Obat Imunosupresan untuk Menekan Sistem Imun, Apa Gunanya?

Imunosupresan adalah kelas obat yang berperan untuk menekan sistem imun, contohnya yakni sirolimus
Sirolimus adalah adalah satu contoh obat yang termasuk dalam kelas imunosupresan

Dalam beberapa kondisi, sistem imun akan perlu ‘dilemahkan’, seperti pada pasien gangguan autoimun atau pada pasien yang menerima transplantasi organ. Obat penekan sistem imun disebut dengan imunosupresan. Ketahui lebih jauh mengenai jenis-jenis obat imunosupresan dan efek sampingnya.

Apa itu imunosupresan?

Imunosupresan adalah kelompok obat-obatan yang dapat menekan atau melemahkan sistem imun tubuh. Beberapa jenis obat dalam kelompok ini digunakan untuk mengatasi gangguan autoimun.

Obat-obatan imunosupresan lain juga digunakan untuk menurunkan risiko penolakan tubuh terhadap transplantasi atau pencangkokan organ. Misalnya, dalam dalam transplantasi jantung, hati, atau ginjal. Obat-obatan ini disebut dengan obat anti-rejeksi.

Kondisi yang ditangani obat imunosupresan

Seperti yang disampaikan di atas, terdapat dua kelompok kondisi yang dapat diatasi dengan obat imunosupresan. Kondisi tersebut, yaitu:

1. Gangguan autoimun

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh penderitanya. Obat imunosupresan dapat menekan atau menghambat reaksi sistem imun tersebut karena dapat ‘melemahkan’ sistem imun. Dengan begitu, efek dari penyakit autoimun diharapkan dapat berkurang.

Gangguan autoimun yang dapat diatasi dengan imunosupresan, yaitu:

2. Transplantasi organ

Sebagian besar pasien yang menerima transplantasi organ harus mengonsumsi obat imunosupresan atau anti-rejeksi. Sebab, sistem imun seringkali menganggap organ yang diterima sebagai benda asing, sehingga mereka pun menyerang organ tersebut.

Kondisi ini dapat berbahaya bagi pasien dan kadang organ tersebut harus diangkat kembali.

Berdasarkan durasi penggunaannya, terdapat dua jenis obat anti-rejeksi, yaitu:

  • Obat induksi, yakni obat anti-rejeksi yang digunakan saat proses transplantasi organ
  • Obat pemeliharaan, digunakan untuk jangka panjang

Kategori obat dalam kelas imunosupresan

Ada beberapa jenis obat-obatan imunosupresan. Obat yang dikonsumsi pasien akan bergantung pada apakah pasien akan menjalani prosedur transplantasi ginjal, menderita gangguan autoimun, atau kondisi lain. Obat yang diresepkan pada pasien seringkali lebih dari satu kategori dalam kelas imunosupresan.

  • Kortikosteroid: prednisone, budesonide, dan prednisolone
  • Penghambat janus kinase: tofacitinib
  • Penghambat calcineurin: siklosporin dan tacrolimus
  • Penghambat mTOR: sirolimus dan everolimus
  • Penghambat IMDH: azathioprine, leflunomide, dan mikofenolat
  • Obat biologis: abatacept, adalimumab, anakinra, certolizumab, dan etanercept
  • Antibodi monoklonal: basiliximab dan daklizumab

Bentuk penanganan dokter menggunakan obat imunosupresan

Obat-obatan imunosupresan merupakan obat resep. Obat dalam kelompok ini dapat berupa tablet, cair, kapsul, dan injeksi.

Dalam menangani kondisi pasien, dokter mungkin akan meresepkan kombinasi obat-obatan yang akan membantu menekan sistem imun, dengan efek samping yang serendah dan sesedikit mungkin.

Bagi penderita autoimun, dokter akan menyesuaikan dosis obat dengan respons tubuh terhadap imunosupresan. Sementara itu, bagi pasien penerima transplantasi organ, dokter mungkin akan mengurangi dosis obat seiring berjalannya waktu. Sebab, reaksi penolakan tubuh terhadap organ tersebut cenderung akan berkurang.

Walau begitu, penting untuk diketahui bahwa banyak penerima pencangkokan organ yang harus mengonsumsi satu jenis obat imunosupresan, sepanjang hidupnya.

Pasien yang mengonsumsi imunosupresan akan perlu menjalani tes darah secara berkala. Tes darah ini membantu dokter mengetahui efektivitas obat yang dikonsumsi, atau mencari tahu apakah ada efek samping obat tersebut.

Ikuti dengan baik terkait arahan dokter dalam mengonsumsi obat apapun. Laporkan pula pada dokter apabila terdapat dosis yang terlupa dikonsumsi.

Efek samping dan interaksi obat imunosupresan

Efek samping dan interaksi imunosupresan dapat berbeda tergantung jenis obat yang dikonsumsi. Anda dianjurkan berkonsultasi dengan dokter terkait kemungkinan efek samping obat yang akan diresepkan untuk mengatasi masalah yang diderita. Pastikan Anda juga menyampaikan obat atau suplemen yang sedang dikonsumsi untuk menghindari interaksi obat.

Imunosupresan dapat melemahkan sistem imun. Dengan begitu, risiko infeksi mungkin dapat terjadi. Hubungi dokter dengan segera apabila Anda mengalami gejala infeksi berikut:

  • Demam atau menggigil
  • Rasa sakit di sisi punggung bagian bawah
  • Sulit buang air kecil
  • Sakit saat buang air kecil
  • Sering buang air kecil
  • Rasa lelah atau lemah yang tidak biasa

Peringatan konsumsi imunosupresan, termasuk untuk bumil dan busui

Imunosupresan dapat memicu masalah pada orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Sampaikan pada dokter masalah medis yang diderita, sebelum mengonsumsi obat imunosupresan. Beberapa masalah medis tersebut, misalnya:

  • Alergi pada obat tertentu
  • Memiliki riwayat cacar api atau cacar air
  • Menderita gangguan hati atau ginjal

Selain itu, untuk ibu hamil dan menyusui, beberapa jenis obat imunosupresan dapat menyebabkan cacat pada janin. Beberapa obat lain juga dapat memicu risiko yang mungkin lebih ringan selama periode kehamilan dan masa laktasi.

Untuk itu, konsultasikan pula pada dokter jika Anda berencana hamil sebelum mengonsumsi imunosupresan. Begitu juga jika Anda sedang hamil saat harus mengonsumsi obat-obatan ini.

Catatan dari SehatQ

Imunosupresan adalah kelompok obat yang dikonsumsi untuk menekan sistem imun. Obat ini dikonsumsi untuk mengatasi gangguan autoimun, atau jika Anda akan menerima organ dari orang lain. Konsultasikan dengan dokter terkait semua kondisi Anda, termasuk gangguan medis yang tengah diderita, riwayat penyakit, hingga obat dan suplemen yang sedang dikonsumsi.

Healthline. https://www.healthline.com/health/immunosuppressant-drugs
Diakses pada 9 Maret 2020

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=25054
Diakses pada 9 Maret 2020

National Kidney Foundation. https://www.kidney.org/atoz/content/immuno
Diakses pada 9 Maret 2020

Artikel Terkait