logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Bayi & Menyusui

Hipotonia pada Bayi alias Infant Floppy Syndrome, Apa Sebabnya?

open-summary

Hiptonia pada bayi adalah kondisi kelainan otot yang membuat otot kehilangan kekuatan dan pengidapnya terlihat lemas hingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


close-summary

16 Jun 2021

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Hipotonia adalah kelainan otot yang membuat bayi terlihat lemas dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya

Hipotonia membuat bayi tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya seperti kaki, tangan, dan leher

Table of Content

  • Gejala hipotonia pada bayi yang perlu diwaspadai
  • Penyebab hipotonia pada bayi
  • Pemeriksaan untuk mendiagnosis hipotonia pada bayi
  • Cara merawat hipotonia pada bayi

Hipotonia adalah kelainan otot yang biasanya terdeteksi pada bayi sejak lahir. Pada bayi yang mengalami hipotonia, tonus ototnya buruk sehingga tidak bisa mendukung pergerakan dan membuatnya terlihat lemas dan tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya.

Advertisement

Hiptonia pada bayi sering juga disebut sebagai floppy infant syndrome. Penyakit ini dapat dikenali dengan mudah karena gejalanya sangat khas, sehingga membuat bayi tidak memiliki kekuatan otot, kemampuan motorik yang baik, dan kelainan di otak.

Dokter biasanya mampu mendeteksi hiptonia saat bayi baru lahir. Beberapa bayi ada yang baru terdeteksi setelah usia beberapa bulan, tapi biasanya tidak lebih dari usia enam bulan.

Gejala hipotonia pada bayi yang perlu diwaspadai

Gejala hipotonia pada bayi bisa dideteksi sejak awal kelahiran dan sebagian lagi baru terlihat ketika bayi sudah memasuki usia tertentu dan belum memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang bisa dikuasai teman sebayanya.

Berikut ini beberapa gejala hipotonia pada bayi maupun ketika ia sudah mulai bertambah usia.

  • Tidak bisa mengendalikan gerakan kepala dengan baik
  • Mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar, seperti tidak bisa merangkak
  • Mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus, seperti tidak bisa menggenggam pensil atau crayon
  • Tidak memiliki refleks yang baik
  • Kekuatan ototnya lemah
  • Anggota tubuhnya terlalu lentur atau fleksibel
  • Gangguan bicara
  • Postur tubuhnya terganggu
  • Cepat lelah saat beraktivitas
  • Gangguan makan yang ditandai dengan bayi tidak bisa mengisap dan mengunyah dalam waktu yang lama
  • Napas pendek-pendek

Penyebab hipotonia pada bayi

Ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan otot pada bayi ini, yaitu:

  • Kerusakan otak akibat kurangnya asupan oksigen saat lahir
  • Kelainan otak yang terbentuk sejak di dalam kandungan
  • Kelainan saraf
  • Cerebral palsy
  • Cedera saraf tulang belakang
  • Infeksi yang parah
  • Achondroplasia

Pada beberapa kasus, penyebab hipotonia pada bayi tidak diketahui secara jelas. Kondisi ini disebut sebagai benign congenital hipotonia dan tidak memicu gejala separah hipotonia yang disebabkan oleh penyakit tertentu.

Anak dengan benign congenital hipotonia biasanya tidak mengalami gangguan pada sistem saraf pusat dan tingkat kecerdasannya pun normal. Hanya saja, saat melakukan kegiatan fisik seperti berlari, melompat, atau berjalan, gerakannya akan lebih lambat.

Hipotonia pada bayi juga tidak selalu permanen. Pada bayi yang prematur, misalnya, kondisi ini bisa saja dialami di awal kelahiran, tapi membaik seiring dengan perkembangan anak dan perawatan yang dilakukan.

Pemeriksaan untuk mendiagnosis hipotonia pada bayi

Untuk memastikan atau mendiagnosis kondisi hipotonia pada bayi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, maupun beberapa tes tambahan lain, seperti:

  • CT scan atau MRI scan: pemeriksaan yang bisa mendeteksi berbagai kelainan sistem saraf
  • Elektroensefalografi (EEG): perekaman aktivitas otak menggunakan elektroda yang ditempelkan di kulit kepala
  • Elektromiografi (EMG): Perekaman aktivitas listrik otot menggunakan elektroda berbentuk jarum yang ditusukkan ke dalam serat-serat otot
  • Biopsi otot: pengambilan sedikit sampel jaringan otot untuk diperiksa di bawah mikroskop.
  • Tes genetik: pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit genetik yang memicu gejala hipotonia
  • Pemeriksaan konduksi saraf: Pemeriksaan aktivitas saraf dengan cara menempelkan kepingan elektroda di kulit

Cara merawat hipotonia pada bayi

Hipotonia pada bayi bisa diatasi dengan beberapa cara, tergantung dari penyebabnya. Oleh karena itu, biasanya anak dengan kondisi ini akan mendapatkan rencana perawatan yang spesifik.

Beberapa anak dianjurkan untuk menjalani terapi fisik agar perkembangannya bisa mengikuti teman-teman seusianya. Anak akan diajarkan untuk duduk tegak, berjalan, atau jika usianya sudah cukup, ikut berolahraga.

Pada kondisi hipotonia yang parah, anak bisa disarankan untuk memakai penyangga di tubuh karena rentan mengalami dislokasi sendi.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar hipotonia pada bayi tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

tumbuh kembang bayibayiperkembangan bayi

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved