Infeksi Bubonic Plague di Tiongkok, Mungkinkah Mengulang Epidemi Black Death?

(0)
08 Sep 2020|Azelia Trifiana
Mengenal bubonic plague yang menelan jutaan jiwa di EropaWabah bubonik sempat merenggut jutaan nyawa di Eropa
Jauh di abad 14 silam, ada pandemi Black Death yang tercatat paling mematikan sepanjang sejarah. Menurut estimasi, 75 hingga 200 juta nyawa melayang akibat pandemi ini hanya dalam waktu 4 tahun. Kembali menghantui, awal Juli 2020 lalu di Tiongkok muncul kasus bubonic plague, infeksi serius akibat bakteri yang sama penyebab Black Death.Namun tentu menghadapi epidemi pada abad 14 dibandingkan dengan saat ini sudah jauh berbeda. Telah ada senjata ampuh bernama antibiotik yang bisa membantu menangkal bakteri Yersinia pestis penyebab bubonic plague. Pengetahuan tentang bagaimana mencegah penularan pun jauh lebih dipahami.

Mengenal infeksi bubonic plague

Laporan kasus infeksi bubonic plague pertama kali muncul dari seorang peternak di Bayannur, prefektur di Mongolia, Tiongkok. Sejak terkonfirmasi pada 5 Juli, otoritas setempat langsung mengumumkan waspada level 3. Warga diminta menghindari berburu, mengonsumsi, atau mengirim hewan yang berpotensi menularkan penyakit ini.Penularan bakteri Y. pestis penyebab bubonic plague melalui kutu atau hewan pengerat seperti tikus, tupai, atau kelinci. Seseorang yang mendapat gigitan atau cakaran, atau kontak langsung dengan jaringan atau cairan dari hewan yang terinfeksi Y. pestis dapat mengalami gejala Black Death.Gejala ketika seseorang mengalami bubonic plague adalah:
  • Demam
  • Muntah
  • Pendarahan
  • Gagal organ
  • Luka terbuka
Jika tidak segera ditangani, bakteri bisa masuk ke aliran darah dan mengakibatkan sepsis. Bahkan ketika bakteri menginfeksi paru-paru, bisa menyebabkan pneumonia. Belum lagi di tengah pandemi COVID-19 yang belum kunjung reda, adanya bubonic plague lengkap menambah rumit situasi.

Akankah Black Death terulang?

Munculnya laporan kasus bubonic plague di Tiongkok memunculkan kekhawatiran, akankah epidemi Black Death terulang? Mengingat epidemi Black Death terjadi karena jenis bakteri yang sama. Namun untungnya, kemungkinan itu cukup kecil.Setiap tahunnya, hanya beberapa ribu kasus dilaporkan dari penjuru dunia. Sebagian besar kasus datang dari Afrika, India, dan Peru. Selama manusia tidak menyentuh hewan pembawa bakteri bubonic plague, kemungkinan tertular sangat rendah.Selain itu, bakteri Y. pestis juga bisa mati jika terpapar sinar matahari. Ketika bakteri ini terlepas ke udara bebas, periode untuk bertahan sekitar 1 jam bergantung pada kondisi lingkungannya.Lebih melegakan lagi, bubonic plague tidak menular dari orang ke orang. Lain perkara jika penderita bubonic plague sudah terinfeksi hingga ke paru-paru dan mengalami pneumonia. Kemungkinan penularan lewat air liur atau droplet saat batuk itu ada. Namun lagi-lagi, ini sangat langka.

Menghadapi infeksi bakteri tak seperti dulu

Saat ini antibiotik untuk melawan bubonic plague sudah tersedia
Jika dibandingkan dengan masa epidemi Black Death di abad 14, kini dunia medis sudah jauh lebih siap melakukan pencegahan penularan bubonic plague. Bisa diketahui bagaimana cara pencegahannya, utamanya dengan menghindari menyentuh hewan sakit atau mati di area yang terjadi transmisi.Tak hanya itu, dunia medis sudah bisa mengobati pasien yang terinfeksi bubonic plague dengan antibiotik. Hal ini dapat menyembuhkan seseorang sebelum infeksi bakteri menjadi kian parah. Akan jauh lebih baik apabila antibiotik diberikan dalam waktu 24 jam sejak gejala pertama kali muncul.Menurut CDC, penanganan yang tepat untuk infeksi bubonic plague telah berhasil menurunkan angka kematian hingga 11%. Selain antibiotik, pasien juga bisa diberikan perawatan seperti cairan infus, oksigen, dan alat bantu pernapasan.Jika seseorang belum terinfeksi bubonic plague namun pernah menyentuh hewan yang diduga membawa bakteri, antibiotik juga bisa diberikan sebagai langkah pencegahan.Jadi, tak perlu khawatir. Adanya laporan kasus bubonic plague bukan alarm tanda bahaya akan kembalinya era epidemi Black Death. Jika situasi menjadi kian parah pun, dunia medis sudah semakin handal menanganinya.Pakar medis meyakinkan bahwa dunia kesehatan saat ini telah memiliki teknologi dan sumber daya yang jauh lebih siap untuk menghadapi bubonic plague. Dengan demikian, kemungkinannya berkembang menjadi sebuah epidemi mematikan pun bisa dicegah.
penyakit paru-parupenyakitinfeksi bakteri
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/seriously-dont-worry-about-the-plague
Diakses pada 24 Agustus 2020
Newscientist. https://www.newscientist.com/article/mg17223184-000-did-bubonic-plague-really-cause-the-black-death/
Diakses pada 24 Agustus 2020
Live Science. https://www.livescience.com/what-was-the-black-death.html   
Diakses pada 24 Agustus 2020
CDC. https://www.cdc.gov/plague/faq/index.html#whatDiakses pada 25 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait