Imunisasi IPV, Si Vaksin Polio yang Penting untuk Anak


Imunisasi IPV sebenarnya adalah imunisasi polio. Hanya saja, berbeda dari vaksin polio tetes yang banyak dikenal, imunisasi ini diberikan dengan cara disuntikkan.

0,0
Imunisasi IPV adalah vaksin polio yang disuntikkan.Imunisasi IPV penting untuk cegah polio diberikan dengan cara disuntik.
Imunisasi IPV atau inactivated poliovirus vaccine merupakan salah satu vaksin untuk mencegah polio.Tidak hanya vaksin oral polio vaccine (OPV) yang diberikan melalui mulut, pencegahan terhadap infeksi virus polio dapat dilakukan dengan cara pemberian imunisasi polio injeksi atau suntikan.Sebagai orang tua, Anda mungkin sudah sering mendengar istilah imunisasi wajib. Yang dimaksud dengan imunisasi wajib adalah vaksin yang harus diberikan oleh semua negara, termasuk imunisasi IPV dan vaksin polio tetes, tetanus, pertusis, campak, hepatitis B, dan rotavirus.

Perbedaan imunisasi IPV dan vaksin polio tetes

Baik IPV maupun OPV, kedua vaksin ini sama-sama bertujuan untuk melindungi tubuh dari penyakit polio. Namun, ada perbedaan antara keduanya, yakni:

1. Jadwal imunisasi

Imunisasi IPV diberikan mulai usia 2 bulan
Untuk memenuhi jadwal imunisasi dasar lengkap, pemberian imunisasi IPV dilakukan sebanyak empat kali di usia:
  • 2 bulan.
  • 4 bulan.
  • 6 hingga 18 bulan.
  • 4 hingga 6 tahun.
Sementara, pemberian vaksin OPV dilakukan sebanyak 3 kali saat:
  • Baru lahir.
  • Usia 6 hingga 12 minggu
  • Pemberian kedua dilakukan 8 minggu setelah pemberian dosis pertama.
  • Usia 6 hingga 18 bulan.

2. Efek samping

Bayi rewel adalah efek samping pemberian imunisasi IPV
Pada penelitian yang terbit pada jurnal Pathogens and Global Health, efek samping yang kerap dijumpai setelah mendapatkan vaksin OPV adalah:Meski jarang, efek samping serius dari vaksin ini adalah:Sementara itu, menurut penelitian yang terbit pada jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama menimbulkan efek samping berupa:Meski jarang ditemukan, vaksin IPV ini juga menimbulkan efek samping, seperti:Efek samping yang umum biasanya akan hilang dalam waktu 3-4 hari. Meski demikian, kadang efek tersebut berlangsung lebih lama.Untuk mengatasi efek sesudah imunisasi tersebut, Anda bisa mengompres anak menggunakan air hangat, tidak menyelimuti anak, memakaikan baju tipis, dan sering memberinya minum, entah itu ASI, maupun susu sesuai usianya.Apabila kondisi tersebut tidak membaik dan berat badan anak belum kunjung bertambah, segera periksakan ke dokter.

3. Cara kerja vaksin

Imunisasi IPV bekerja dengan cara menghasilkan antibodi di darah
IPV bekerja dengan cara menghasilkan antibodi di dalam darah untuk menangkal tiga jenis virus polio. Tujuannya, untuk melindungi tubuh dari kondisi paralytic poliomyelitis.Jika virus menjangkiti tubuh, antibodi tersebut mencegah virus menyebar ke sistem saraf pusat. Oleh karena itu, tubuh pun terlindung dari kelumpuhan akibat polio. Sementara, OPV mengandung virus yang dilemahkan. Virus ini mampu berproses (bereplikasi) di dalam usus. Namun, ukuran virus di dalam vaksin ini 10 ribu lebih sedikit daripada virus polio liar.Karena jumlahnya yang sedikit, virus tidak mampu menjangkiti sistem saraf pusat. Oleh karena itu, hal ini membuat kekebalan tubuh mampu menangkal virus polio. Vaksinasi ini pun digunakan untuk memberantas virus polio yang ada di suatu daerah.

4. Pertimbangan pemberian IPV

Pertimbangan imunisasi IPV berguna untuk cegah risiko lumpuh
Pada kasus tertentu, ada efek samping serius yang ditemukan setelah pemberian virus OPV, yaitu kelumpuhan atau vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP). Hal ini dikarenakan vaksin OPV terbuat dari virus polio yang telah dilemahkan.Sayangnya, pada anak yang menderita masalah kekebalan tubuh, virus yang dilemahkan ini mampu menimbulkan kasus VAPP.Meski demikian, kasus ini hanya terjadi sebanyak 2-4 dari satu juta pemberian vaksinasi. Bahkan, risiko terjadi polio akibat belum mendapatkan vaksin jauh lebih besar daripada kasus VAPP.Untuk itu, pada orang dengan masalah kekebalan tubuh, pemberian IPV lebih dipertimbangkan daripada OPV.Menurut penelitian yang diterbitkan jurnal Cochrane Library, pertimbangan lainnya adalah OPV merupakan vaksin yang lebih diutamakan di daerah endemik yang masih terdapat virus polio. Sementara, IPV lebih digunakan di negara-negara dengan kondisi virus polio yang telah terberantas.

5. Keuntungan dan kelemahan vaksin IPV

Kelemahan imunisasi IPV adalah virus bisa menyebar lewat tinja
Dibandingkan vaksin OPV, vaksin suntik mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Terlebih, karena tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada risiko berupa kelumpuhan akibat VAPP.Meski demikian, IPV menghasilkan tingkat kekebalan yang sangat rendah di usus. Akibatnya, jika seseorang yang diberi vaksin IPV terinfeksi virus polio liar, virus tersebut masih menginfeksi dan berkembang biak di usus. Lalu, virus tersebut keluar melalui tinja. Hal ini meningkatkan risiko penyebaran virus polio.

Kandungan imunisasi IPV

Imunisasi IPV diproduksi dari strain virus polio tipe acak. Masing-masing telah dimatikan dengan formalin.Sebagai vaksin yang disuntikkan, imunisasi IPV bisa diberikan secara tersendiri maupun dikombinasikan dengan vaksin lain, seperti vaksin difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, maupun haemophilus influenza.

Kelompok yang tidak boleh imunisasi IPV

Meski berguna untuk melindungi tubuh dari penyakit polio, ada kelompok anak yang tidak boleh mendapatkan suntikan IPV. Imunisasi IPV tidak boleh diberikan pada anak yang:

1. Mengalami alergi hingga mengancam nyawa

Tunda pemberian imunisasi IPV jika anak alami alergi berat
Anak yang pernah mengalami alergi hingga membahayakan nyawa setelah sebelumnya mendapat suntikan IPV, tidak boleh menerima imunisasi ini lagi.Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter mengenai kandungan vaksin dan kondisi anak sebelum menjalani imunisasi.

2. Sedang sakit

Tunggu anak sembuh jika akan memberikan imunisasi IPV
Saat sedang sakit pilek ringan, anak sebenarnya tetap boleh divaksin. Namun, ketika sakitnya lebih berat, tunggulah sampai anak sembuh sepenuhnya

Efek tidak mendapatkan imunisasi IPV

Jika tidak menyuntikkan imunisasi IPV, anak rentan mengalami cacat
Meski ada sejumlah efek samping yang mungkin terjadi setelah divaksin, anak tetap harus mendapatkan imunisasi.Sebab, apabila Si Kecil tidak memperoleh vaksin dasar lengkap, sistem kekebalan tubuhnya tidak cukup kuat untuk melawan berbagai penyakit.Akibatnya, kuman yang masuk ke tubuh bisa mengakibatkan sakit parah, cacat, bahkan berujung pada kematian.Selain itu, tanpa imunisasi, anak berpotensi menyebarkan kuman pada orang-orang terdekat, termasuk keluarga dan teman-teman bermainnya. Jika hal ini terjadi, bukan mustahil wabah akan muncul.Jadi, sebagai orang tua, Anda bertanggung jawab untuk melindungi Si Kecil dan orang-orang sekitar dengan melengkapi imunisasi wajibnya.

Catatan dari SehatQ

Imunisasi IPV diberikan dengan cara suntik. Vaksin ini bekerja dengan cara menghasilkan antibodi dalam darah. Oleh karena itu, vaksin IPV tidak mengandung virus yang telah dilemahkan.Pertimbangan pemberian imunisasi IPV adalah jika anak memiliki masalah kekebalan tubuh. Sebab, vaksinasi jenis ini memperkecil risiko mengalami kelumpuhan akibat virus yang telah dilemahkan pada kandungan vaksin.Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut terkait imunisasi IPV, konsultasikan segera pada dokter anak melalui chat di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Apabila Anda ingin mendapatkan keperluan ibu dan anak, kunjungi untuk mendapatkan penawaran menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
vaksin bayi dan anakimunisasi anakpolio
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
Diakses pada 23 September 2020
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
Diakses pada 23 September 2020
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada 13 November 2020
CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/polio/public/index.html
Diakses pada 23 September 2020
WHO. https://www.who.int/biologicals/areas/vaccines/polio/ipv/en/
Diakses pada 23 September 2020
WHO. https://in.vaccine-safety-training.org/polio-vaccine-example.html
Diakses pada 13 November 2020
WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/polio-vaccine-ipv#1
Diakses pada 23 September 2020
Pathogens and Global Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4083159/
Diakses pada 13 November 2020
Morbidity and Mortality Weekly Report CDC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5730215/
Diakses pada 13 November 2020
Cochrane Library. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6465194/
Diakses pada 13 November 2020
Polio Global Eradication Initiative. http://polioeradication.org/polio-today/polio-prevention/the-vaccines/ipv/
Diakses pada 13 November 2020
Polio Global Eradication Initiative. http://polioeradication.org/polio-today/polio-prevention/the-vaccines/opv/
Diakses pada 13 November 2020
RX List. https://www.rxlist.com/orimune-drug.htm
Diakses pada 13 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait