Hipoksia Adalah Keadaan Berbahaya bagi Janin, Kenali Gejala dan Penyebabnya

Hipoksia adalah masalah kehamilan yang dapat mengganggu pasokan oksigen ke janin
Hipoksia dapat memicu gawat janin

Hipoksia adalah suatu kondisi atau keadaan di mana pasokan oksigen yang didapatkan tubuh tidak mencukupi. Ini merupakan kondisi berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan pada otak, hati, dan organ-organ vital lainnya.

Tidak hanya pada orang dewasa, hipoksia juga bisa menimpa janin. Kondisi ini bahkan mampu memicu gawat janin yang terjadi ketika pasokan oksigen janin dalam kandungan Anda kurang sehingga membuat janin mengalami kondisi serius.

Gejala hipoksia pada janin

Hipoksia yang memicu gawat janin bisa terjadi selama persalinan atau pada trimester ketiga kehamilan. Gejala-gejala hipoksia pada janin yang dapat terjadi, yaitu:

  • Janin jarang bergerak

Ketika mendekati waktu persalinan, gerakan janin memang dapat berubah karena janin memiliki lebih sedikit ruang dalam rahim untuk bergerak, namun frekuensi geraknya tetap sama. Sedangkan, jika janin Anda menjadi lebih jarang bergerak dari biasanya, atau bahkan tidak bergerak sama sekali, ada kemungkinan bahwa janin Anda kurang mendapatkan oksigen.

Periksalah secara teratur pergerakan janin Anda. Hitung apakah Anda merasakan 10 tendangan dalam waktu 2 jam atau tidak. Jika tendangan janin tidak terasa, segeralah periksakan kandungan Anda pada dokter. Hal ini dapat berakibat fatal bagi janin jika tidak segera Anda sadari.

  • Detak jantung janin menurun

Sangat penting untuk memantau detak jantung janin Anda secara teratur, agar memastikan bahwa janin baik-baik saja selama trimester ketiga kehamilan dan selama persalinan. Denyut jantung janin harus berkisar antara 110-160 per menit.

Namun, jika kurang dari 110-160 per menit, atau bahkan terus menurun maka itu bisa mengindikasikan tanda bahwa janin Anda mengalami kekurangan oksigen (hipoksia). Penurunan denyut jantung pada janin dapat menyebabkan hal yang serius hingga berujung pada kematian.

  • Terdapat mekonium (feses janin) dalam air ketuban

Adanya mekonium (feses janin) dalam air ketuban dapat menjadi salah satu tanda dari hipoksia pada janin. Janin yang kekurangan oksigen bisa mengalami stres hingga mengeluarkan mekonium. Namun, hal tersebut juga bisa terjadi jika waktu melahirkan terlambat hingga berpengaruh pada air ketuban.

Air ketuban biasanya berwarna bening dengan sedikit warna merah muda, kuning, atau merah. Namun, ketika bercampur dengan mekonium, air ketuban bisa berubah menjadi cokelat atau hijau. Apabila mekonium yang tebal masuk ke saluran udara janin Anda, maka dapat menyebabkan gangguan pernapasan ketika bayi baru lahir.

Penyebab hipoksia pada janin

Penyebab hipoksia pada janin erat kaitannya dengan kondisi yang menyebabkan janin kurang mendapatkan oksigen. Berikut penyebab hipoksia pada janin yang mungkin terjadi:

  • Hipertensi atau anemia pada ibu

Ibu yang terkena hipertensi atau anemia dapat menyebabkan pasokan oksigen pada janin menjadi berkurang. Jika tidak segera diatasi hal ini dapat menyebabkan bayi mengalami hipoksia sehingga berisiko lahir dengan berat badan yang rendah, atau bahkan lahir mati.

  • Solusio plasenta

Solusio plasenta adalah terpisahnya plasenta sebagian atau seluruhnya dari dinding rahim. Hal ini dapat mengurangi atau menghalangi pasokan oksigen dari ibu ke janin. Selain itu, solusio plasenta juga dapat menyebabkan ibu mengalami pendarahan hebat.

  • Masalah tali pusat

Tali pusat yang tertekan atau melilit bayi saat persalinan dapat menyebabkan bayi sulit mendapatkan oksigen sehingga memicu terjadinya hipoksia. Bukan hanya itu, tali pusat yang rusak juga bisa menyebabkan bayi kurang mendapat oksigen karena pengangkutan oksigen dari ibu ke janin tidak dapat berjalan dengan baik.

  • Persalinan macet

Persalinan macet atau distosia dapat terjadi karena berbagai hal, di antaranya terdapat kelainan pada jalan lahir seperti panggul yang sempit atau leher rahim yang sulit terbuka hingga membuat bayi susah keluar. Hal ini dapat menyebabkan bayi kurang mendapat oksigen sehingga menjadi tercekik, dan detak jantungnya tidak normal.

Mengatasi hipoksia pada janin

Jika janin menunjukkan gejala hipoksia, maka dokter akan mengatasinya dengan cara:

  • Meningkatkan kadar cairan Anda dengan memberi minum atau infus.
  • Menyarankan Anda untuk berbaring di sisi kiri agar mengurangi tekanan rahim pada vena utama. Hal ini dapat mencegah berkurangnya aliran darah ke plasenta dan bayi.
  • Menganjurkan Anda menghentikan penggunaan obat yang dapat berpengaruh pada pasokan oksigen untuk bayi
  • Jika setelah melakukan cara-cara tersebut janin masih menunjukkan tanda hipoksia, maka akan segera dilakukan persalinan.
  • Jika bayi yang dilahirkan mengalami hipoksia, maka akan diberikan perawatan terapi oksigen atau ventilator.

Jangan lupa untuk selalu memeriksakan kandungan Anda pada dokter, agar dapat mendeteksi hipoksia pada janin sedini mungkin dan segera mendapat penanganan yang tepat.

Web MD. https://www.webmd.com/asthma/guide/hypoxia-hypoxemia#1
Diakses pada 05 Agustus 2019

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/hypoxia_and_hypoxemia/article.htm
Diakses pada 05 Agustus 2019

What to Expect. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/pregnancy-health/complications/fetal-distress.aspx
Diakses pada 05 Agustus 2019

Baby Centre. https://www.babycentre.co.uk/a1044907/fetal-distress
Diakses pada 05 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/abnormal-fetal-heart-tracings
Diakses pada 05 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/placental-abruption/symptoms-causes/syc-20376458
Diakses pada 05 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318993.php
Diakses pada 05 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed