Rendahnya Kadar Hormon pada Pria Bisa Sebabkan Disfungsi Ereksi

Disfungsi seksual pada pria, antara lain disebabkan oleh rendahnya kadar hormon testosteron
Pria dengan kadar testosteron yang rendah, bisa mengalami disfungsi ereksi.

Testosteron merupakan hormon yang memengaruhi pembentukan karakteristik dan maskulinitas seorang pria. Hormon pada pria ini juga memengaruhi libido, serta pertumbuhan rambut pada bagian dada. Gangguan pada hormon ini, bisa mengakibatkan hipogonadisme

Sebenarnya, tubuh wanita juga memproduksi hormon testorteron. Namun, jumlahnya lebih sedikit dibanding yang diproduksi oleh tubuh pria.

[[artikel-terkait]]

Fungsi hormon pada pria

Pada saat masa pubertas, testosteron berkontribusi dalam pembentukan otot, membuat suara menjadi lebih berat, dan mendukung perkembangan penis dan testis. Pada saat dewasa, testosteron mempertahankan ukuran dan massa otot pria, libido, dan massa menguatkan tulang.

Rendahnya kadar testosteron, menyebabkan beberapa masalah pada pria. Salah satunya adalah infertilitas. Namun pada wanita, infertilitas dan kebotakan, justru disebabkan oleh kadar testosteron yang berlebihan.

Ketidakseimbangan hormon testosteron pada pria

Jumlah hormon testosteron yang berlebih maupun rendah, dapat memicu timbulnya beberapa gangguan pada pria. Berikut ini beberapa hal yang dapat terjadi apabila seorang pria memiliki kadar testosteron yang rendah, atau hipogonadisme

  • Penurunan libido
  • Disfungsi ereksi
  • Jumlah sperma rendah
  • Pembesaran jaringan payudara
  • Hilangnya rambut di bagian tubuh, massa otot, kekuatan, dan meningkatnya lemak tubuh
  • Pria dengan hipogonadisme kronik, dapat mengalami osteoporosis, perubahan mood secara cepat, berkurangnya energi, dan penyusutan testis.

Kadar testosteron yang rendah atau hipogonadisme ini dapat disebabkan beberapa hal seperti cedera pada testis, kanker testis, kastrasi, infeksi testis, obat-obatan, gangguan hormonal, penyakit kronis, dan penyakit genetik.

Sementara itu, kadar kolesterol yang terlalu tinggi, bisa menyebabkan pubertas dini. Kondisi ini umumnya ditemukan pada pria yang lebih muda. Namun, kondisi ini jarang terjadi atau ditemukan.

3 Terapi untuk hipogonadisme

Pada umumnya, terapi dilakukan untuk hipogonadisme yang terjadi akibat penuaan. Berikut ini 3 terapi yang bisa menjadi pilihan untuk mengatasi hipogonadisme.

1. Pemberian suplemen testosteron

Beberapa obat-obatan suplementasi testosteron, direkomendasikan untuk mengganti testosteron yang hilang. Namun perlu diingat, obat-obatan tersebut, dapat merusak hati. Oleh karena itu pilihan ini hanya dilakukan untuk pada kasus hipogonadisme yang berat.

2. Terapi penggantian hormon

Terapi penggantian hormon testosteron telah terbukti meningkatkan kepadatan massa tulang dan kadar hemoglobin darah. Namun, terapi ini memiliki beberapa efek samping berupa pembesaran prostat, pembesaran payudara, timbulnya jerawat, kesulitan bernapas pada saat tidur, dan meningkatnya risiko penyakit jantung.

3. Pemberian suplemen prohormon

Prohormon seperti dehydroepiandrosterone (DHEA) dan beberapa produk herbal, dapat meningkatkan kadar testosteron. Namun pemberian prohormon juga dapat meningkatkan kadar estrogen, dan mengganggu keseimbangan kolesterol darah dengan mengurangi kadar kolesterol baik.

Beberapa metode dapat digunakan untuk mengatasi hipogonadisme. Namun perlu diingat, hampir seluruh metode memiliki efek samping yang tidak diinginkan. Selalu konsultasikan kepada dokter Anda mengenai hipogonadisme dan modalitas terapi manakah yang sekiranya cocok untuk Anda.

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed