Impostor Syndrome, Ketika Hidup Dilanda Keraguan dan Takut Gagal

Impostor syndrome ditandai dengan perasaan selalu ragu terhadap kemampuan diri dan takut gagal
Ilustrasi orang yang mengalami kegagalan

Selalu berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik tentu bukanlah hal yang buruk. Namun, bagaimana jika Anda justru terus-menerus meragukan kemampuan diri?

Kecenderungan untuk selalu meragukan diri sendiri merupakan salah satu ciri dari impostor syndrome. Kondisi ini tergolong sebagai gangguan psikologis yang perlu ditangani.

Apa itu impostor syndrome?

Impostor syndrome adalah istilah psikologi untuk perilaku seseorang yang selalu merasa takut gagal dan meragukan kemampuannya. Ironisnya, kondisi ini justru kerap dialami oleh mereka yang berprestasi.

Meski sudah ada bukti nyata hasil dari usaha yang dilakukan, mereka yang mengalami impostor syndrome akan tetap menilai bahwa keberhasilan tersebut hanya keberuntungan belaka dan bukan karena kemampuannya.

Kondisi ini mungkin bisa menjadi motivasi Anda untuk terus mengembangkan diri dan memberikan yang terbaik. Namun, jika semakin parah dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang, impostor syndrome dapat berpotensi menjadi depresi.

Ada beberapa tipe impostor syndrome dengan karakteristik yang berbeda-beda. Berikut penjelasannya.

1. The perfectionist (si perfeksionis)

Penderita impostor syndrome dengan tipe ini akan selalu mengejar kesempurnaan. Bahkan, ketika mereka berhasil mengerjakan sesuatu, mereka akan cenderung tetap merasa tidak puas.

Kondisi ini akan semakin parah ketika mereka mengalami kegagalan, di mana mereka akan semakin sering meragukan kemampuan diri dan merasa cemas.

2. The expert (si ahli)

Seperti halnya the perfectionist, the expert akan selalu merasa tidak puas. Mereka tidak akan berhenti mengerjakan atau mempelajari sesuatu sebelum mereka benar-benar menguasainya.

3. The natural genius (si genius alami)

Meski dapat dengan mudah dan cepat menguasai keterampilan baru, the natural genius cenderung akan merasa sangat lemah dan malu ketika mereka gagal.

4. The superhero (si pahlawan super)

Tipe impostor syndrome yang satu ini umumnya cukup keras terhadap diri mereka sendiri, pekerja keras, dan ahli dalam beragam bidang.

Messki begitu, mereka yang memiliki tipe the supehero cenderung akan mengalami burnout atau jenuh pada pekerjaan yang dapat memengaruhi kesehatan fisik, hubungan, dan bahkan mental.

5. The soloist (si solois)

Seperti namanya, the soloist umumnya segan atau cenderung menghindari meminta bantuan dalam mengerjakan pekerjaannya. Pasalnya, mereka berpikir bahwa meminta bantuan orang lain akan menunjukkan kekurangan atau ketidakmampuan mereka.

Gejala impostor syndrome

Berikut ini adalah beberapa gejala impostor syndrome yang dapat diidentifikasi:

  • Merasa keberhasilan adalah bagian dari keberuntungan dan bukan karena hasil kerja keras
  • Merasa tidak pantas sukses
  • Merasa bahwa bantuan orang lain atau relasi mengurangi rasa sukses terhadap apa pencapaiannya
  • Merasa tidak pantas mendapatkan pujian
  • Merasa tidak ada yang spesial dari dirinya dan kemampuan yang dimilikinya pasti juga dimiliki oleh orang lain
  • Tidak percaya diri dengan kemampuannya
  • Merasa bahwa pencapaiannya berkat pertolongan orang banyak dan bukan karena kemampuannya.

Selain itu, seorang penderita impostor syndrome umumnya sangat menghindari kegagalan dan berusaha keras memberikan hasil terbaik.           

                        

Tips mengatasi impostor syndrome

Jika Anda mengalami beberapa gejala di atas, cobalah untuk mengatasi impostor syndrome dengan beberapa tips di bawah ini.

1. Pelajari lebih dalam mengenai impostor syndrome

Lebih banyak mencari tahu mengenai impostor syndrome dapat membantu Anda dalam memahami gejala yang mungkin Anda rasakan. Dengan memiliki pemahaman yang komprehensif, secara perlahan Anda dapat menghilangkan rasa ragu terhadap diri sendiri.

2. Ceritakan apa yang Anda alami

Membicarakan apa yang Anda alami dengan teman atau kerabat dekat, dapat membantu Anda dalam mengatasi sindrom ini. Menceritakan masalah yang dialami akan membantu Anda untuk bisa membedakan antara kenyataan dan persepsi.

3. Belajar menerima ketidaksempurnaan

Ketidaksempurnaan dan kekeliruan adalah hal yang wajar terjadi dalam hidup. Oleh sebab itu, Anda perlu mulai belajar untuk menerimanya. Belajar menerima ketidaksempurnaan dapat membantu Anda untuk menjadi lebih bahagia dan bersyukur.

4. Catat segala pencapaian

Terkadang, lebih mudah menilai suatu keadaan jika Anda mencatatnya. Oleh karena itu, cobalah untuk mulai mencatat apa saja pencapaian Anda selama ini agar Anda lebih sadar bahwa kesuksesaan tersebut adalah hal yang nyata.

5. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain

Berhentilah membandingkan diri Anda dengan orang lain. Pasalnya, hal ini hanya akan semakin memperburuk keadaan Anda.

Tips mengatasi impostor syndrome yang tidak kalah penting adalah belajar untuk melawan pikiran negatif. Pasalnya, takut gagal, merasa tidak pantas, hingga ragu akan kemampuan diri sendiri adalah bagian dari pikiran negatif yang sangat berperan terhadap sindrom ini.

Jadi, jika Anda merasakan beberapa gejala impostor syndrome, cobalah untuk mengatasinya dengan beberapa cara di atas. Jika cara di atas tidak efektif, Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk mencegah kondisi ini memburuk.

Mulai sekarang, sayangi diri dengan menghargai segala bentuk pencapaian Anda. 

Psychology today
https://www.psychologytoday.com/us/blog/real-women/201809/the-reality-imposter-syndrome
Diakses 11 April 2020

Verywell Mind
https://www.verywellmind.com/imposter-syndrome-and-social-anxiety-disorder-4156469
Diakses 11 April 2020

Medical News Today
https://www.medicalnewstoday.com/articles/321730#overcoming-imposter-syndrome Diakses 11 April 2020

Psych central
https://psychcentral.com/blog/9-telltale-signs-of-impostor-syndrome/
Diakses 11 April 2020

Artikel Terkait