang ingin disebar di Facebook, Instagram, maupun Twitter.

Generasi alpha berpotensi membawa pembaruan

Anak-anak dalam kelompok generasi alpha, lahir di era yang terpapar oleh keberagaman ras, suku, kebudayaan, agama, status sosial, dan kemajuan teknologi tentunya. Keberagaman inilah yang membuat generasi alpha bisa menerima perbedaan dengan lebih terbuka.

Generasi alpha yang lahir di era digital ini, dipengaruhi oleh perubahan yang cepat, dan akan mengalami evolusi dalam pemikiran. Generasi ini berpotensi pembaruan bagi kehidupan sosial, dan memajukan masyarakat.

Karena terbiasa hidup dalam keanekaragaman, mereka akan cenderung mempertahankan jati diri dan lebih siap untuk mengembangkan keterampilan unik atau soft skill. Misalnya kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, serta mencari solusi untuk permasalahan yang muncul.

Generasi alpha miliki opini yang terbentuk sejak dini

Suatu penelitian menemukan, sebagai generasi yang paling beragam, anak-anak alpha ini cenderung mampu bersikap adil terhadap semua orang. Penelitian membuktikan, generasi alpha mampu:

  • Menjaga diri agar tetap aman di sekolah
  • Berbagi makanan dengan orang lain
  • Berlaku adil terhadap semua orang, tanpa memandang jenis kelamin
  • Menjaga dan merawat lingkungan

Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak generasi alpha sudah memiliki pemikiran dan opini yang kuat mengenai keadaan dunia saat ini. Bahkan, pemikiran tersebut sudah terbentuk pada usia yang sangat dini, dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Lalu, bagaimana cara mendampingi generasi alpha sebagai orangtua?

Carikan teman belajar untuk Si Kecil,
agar ia tidak stres menghadapi pelajaran di sekolah.

Gangguan kecemasan adalah masalah yang kerap ditemukan pada anak-anak yang lahir setelah tahun 2000, termasuk generasi alpha. Hal ini harus Anda perhatikan.

Lingkungan sekolah ternyata bisa menyebabkan masalah bagi anak yang memiliki gangguan kecemasan. Oleh karena itu, orangtua perlu melakukan langkah-langkah di bawah ini untuk mendampingi dan mendidik generasi alpha:

  1. Menjalin komunikasi dengan guru

    Bermitralah dan berkomunikasilah secara intensif dengan guru, untuk mengawasi kondisi anak di sekolah. Jangan tunggu sampai anak menghindari pergi ke sekolah karena cemas berlebihan.
  2. Mencari teman belajar

    Pemicu kecemasan pada anak biasanya adalah tuntutan prestasi di kelas. Orangtua bisa bekerja sama dengan guru untuk meminimalisir pemicu tersebut, misalnya memasangkan anak dengan teman sekelasnya yang bisa membantu belajar.
  3. Mengarahkan anak untuk mencari zona tenang

    Orangtua bisa menyarankan anak untuk menemukan lokasi yang tenang saat suasana sekolah sedang ramai. Tujuannya, untuk menghindari rasa tidak aman akibat situasi yang ribur.
  4. Memastikan lingkungan rumah suportif bagi anak

    Bagi anak, rumah dan keluarga adalah tempat semuanya berawal. Pastikan suasana rumah bisa meredakan kecemasan anak dan mendukung perkembangan belajarnya.

Para orangtua saat ini bisa melihat generasi baru sedang terbentuk. Generasi yang sangat melek teknologi, sangat terbuka dan menerima perbedaan, serta paham isu penting di dunia.

Meski demikian, orangtua tetap berperan dalam membekali dan menanamkan nilai-nilai pada generasi alpha ini. Jadi sebagai orangtua, pastikan Anda memahami karakteristik Si Kecil yang termasuk generasi alpha.

Conde Nast. https://cnda.condenast.co.uk/wired/UnderstandingGenerationAlpha.pdf
Diakses pada 28 Januari 2020

Parents.com. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/style/who-is-generation-alpha/
Diakses pada 28 Januari 2020

Parents.com. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/style/generation-names-and-years-a-cheat-sheet-for-parents/
Diakses pada 28 Januari 2020

Ferris University. https://www.ferris.edu/HTMLS/administration/president/DiversityOffice/Definitions.htm
Diakses pada 28 Januari 2020

Quest Journals. http://www.questjournals.org/jrhss/papers/vol6-issue1/C610919.pdf
Diakses pada 28 Januari 2020

Fun Academy Finland. https://funacademy.fi/collaboration-as-a-life-skill/
Diakses pada 28 Januari 2020

McCrindle. https://mccrindle.com.au/insights/blog/make-way-for-gen-alpha/
Diakses pada 28 Januari 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/sg/blog/parenting-new-generation/201910/generation-anxious
Diakses pada 28 Januari 2020

Artikel Terkait