Benarkah Infeksi Klamidia dapat Menyerang Berbagai Organ?

Infeksi klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis.
Infeksi klamidia dapat menyerang mata dan paru-paru.

Infeksi klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini merupakan penyebab umum terjadinya infeksi menular seksual. Infeksi klamidia lebih banyak menjangkit wanita dibandingkan pria. Klamidia umumnya menjangkit alat reproduksi, namun bakteri ini juga dapat menyerang organ tubuh lainnya.

Seseorang yang terinfeksi klamidia, memiliki risiko tiga sampai empat kali lipat untuk tertular HIV. Infeksi klamidia dapat berupa infeksi primer atau kronis berulang (infeksi ulang). Infeksi klamidia akut umumnya tidak menyebabkan gejala sisa yang serius, sedangkan infeksi klamidia berulang/persisten pada klamidia kronis lebih berbahaya. Klamidia kronis berisiko lebih tinggi terjadinya gejala sisa dan infertilitas.

Infeksi Klamidia pada Saluran Reproduksi

Pada pria, infeksi klamidia menyebabkan terjadinya uretritis, yaitu infeksi pada uretra (saluran yang mengalirkan urine keluar dari kandung kemih). Infeksi klamidia yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit epididimitis, orkitis, dan prostatitis. Kondisi ini bisa mengakibatkan infertilitas pada pria.

Pria dengan infeksi klamidia memiliki kualitas ejakulasi yang lebih buruk dibandingkan pria yang tidak terinfeksi. Infeksi klamidia berulang bahkan bisa menyebabkan jaringan parut pada saluran ejakulasi. Beberapa penelitian menghubungkan infeksi klamidia dengan kualitas sperma, namun belum menunjukkan hasil yang bermakna.

Pada wanita, bakteri dapat menyerang serviks (leher rahim), uretra, dan endometrium (dinding rahim). Servisitis atau peradangan leher rahim pada infeksi klamidia bisa menyebabkan komplikasi berupa salfingitis (peradangan saluran indung telur) dan pelvic inflammatory disease (PID). Kondisi ini dapat menyebabkan infertilitas. Pada wanita yang sedang hamil, dapat terjadi ketuban pecah dini, korioamnionitis, kelahiran prematur, serta infeksi janin dan masa nifas.

Sebagian besar wanita yang terinfeksi klamidia tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, wanita berusia kurang dari 24 tahun dianjurkan untuk melakukan screening rutin terhadap infeksi klamidia.

Infeksi Klamidia pada Mata

Bayi baru lahir rentan mengalami infeksi klamidia jika dilahirkan dari ibu yang terinfeksi klamidia. Infeksi terjadi lewat jalan lahir yang terkontaminasi dengan bakteri klamidia saat persalinan.

Infeksi dapat terjadi pada mata sehingga menyebabkan konjungtivitis neonatal. Kondisi ini dapat ditemukan dalam 15 hari pertama setelah bayi lahir. Gejala yang dialami bisa berupa kotoran pada mata hingga pembengkakan kelopak mata.

Orang dewasa juga dapat mengalami konjungtivitis akibat infeksi klamidia. Kondisi ini umumnya terjadi bersamaan dengan infeksi klamidia pada saluran reproduksi. Infeksi yang berulang pada mata dapat menyebabkan jaringan parut dan membentuk trakoma. Trakoma adalah jaringan parut yang mengakibatkan kelopak mata terbalik sehingga posisi bulu mata dapat melukai permukaan bola mata.

Infeksi Klamidia pada Paru-paru

Klamidia juga dapat menyebabkan infeksi paru-paru seperti pneumonia. Kondisi ini ditemukan pada 10 persen bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi klamidia. Gejala klamidia pada bayi baru terlihat saat 1 sampai 3 bulan setelah lahir. Infeksi klamidia pada paru-paru bisa terjadi pada orang dewasa yang melakukan seks oral tanpa pengaman.

Mencegah Infeksi Klamidia

Jika Anda adalah seseorang yang aktif melakukan hubungan seksual, kenali pasangan Anda dan lakukanlah hubungan seks secara aman. Sebelum berhubungan, ada baiknya Anda dan pasangan saling mengetahui riwayat kesehatan masing-masing. Selain itu, hanya melakukan hubungan dengan satu pasangan akan menurunkan risiko Anda mengalami infeksi klamidia.

Gunakan kondom selama Anda berhubungan dengan pasangan. Hal ini berlaku untuk hubungan per vaginal, anal, maupun oral. Ingat bahwa penyebaran bakteri klamidia dapat terjadi melalui ketiga hal tersebut. Pastikan pula kondom terpasang dengan benar. Kondom berfungsi menghindari adanya kontak kulit dengan area sekitar yang mungkin terinfeksi klamidia.

Lee Y-S, Lee K-S. Chlamydia and Male Lower Urinary Tract Diseases. Korean J Urol. 2013 Feb;54(2):73–7.

Malhotra M, Sood S, Mukherjee A, Muralidhar S, Bala M. Genital Chlamydia trachomatis: An update. Indian J Med Res. 2013 Sep;138(3):303–16.

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2012/1215/p1127.html
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed