logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Wanita

Jenis-jenis Hormon Menstruasi yang Memengaruhi Siklus Haid

open-summary

Empat hormon menstruasi adalah estrogen, progesteron, follicle stimulating hormon (FSH), dan luteinizing hormone (LH). Keempat hormon tersebut memiliki peran dalam fase siklus menstruasi, mulai dari fase ovulasi sampai fase folikular.


close-summary

3.86

(7)

29 Mar 2021

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Hormon yang berperan dalam menstruasi adalah estrogen, progesteron, LH dan FSH

Hormon menstruasi berperan mengatur lancar atau tidaknya siklus

Table of Content

  • Peran hormon menstruasi dalam siklus haid
  • Cara menyeimbangkan hormon menstruasi agar sehat

Proses haid yang terjadi di tubuh diatur oleh hormon. Hormon yang bertanggung jawab untuk siklus menstruasi adalah hormon estrogen, hormon progesteron, luteinizing hormone (LH), dan follicle stimulating hormone (FSH).

Advertisement

Jika kadar hormon-hormon di atas tidak seimbang, maka akan ada gangguan pada siklus menstruasi. Perempuan dengan kelainan kadar hormon, biasanya mengalami haid yang tidak teratur.

Peran hormon menstruasi dalam siklus haid

Siklus haid atau menstruasi berlangsung dalam empat fase, yaitu fase menstruasi, fase folikuler, fase ovulasi, dan fase luteal.

Di masing-masing fase tersebut, hormon menstruasi yang terdiri dari estrogen, progesteron, LH, dan FSH, menjalankan fungsinya sehingga wanita bisa melalui siklus haid yang normal. Berikut penjelasannya.

• Hormon estrogen

Estrogen adalah hormon seks wanita, berperan untuk menumbuhkan dan mematangkan dinding rahim yang menebal saat fase luteal dalam siklus menstruasi

Fase luteal adalah bagian dalam siklus haid yang terjadi sebelum fase menstruasi. Pada fase luteal, kadar hormon estrogen dan progesteron akan meningkat dan memicu terjadinya penebalan dinding rahim sebagai persiapan kehamilan.

Apabila kemudian kehamilan tidak terjadi karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma, maka lapisan dinding rahim yang menebal tadi akan meluruh. Jaringan yang luruh itu akan keluar dari vagina dalam bentuk darah.

Darah inilah yang kita kenal sebagai darah menstruasi. Keluarnya darah pertama kali menandakan awal siklus haid.
Pada fase menstruasi, kadar estrogen dan progesteron di tubuh akan kembali menurun karena tubuh tidak lagi membutuhkannya untuk menebalkan dinding rahim.

Sebagian besar estrogen di tubuh diproduksi di indung telur dan sebagian kecilnya dihasilkan di kelenjar adrenal serta jaringan lemak.

• Hormon progesteron

Progesteron juga termasuk sebagai hormon seks wanita. Hormon ini berfungsi untuk menyeimbangkan efek hormon estrogen di tubuh dan dikenal juga sebagai hormon penenang.

Sama seperti estrogen, progesteron adalah hormon menstruasi yang berperan besar saat fase luteal.

Tugas utama hormon ini saat fase luteal adalah mengontrol pertumbuhan dinding rahim agar tidak berlebihan sekaligus menjaga strukturnya apabila kehamilan benar-benar terjadi.

Sementara itu, apabila kehamilan tidak terjadi, kadarnya akan menurun saat tubuh memasuki fase menstruasi.

• Follicel stimulating hormone (FSH)

Follicel stimulating hormone (FSH) adalah hormon dari kelenjar pituitari pada otak, dan bertugas untuk menstimulasi folikel di indung telur untuk mematangkan sel telur yang diproduksi.

Masa pematangan sel telur sebelum akhirnya dilepaskan ke rahim disebut sebagai fase folikuler. Dalam siklus menstruasi, dimulainya produksi FSH menandakan awal terjadinya fase ini.

Fase folikuler biasanya dimulai pada hari pertama darah haid keluar, sehingga waktunya beririsan dengan fase menstruasi, dan berakhir saat fase ovulasi dimulai.

Fase ini umumnya berlangsung selama 16 hari, meski bsia berbeda pada setiap wanita, tergantung dari siklus menstruasinya.

• Luteinizing hormone (LH)

Sama seperti FSH, LH juga diproduksi di kelenjar pituitari. Dengan adanya LH, sel telur yang sudah dimatangkan oleh FSH akan dilepaskan ke rahim sehingga bisa dibuahi.

Proses pelepasan sel telur yang sudah matang ke rahim inilah yang disebut sebagai fase ovulasi.

Fase ovulasi adalah masa paling subur dalam siklus menstruasi. Jika Anda berhubungan selama fase ovulasi tanpa menggunakan alat kontrasepsi, maka kemungkinan terjadinya kehamilan cukup tinggi.

Jika lama siklus menstruasi Anda adalah 28 hari, maka masa ovulasi biasanya jatuh di hari ke-14 dan akan berlangsung selama kurang lebih 24 jam. Setelah itu, jika tidak ada pembuahan yang terjadi, maka sel telur akan mati atau luruh.

Setelah fase ovulasi selesai, maka fase luteal dimulai dan produksi hormon estrogen dan progesteron akan meningkat, sehingga membuat siklus menstruasi kembali ke awal.

Baca Juga: Fungsi Lengkap Hormon FSH dan LH untuk Tubuh Manusia

Cara menyeimbangkan hormon menstruasi agar sehat

Apabila siklus menstruasi Anda tidak teratur, maka ada kemungkinan kadar hormon menstruasi di tubuh menjadi tidak seimbang.

Selain siklus tidak teratur, gejala ketidakseimbangan hormon lainnya adalah jerawat sering muncul, mudah lelah, hingga kerap mengalami perubahan suasana hati (mood swings).

Untuk mengatasi gangguan hormon, tentu Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Namun dalam keseharian, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar kesimbangan hormon di tubuh tetap terjaga, seperti:

  • Memperbanyak konsumsi buah segar (bukan jus atau buah kaleng) yang tinggi kandungan antioksidan, seperti strawberry dan blueberry
  • Meningkatkan konsumsi sayuran berbagai warna agar bisa mendapatkan nutrisi dan vitamin yang lengkap
  • Mencukupi kebutuhan vitamin C secara alami dari makanan
  • Mengonsumsi Omega-3 alami dari ikan atau kacang-kacangan
  • Membatasi konsumsi kafein dari kopi dan soda
  • Menikmati hangatnya segelas teh hijau
  • Berolahraga secara teratur
  • Meredakan stres dengan melakukan hobi, mencoba yoga, ataupun teknik relaksasi lainnya
  • Memperbanyak minum air putih
  • Menghindari konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak jenuh seperti gorengan, daging olahan seperti bakso dan sosis.

Melakukan langkah-langkah di atas tidak hanya mampu menjaga keseimbangan hormon, tapi juga mengurangi risiko terkena berbagai penyakit berbahaya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar hormon menstruasi maupun kesehatan reproduksi wanita lainnya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

hormon sekssiklus haidhaidmenstruasihormon

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved