Hubungan Disfungsi Ereksi, Diabetes, dan Penis Bengkok yang Harus Diwaspadai Pria

Kontrol gula darah dan menurunkan berat badan dapat mengurangi diabetes, peyronie, dan disfungsi ereksi
Penyakit peyronie memiliki hubungan dengan diabetes dan disfungsi ereksi.

Kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan saraf. Penis termasuk organ yang seringkali terkena dampak diabetes. Oleh karena itu, adanya disfungsi ereksi pada penderita diabetes sudah tidak asing lagi. Faktor risiko disfungsi ereksi salah satunya adalah diabetes. Pria dengan diabetes memiliki kemungkinan mengalami disfungsi ereksi tiga kali lebih besar daripada pria yang tidak diabetes.

Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan ereksi sehingga tidak mampu bersenggama. Pada penderita diabetes, disfungsi ereksi terjadi akibat kerusakan pada pembuluh darah kecil pada penis, padahal ereksi terjadi ketika pembuluh darah penis penuh terisi darah saat ada rangsangan seksual.

Penelitian oleh Arafa M, et al, menemukan bahwa tidak hanya diabetes berhubungan dengan disfungsi ereksi, tetapi juga dengan penyakit Peyronie. Mereka meneliti pasien diabetes dengan disfungsi ereksi. Ternyata sekitar 1 dari 5 pasien menderita penyakit Peyronie, di mana sekitar 80% pasien mengalami penis bengkok.

Sebuah studi lain, oleh Kendirci M, menunjukkan bahwa ternyata kondisi diabetes memperparah penyakit Peyronie, jika dibandingkan kerusakan penis pada penderita nondiabetes. Penyakit Peyronie adalah terjadinya penis bengkok ketika ereksi yang disebabkan oleh adanya plak atau jaringan parut di bawah kulit. Hampir 30% dari penderita diabetes, juga menderita penyakit Peyronie berat, yaitu dengan sudut bengkok lebih dari 60°. Hal ini mungkin berhubungan dengan kondisi diabetes yang mempercepat pembentukan jaringan parut pada penis.

Bagaimana Cara Mengobati Komplikasi Penyakit-penyakit ini?

Menderita diabetes dengan segala komplikasinya bukanlah suatu hal yang mudah. Ditambah lagi jika sudah terjadi komplikasi disfungsi ereksi. Namun ada hal yang dapat membantu penyembuhan ketiga penyakit yang saling berhubungan ini, yaitu mengontrol gula darah.

  • Studi menemukan bahwa pada penderita diabetes dengan penyakit Peyronie yang gula darahnya terkontrol, terjadi perbaikan gejala penyakit Peyronie. Besarnya plak yang menyebabkan penis bengkok dan rasa nyeri jauh berkurang. Sebaliknya pada kelompok kontrol yang tidak dikontrol gula darahnya, plak bertambah besar dan nyeri tidak berkurang.
  • Salah satu pengobatan disfungsi ereksi yang efektif adalah menggunakan obat golongan Phosphodiesterase-5 inhibitors (PDE5i), seperti sildenafil, vardenafil, tadalafil dan avanafil. PDE5i efektif untuk terapi disfungsi ereksi, baik pada pasien dengan diabetes ataupun prediabetes. Namun yang perlu jadi catatan adalah pengobatan dengan PDE5i menjadi tidak efektif jika gula darah tidak terkontrol. Sedangkan jika kadar gula darah terkontrol, efek klinis yang dicapai akan lebih baik.

Menyikapi temuan-temuan penelitian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa diabetes mellitus dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan memperparah derajat bengkoknya penis akibat penyakit Peyronie. Penyakit Peyronie sendiri juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi. Oleh karena itu, adanya kedua penyakit ini dapat mengakibatkan disfungsi ereksi yang lebih berat.

Kontrol Gula Darah Anda

Mengontrol gula darah sangatlah penting, baik untuk mengontrol diabetes, mencegah bertambah parahnya penyakit Peyronie, dan untuk mendukung keberhasilan pengobatan disfungsi ereksi. Bagi penderita disfungsi ereksi, ada baiknya memeriksa kadar gula darah untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami merupakan komplikasi dari diabetes.

Mengontrol gula darah bukanlah suatu hal yang mudah. Selain dengan meminum obat diabetes, Anda bisa coba terapkan hal-hal berikut dalam kehidupan sehari-hari:

  • Berhenti Merokok

Merokok semakin mempersempit pembuluh darah kecil, sehingga memperparah disfungsi ereksi. Efek radikal bebasnya juga memperparah radang yang disebabkan oleh kondisi hiperglikemia akibat diabetes.

  • Menurunkan Berat Badan

Kelebihan berat badan dapat memperparah kondisi disfungsi ereksi, dan memiliki kaitan erat dengan diabetes.

  • Menambah Aktivitas Fisik

Dengan olahraga, aliran darah menjadi lebih lancer, sehingga membantu menurunkan berat badan, dan mengurangi stres.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/erectile-dysfunction/in-depth/erectile-dysfunction/art-20043927
Diakses pada Mei 2019

Maiorino MI, et al. Diabetes and sexual dysfunction: current perspectives. Diabetes Metab Syndr Obes. 2014;7:95-105. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3949699/
Diakses pada Mei 2019

Arafa M, et al. The prevalence of peyronie’s disease in diabetic patients with erectile dysfunction. International Journal of Impotence Research. 2017;19:213-17. https://www.nature.com/articles/3901518
Diakses pada Mei 2019

Kendirci M, et al. Diabetes mellitus is associated with severe peyronie’s disease. BJUI. 2007; Vol 99(2):383-86. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1464-410X.2007.06611.x
Diakses pada Mei 2019

Tefekli A, et al. Peyronie’s disease: a silent consequence of diabetes mellitus. Asian J Androl 2006;8(1):75-9. http://www.asiaandro.com/archive/1008-682X/8/75.htm
Diakses pada Mei 2019

Cavallini G, Paulis G. Improvement of chronic peyronie’s disease symptoms after diabetic compensation: a retrospective study. Urology. 2013:81(4):794-8. https://www.goldjournal.net/article/S0090-4295(12)01575-0/pdf
Diakses pada Mei 2019

Boeri L. Undiagnosed prediabetes status is associated with a reduced effectiveness of phosphodiesterase type 5 inhibitors in men with erectile dysfunction. IJIR. 2019. https://www.nature.com/articles/s41443-019-0149-4#rightslink
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed