Imunisasi IPV, Si Vaksin Polio yang Penting untuk Anak

(0)
04 Oct 2020|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Imunisasi IPV adalah vaksin polio yang disuntikkan.Imunisasi IPV penting untuk cegah polio.
Sebagai orangtua, Anda mungkin sudah sering mendengar istilah imunisasi wajib. Yang dimaksud dengan imunisasi wajib adalah vaksin yang harus diberikan oleh semua negara, termasuk imunisasi IPV dan vaksin polio tetes, tetanus, pertusis, campak, hepatitis B, dan rotavirus.Vaksin polio tetes atau OPV harus diberikan pada anak-anak berusia 2, 4, 6, dan 18 bulan. Namun vaksin ini juga dapat diberikan saat anak menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan sesuai anjuran pemerintah. Sementara itu, imunisasi IPV alias vaksin polio suntik, diperlukan oleh anak berumur 2, 4, 6-18 bulan, serta 6-8 tahun.

Imunisasi IPV dan vaksin polio tetes, apa bedanya?

Imunisasi IPV diberikan dengan cara disuntikkan.
Inactivated poliovirus vaccine (IPV) dan oral poliovirus vaccine (OPV) sama-sama bertujuan untuk melindungi tubuh dari penyakit polio. Namun, ada perbedaan antara keduanya, sebagai berikut ini.

1. Imunisasi IPV

Imunisasi IPV diberikan melalui suntikan pada lengan atau tangan, tergantung usia pasien. Anak-anak harus mendapatkan imunisasi IPV dalam empat dosis terpisah.

2. Imunisasi polio tetes (OPV)

Berbeda dari imunisasi IPV yang disuntikkan, OPV diberikan dengan cara diteteskan ke mulut anak. Imunisasi polio jenis ini masih banyak dijumpai di banyak negara, meskipun Amerika Serikat sudah tidak menggunakannya.

Ini kandungan imunisasi IPV

Imunisasi IPV diproduksi dari strain virus polio tipe acak, yang masing-masing telah dimatikan dengan formalin. Sebagai vaksin yang disuntikkan, imunisasi IPV bisa diberikan secara tersendiri, maupun dikombinasikan dengan vaksin lain seperti vaksin difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, maupun haemophilus influenza.Pemberian imunisasi IPV telah berhasil memberantas penyakit polio di sejumlah negara. IPV bekerja dengan memberikan serum kekebalan untuk tiga jenis virus polio, untuk melindungi tubuh dari kondisi paralytic poliomyelitis.Namun sampai saat ini, kebanyakan negara memang masih menggunakan vaksin polio tetes atau OPV. Itulah sebabnya, masyarakat Indonesia mungkin lebih familiar dengan imunisasi polio tetes.

Imunisasi IPV jadi pantangan anak dengan kondisi ini

Meski berguna untuk melindungi tubuh dari penyakit polio, ada kelompok anak yang tidak boleh mendapatkan suntikan IPV. Imunisasi IPV tidak boleh diberikan pada anak yang:
  • Mengalami alergi hingga mengancam nyawa

    Anak yang pernah mengalami alergi hingga membahayakan nyawa, setelah mendapat suntikan IPV sebelumnya, tidak boleh menerima imunisasi ini lagi. Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter mengenai kandungan vaksin dan kondisi anak, sebelum menjalani imunisasi.
  • Sedang sakit

    Saat sedang sakit pilek ringan, anak sebenarnya tetap boleh divaksin. Namun ketika sakitnya lebih berat, tunggulah sampai anak sembuh sepenuhnya, sebelum membawanya untuk imunisasi IPV.

Efek samping imunisasi IPV

Beberapa anak yang mendapat suntikan polio, mengalami nyeri dan kemerahan pada area suntikan. Namun selebihnya, vaksin ini biasanya tidak menimbulkan masalah.Namun seperti halnya obat-obatan lain, vaksin polio tetap berisiko menimbulkan masalah serius, misalnya reaksi alergi berat. Meski demikian, kecil kemungkinannya bagi imunisasi IPV untuk menyebabkan gangguan medis parah.
Memberi susu pada anak bisa meredakan demam akibat vaksin.
Selain itu, anak mungkin mengalami demam, pembengkakan pada area suntikan, dan rewel setelah divaksin. Anda tidak perlu panik, karena kondisi ini normal terjadi. Efek samping tersebut biasanya akan hilang dalam waktu 3-4 hari. Meski demikian, kadang efek tersebut berlangsung lebih lama.Untuk mengatasi efek sesudah imunisasi tersebut, Anda bisa mengompres anak menggunakan air hangat, tidak menyelimuti anak, memakaikan baju tipis, dan sering memberinya minum, entah itu ASI, jus buah, maupun susu, sesuai usianya. Apabila kondisi tersebut tidak membaik dan berat badan anak belum kunjung bertambah, segera periksakan ke dokter.

Apa jadinya kalau anak tidak mendapat imunisasi?

Meski ada sejumlah efek samping yang mungkin terjadi setelah divaksin, anak tetap harus mendapatkan imunisasi. Sebab apabila Si Kecil tidak memperoleh vaksin dasar lengkap, sistem kekebalan tubuhnya tidak cukup kuat untuk melawan berbagai penyakit.Akibatnya, kuman yang masuk ke tubuh bisa mengakibatkan sakit parah, cacat, bahkan berujung pada kematian. Selain itu, tanpa imunisasi, anak berpotensi menyebarkan kuman pada orang-orang terdekat, termasuk keluarga dan teman-teman bermainnya. Jika hal ini terjadi, bukan mustahil wabah akan muncul.Jadi, Anda sebagai orangtua memiliki tanggung jawab untuk melindungi Si Kecil dan orang-orang sekitar, dengan melengkapi imunisasi wajibnya.

Catatan dari SehatQ

Anda selama ini mungkin mendengar berbagai informasi tentang vaksin yang membuat cemas. Untuk mendapatkan informasi valid tentang imunisasi, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
vaksin bayi dan anakimunisasi anakpolio
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
Diakses pada 23 September 2020
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
Diakses pada 23 September 2020
CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/polio/public/index.html
Diakses pada 23 September 2020
WHO. https://www.who.int/biologicals/areas/vaccines/polio/ipv/en/
Diakses pada 23 September 2020
WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/polio-vaccine-ipv#1
Diakses pada 23 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait