Hati-hati! Hipogonadisme dapat Menyebabkan Ukuran Testis Menjadi Kecil

Salah satu dampak hipogonadisme adalah penis dan testis berukuran kecil dari ukuran normal
Hipogonadisme bisa mengganggu pertumbuhan penis serta testis

Hipogonadisme dapat terjadi pada pria dan wanita. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada pria. Hipogonadisme terjadi ketika testis tidak dapat bekerja dengan baik. Sementara itu pada wanita, hipogonadisme membuat ovarium tidak bekerja dengan semestinya.

Testis memiliki dua fungsi utama, yaitu memproduksi hormon testosteron dan sperma. Proses ini dikendalikan oleh bagian otak, yang disebut kelenjar hipofisis. Bagian otak ini mengirim sinyal ke testis, yang sedang berada dalam kondisi normal, lalu menyebabkan testis memproduksi sperma dan hormon testosteron.

[[artikel-terkait]]

Hipogonadisme dan ukuran testis normal

Akan tetapi, hipogonadisme terjadi ketika testis tidak memproduksi atau hanya sedikit memproduksi testosteron (hormon pria). Hipogonadisme dibagi menjadi dua jenis utama yang meliputi hipogonadisme primer dan sekunder.

1. Hipogonadisme primer

Pada hipogonadisme primer, estis tidak merespons stimulasi hormon. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kelainan bawaan seperti sindrom Klinefelter, atau didapat sebagai akibat dari gondongan, tumor, trauma pada testis, atau perawatan kemoterapi dan radiasi.

2. Hipogonadisme sekunder

Hipogonadisme sekunder merupakan penyakit yang mengganggu hipotalamus, atau kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar utama yang melepaskan hormon, untuk merangsang testis menghasilkan testosteron.

Ukuran rata-rata testis pria adalah sekitar 4x3x2 cm, dan berbentuk oval. Biasanya salah satu testis memiliki ukuran berbeda. Testis berada di skrotum, dan melekat di setiap ujungnya, dengan tali sperma.

Akan tetapi, hipogonadisme dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan penis dan testis. Hipogonadisme membuat ukuran testis menjadi kecil. Anda harus mewaspadai kondisi ini, yang berpengaruh terhadap kemampuan reproduksi.

Terlepas dari hipogonadisme, testis juga dapat menjadi lebih besar. Jika satu testis mulai terasa lebih berat atau Anda merasakan adanya benjolan maupun perubahan bentuk, itu bisa saja merupakan tumor, dan mungkin merupakan tanda pertama dari kanker testis.

Hipogonadisme dapat dialami pria berbagai usia

Hipogonadisme dapat terjadi pada pria usia berapapun. Jika hipogonadisme terjadi sebelum pubertas, maka pubertas menjadi tidak berkembang. Sementara itu, jika kondisi ini terjadi setelah masa pubertas, maka penderitanya bisa mengalami infertilitas dan disfungsi seksual.

Sejumlah gejala hipogonadisme adalah kadar testosteron yang rendah, kurang berenergi, kelelahan, kehilangan otot, pembesaran payudara, gairah seksual rendah, dan memiliki sedikit, atau bahkan tidak memiliki sperma dalam air mani.

Pada anak laki-laki, hipogonadisme dapat memengaruhi perkembangan otot, janggut, organ genital, dan suara.

Tak hanya itu, hipogonadisme juga dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2, penyakit jantung, Alzheimer, kematian dini pada pria yang lebih tua, dan sindrom metabolik.

Berbagai faktor penyebab hipogonadisme

Anda dapat dilahirkan dengan hipogonadisme. Meski demikian, ada sejumlah penyebab lain dari hipogonadisme, sebagai berikut.

  • Gangguan autoimun tertentu
  • Gangguan genetik dan perkembangan
  • Infeksi
  • Penyakit hati dan ginjal
  • Radiasi
  • Operasi
  • Trauma
  • Diabetes
  • Anorexia nervosa
  • Obat-obatan tertentu
  • Tumor
  • Kanker

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron akan menurun pada pria. Pria berusia 50-60 tahun memiliki kadar testosteron normal dalam darah, yang jauh lebih rendah daripada pria berumur 20-30 tahun.

Terapi sebagai pengobatan hipogonadisme

Pengobatan hipogonadisme yang dapat dilakukan melalui terapi hormon pengganti  testosteron, atau meningkatkan sinyal dari otak, yang membuat testis memproduksi testosteron dan sperma.

Biasanya, terapi pengganti hormon testosteron diberikan melalui gel topikal, patch transdermal, atau dengan suntikan. Sementara itu, testosteron oral tidak direkomendasikan, karena memiliki efek samping, seperti sakit perut.

Terapi pengganti testosteron ini bermanfaat untuk meningkatkan libido, memperbaiki suasana hati, meningkatkan kepadatan mineral tulang, dan memperbaiki kualitas hidup. Akan tetapi, Anda harus terus berkonsultasi dengan dokter, untuk mengetahui risikonya.

Artikel Terkait

Banner Telemed