Ibu dan Janin Beda Golongan Darah Bisa Bahaya! Ini Alasannya

Jika golongan darah ibu dan janin berbeda, anemia pada janin bisa terjadi.
Perbedaan golongan darah ibu dan janin bisa menimbulkan anemia pada bayi.

Pada masa kehamilan, terkadang ada kondisi yang kemunculannya tidak dapat dicegah baik dari pola hidup sehat ataupun perawatan dokter. Misalnya, perbedaan golongan darah antara ibu dan janin. Kondisi yang disebabkan karena faktor genetik ini, pada keadaan tertentu bisa membahayakan bayi.

Janin yang memiliki golongan darah berbeda dari ibunya, berisiko menderita anemia serta jaundice, (suatu kondisi penyebab bayi lahir kuning).

Meski perbedaan golongan darah tersebut tidak dapat dicegah, risiko serta komplikasinya dapat dikurangi, apabila segera dilakukan perawatan yang tepat.

[[artikel-terkait]]

Inkompatibilitas golongan darah

Setiap manusia memiliki golongan darah dengan karakteristiknya masing-masing. Itulah sebabnya, saat Anda ingin mendonorkan darah, maka akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh, agar penerima donor, mendapatkan darah dengan karakteristik yang cocok.

Orang yang memiliki golongan darah A, tentu tidak dapat mendonorkan darahnya untuk individu bergolongan darah B.

Selain itu, pemilik golongan darah A resus negatif, tidak bisa menerima darah dari pendonor dengan golongan darah A resus positif, meski keduanya bergolongan darah A.

Hal ini juga berlaku pada ibu hamil dan bayi yang sedang dikandungnya, dengan golongan darah berbeda, baik dari jenis maupun resus. Pada kondisi ini, sistem imun ibu akan menganggap sel darah janin sebagai benda asing.

Sehingga, sama seperti saat bakteri masuk ke tubuh, sistem imunnya akan berusaha untuk melawan dan menghancurkan benda asing tersebut karena dilihat sebagai ancaman. Setelah itu, akan terbentuk memori di sistem imun yang akan terus mengenali sel darah merah janin sebagai benda asing.

Namun, perlu diingat, bahwa bercampurnya darah ibu dan janin ini umumnya terjadi saat proses persalinan. Pada proses ini, plasenta terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran.

Hal ini membuat inkompatibilitas golongan darah, lebih banyak terjadi pada kehamilan anak kedua dan seterusnya.

Risiko jika ibu dan janin berbeda golongan darah

Karena sistem imun ibu terus menerus menyerang sel darah merah janin, maka jumlah sel darah merah pada janin menjadi berkurang. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya anemia pada janin.

Anemia pada janin kemudian dapat berkembang dan menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi seperti:

  • Jaundice.  Kondisi ini membut bayi akan terlihat kuning, saat lahir terutama pada mata, kulit dan selaput lendir.
  • Pembesaran pada organ hati dan limpa
  • Hydrops fetalis. Kondisi ini terjadi saat organ tubuh dari janin tidak mampu lagi
    menghadapi anemia yang terjadi, sehingga timbul gagal jantung. Selain itu, kondisi ini
    juga menyebabkan menumpuknya cairan di organ serta jaringan lainnya. Hydrops
    fetalis bisa menyebabkan kematian pada janin.

Setelah bayi lahir, inkompatibiltas golongan darah pun masih dapat terus menimbulkan gangguan. Tidak menutup kemungkinan, kondisi ini berkembang menjadi Hemolytic Disease of the Newborn (HDN), dan menyebabkan penyakit seperti:

1. Jaundice yang parah

Pada kondisi ini, organ hati pada bayi sudah tidak dapat mampu menangani banyaknya jumlah bilirubin, akibat sel darah merah yang terus menerus rusak. Pada bayi dengan jaundice yang parah, hatinya dapat terus membengkak dan anemia.

2. Kernicterus

Produksi bilirubin yang berlebih tersebut, dapat membuatnya menumpuk hingga ke otak. Kondisi kernicterus ini sangat berbahaya bagi bayi karena dapat menimbulkan berbagai gangguan seperti kejang, kerusakan otak, bayi menjadi tuli, hingga kematian.

Perawatan pada perbedaan golongan darah ibu dan janin

Jika perbedaan yang terjadi adalah perbedaan resus antara ibu dengan calon bayinya, dokter umumnya akan memberikan suntikan resus imunoglobulin saat kehamilan pertama. Suntikan akan diberikan dua kali, yaitu pada usia kehamilan memasuki 28 minggu, dan 72 jam sebelum proses persalinan.

Suntikan ini akan bekerja dengan cara yang sama dengan vaksin. Resus imunoglobulin akan mencegah terbentuknya antibodi yang akan menyerang sel darah merah janin, akibat perbedaan resus. Sementara itu untuk mencegah HDN, dokter dapat melakukan dua langkah berikut ini.

1. Memberikan transfusi sel darah merah ke janin

Pada prosedur ini, jarum akan dimasukkan ke rahim lalu ke pembuluh darah pada tali pusar, untuk memberikan pasokan sel darah merah, sebagai pengganti sel darah yang rusak. Prosedur ini dapat mencegah anemia berkembang lebih parah menjadi hydrops fetalis.

2. Melakukan persalinan sebelum waktunya

Jika inkompatibilitas ini sudah menimbulkan komplikasi pada janin dan perkembangan paru-paru janin dianggap sudah baik, maka dokter dapat menyarankan proses persalinan untuk dimulai lebih awal. Hal ini dilakukan untuk mencegah komplikasi yang terjadi bertambah parah.

Perbedaan golongan darah antara ibu dan janin hanya bisa dideteksi jika Anda rutin memeriksakan kandungan ke dokter sejak masa awal kehamilan. Karena itu, jangan sampai melewatkan jadwal kontrol Anda, dan jalani kehamilan sehat dengan senantiasa mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=rh-disease-
90-P02498
Diakses pada 9 Mei 2019

Children’s Hospital of Wisconsin. https://chw.org/medical-care/fetal-concerns-
center/conditions/pregnancy-complications/blood-type-incompatibility
Diakses pada 9 Mei 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/rh.html
Diakses pada 9 Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed