Infeksi Virus Rabies, Penyakit Gawat yang Harus Segera Ditangani

Virus rabies tidak hanya disebarkan oleh anjing saja
Anjing bukan satu-satunya penyebab infeksi virus rabies

Ketika berbicara tentang virus rabies, banyak orang akan menghubungkannya dengan gigitan anjing. Padahal, gigitan hewan lain juga dapat menularkan virus ini ke tubuh manusia, baik hewan peliharaan maupun hewan liar.

Rabies merupakan penyakit akibat infeksi virus yang dapat berakibat fatal bagi manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 99 persen kasus rabies yang diderita oleh manusia memang disebabkan oleh gigitan maupun cakaran anjing peliharaan yang air liurnya mengandung virus rabies ini.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menambahkan hewan lain yang bisa menularkan penyakit ini ke manusia adalah kelelawar, rakun, serigala, sigung, bahkan kucing dan monyet. Jika Anda baru digigit atau dicakar hewan-hewan di atas, langsung periksakan diri ke rumah sakit terdekat bahkan sebelum gejala rabies muncul.

Gejala infeksi virus rabies

Virus rabies yang masuk ke tubuh manusia tidak akan langsung menampakkan gejala. Sebaliknya, Anda akan terlebih dahulu melalui empat tahap infeksi virus ini, mulai dari fase inkubasi hingga koma dan meninggal dunia.

1. Inkubasi

Masa inkubasi adalah periode sebelum Anda mengalami gejala rabies. Periode ini biasanya berlangsung selama 3-12 minggu, namun juga bisa terjadi hanya dalam 5 hari hingga 2 tahun setelah Anda digigit atau dicakar hewan.

Semakin dekat cakaran atau gigitan dengan otak, maka semakin cepat gejala infeksi virus rabies akan muncul. Jika gejala itu muncul, maka akibatnya bisa fatal sehingga Anda sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila digigit hewan, terutama mamalia.

2. Prodormal

Ini adalah fase gejala awal dari penyakit rabies. Gejala ini biasanya mirip dengan flu, yakni:

  • Demam 38 derajat celcius atau lebih
  • Sakit kepala
  • Merasa tidak enak badan
  • Nyeri tenggorokan dan batuk
  • Mual dan muntah
  • Muncul rasa nyeri di area sekitar gigitan atau cakaran hewan.

Gejala di fase prodormal ini bisa berlangsung selama 2-10 hari. Intensitas gejalanya pun bisa meningkat dari hari ke hari.

3. Gangguan saraf akut

Jika gejala awal diabaikan, maka sistem saraf Anda mulai terganggu. Di fase ini, Anda akan mengalami gejala infeksi virus rabies, seperti:

  • Kelumpuhan di sebagian anggota tubuh, kedutan yang parah, kaku leher
  • Kejang
  • Sesak napas
  • Mulut memproduksi lebih banyak air liur, bahkan hingga mengakibatkan mulut Anda berbusa
  • Linglung
  • Takut minum air karena mengalami kesulitan menelan
  • Halusinasi, mimpi buruk, dan insomnia
  • Priapisme alias ereksi permanen (pada pria)
  • Takut akan cahaya.

Pada tahap ini, orang yang mengalami rabies akan bernapas dengan sangat cepat, namun dengan irama yang tidak beraturan.

4. Koma

Ketika infeksi virus rabies sudah sampai mengakibatkan koma, maka penderita bisa meninggal dunia dalam hitungan jam, kecuali ia mendapat bantuan medis lewat ventilator. Meski demikian, jarang ada penderita rabies yang bisa sembuh total dalam kondisi ini.

Pertolongan pertama untuk mencegah infeksi virus rabies

Jam-jam pertama setelah seseorang mengalami gigitan atau cakaran binatang adalah saat-saat krusial untuk memberi pertolongan pertama. Ada beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan untuk mencegah munculnya gejala infeksi virus rabies, yaitu:

  • Membersihkan luka dengan sabun dan memberikan cairan disinfektan.
  • Mendapatkan vaksin rabies sebanyak empat dosis dalam sebulan (bila Anda belum pernah divaksin rabies) atau dua dosis dalam jarak beberapa hari (bila Anda sudah pernah divaksin rabies).
  • Memberikan obat yang disebut immunoglobulin di sekitar luka untuk melindungi luka dari infeksi jangka pendek. Langkah ini hanya bisa dilakukan oleh petugas medis bila ia mendiagnosis Anda terkena infeksi virus rabies.

Meski jarang terjadi, vaksin rabies dan obat immunoglobulin mungkin dapat menyebabkan efek samping pada Anda. Efek samping tersebut adalah munculnya rasa nyeri, bengkak, atau gatal pada area yang diinjeksi, pusing, mual, sakit perut, hingga nyeri otot.

Sebagai langkah pencegahan, pastikan Anda melakukan imunisasi rabies sebelum bepergian ke area yang banyak terdapat anjing maupun hewan liar lainnya. Jika Anda memelihara anjing atau kucing, pastikan hewan kesayangan Anda tersebut sudah mendapat vaksinasi rabies.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rabies
Diakses pada 27 Maret 2020

CDC. https://www.cdc.gov/rabies/index.html
Diakses pada 27 Maret 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/rabies/
Diakses pada 27 Maret 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/181980
Diakses pada 27 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/rabies
Diakses pada 27 Maret 2020

Artikel Terkait