Mengenal Penyebab, Akibat, dan Cara Mengobati Hipertiroidisme

(0)
31 Dec 2019|Rieke Saraswati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Cara mendiagnosis hipertiroidismeHipertiroidisme perlu diperiksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai
Coba perhatikan, apakah akhir-akhir ini leher Anda tampak membengkak? Lalu, apakah gejala itu disertai dengan penurunan berat badan tanpa sebab, susah bernapas, dan sering berkeringat? Bila jawabannya “ya”, waspadalah karena bisa jadi Anda sedang mengalami gejala hipertiroid.Hipertiroid atau hipertiroidisme adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar hormon tiroid dalam tubuh. Orang yang mengalami kondisi ini, fungsi tubuhnya akan banyak yang dapat terganggu. 

Lebih jauh tentang hipertiroidisme

Untuk memahami lebih jauh seputar hipertiroidisme, Anda perlu tahu dulu seputar tiroid dan hormon yang dikeluarkannya.Sebenarnya, apa tiroid itu? Tiroid adalah kelenjar yang terletak di bagian depan leher Anda dengan bentuk menyerupai sayap kupu-kupu. Kelenjar inilah yang menghasilkan hormon tiroid.Untuk mengontrol metabolisme tubuh, kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang disebut tetraiodothyronine (T4) dan triiodothyronine (T3).  Kondisi hipertiroidisme terjadi ketika tiroid memproduksi terlalu banyak T4, T3, atau keduanya.Ketika seseorang mengalami kelebihan hormon, fungsi tubuhnya tentu bisa terganggu. Inilah kenapa gejala hipertiroidisme muncul.

Gejala hipertiroid yang perlu dikenali

Gejala hipertiroid yang dialami tiap orang dapat berbeda-beda. Bahkan tidak semua penderita mengalami gejala. Gejala umum yang dapat muncul pada pengidap hipertiroidisme adalah:Awalnya, penderita hipertiroidisme mungkin merasa lebih berenergi. Pasalnya, kelebihan hormon membuat proses metabolisme berlangsung lebih cepat. Tapi seiring waktu, peningkatan metabolisme tersebut malah akan membuat tubuh menjadi lebih cepat lelah.Diagnosis hipertiroidisme dapat dilakukan dokter salah satunya melalui pemeriksaan TSH untuk mengukur jumlah dan kadar hormon-hormon tiroid Anda.

Penyebab penyakit hipertiroid

Terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hipertiroidisme. Namun penyebab yang paling sering dijumpai dari hipertiroidisme adalah penyakit Graves, yakni penyakit autoimun yang bisa diturunkan dalam keluarga. Pada Graves disease, sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid dan membuatnya melepaskan terlalu banyak hormon. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita usia 20 hingga 40 tahun serta perokok.Tak hanya penyakit Graves yang bisa memicu hipertiroidisme. Ada pula kondisi-kondisi lain yang dapat berpengaruh pada produksi kelenjar tiroid yang berlebihan. Beberapa penyebab lain dari hipertiroidisme adalah sebagai berikut:

1. Kelebihan yodium

Mengonsumsi terlalu banyak yodium, baik dari makanan, suplemen, atau obat-obatan, dapat memicu kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid secara berlebih. Penyakit tiroid yang disebabka oleh kelebihan yodium bisa juga disebut sebagai penyakit gondok.

2. Tiroiditis

Peradangan pada tiroid ini dapat membuat T4 dan T3 bocor keluar dari kelenjar. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan system imun, virus, radiasi dan obat-obatan.

3. Tumor jinak pada kelenjar tiroid

Kondisi ini juga dapat menyebabkan munculnya hipertiroidisme. Tumor jinak berupa benjolan yang berisi air atau juga dapat teraba padat.

4. Kanker tiroid folikuler

Tiroid yang terlalu aktif juga dapat disebabkan oleh kanker tiroid, tapi kondisi ini termasuk jarang terjadi.

Apa akibatnya jika hipertiroidisme tak diobati dengan baik?

Apabila tidak diobati, gangguan tiroid seperti hipertiroidisme bisa berujung pada kondisi yang fatal. Ini dua komplikasi yang dapat terjadi:

1. Oftalmopati Graves

Masalah mata ini dapat dialami penderita hipertiroidisme akibat penyakit Graves. Gejalanya meliputi nyeri pada mata, mata yang sensitif terhadap cahaya, mata tampak menonjol, dan sederet masalah penglihatan.Penggunaan tetes mata dan kacamata hitam dapat membantu meredakan gejala. Namun untuk kasus yang sudah parah, pemberian obat-obatan dari dokter akan diperlukan.

2. Badai tiroid

Komplikasi ini dapat dipicu oleh infeksi, cedera, dan trauma (misalnya setelah operasi dan persalinan). Saat terserang badai tiroid, seseorang akan mengalami gejala berupa detak jantung yang cepat, demam tinggi, penyakit kuning, muntah, diare, dehidrasi, serta halusinasi.Badai tiroid termasuk kondisi yang mengancam jiwa. Karena itu, kondisi yang kerap disebut dengan krisis tiroid ini membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin.

Cara mengobati hipertiroidisme

Dengan penanganan medis yang tepat, gangguan hipertiroidisme dapat disembuhkan agar tidak kambuh lagi. Langkah penanganan utama untuk hipertiroidisme adalah:

1. Obat-obatan antitiroid

Jenis obat methimazole dapat menghentikan produksi hormon tiroid yang berlebihan. Namun penderita harus bersabar menjalaninya karena butuh waktu beberapa minggu atau beberapa bulan hingga kadar hormon tiroid kembali normal.Sama seperti obat lain, obat methimazole bisa memicu munculnya efek samping. Contohnya, reaksi alergi, infeksi, hingga gagal hati. Namun efek samping gagal hati termasuk jarang.

2. Iodium radioaktif

Terapi ini dapat menghancurkan sel-sel yang memproduksi hormon. Efek sampingnya bisa berupa mulut kering, mata kering, perubahan pada indra pengecap, dan radang tenggorokan.Penderita juga dihimbau untuk berhati-hati selama beberapa waktu setelah menjalani pengobatan untuk mencegah penyebaran radiasi.

3. Operasi

Jika obat dan iodium radioaktif tidak efektif, dokter bisa menyarankan operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Prosedur ini juga dianjurkan bagi penderita hipertiroidisme yang tidak memungkinkan untuk menjalani penanganan melalui obat-obatan atau iodium radioaktif. Misalnya, wanita hamil atau penderita kanker.

Perlu dipahami, wanita memiliki kemungkinan 2 hingga 10 kali lebih tinggi daripada pria untuk mengalami hipertiroidisme. Berikut adalah orang-orang yang berkemungkinan mengalami penyakit hipertiroid:
  • Memiliki riwayat keluarga penyakit tiroid.
  • Memiliki masalah kesehatan lainnya, termasuk: anemia pernisiosa, suatu kondisi yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, diabetes tipe 1, insufisiensi adrenal primer, dan gangguan hormonal.
  • Makan makanan dalam jumlah besar yang mengandung yodium, seperti rumput laut, atau obat-obatan yang mengandung yodium, seperti amiodarone dan obat jantung.
  • Berusia lebih dari 60 tahun.
  • Wanita hamil dalam 6 bulan terakhir.

Hipertiroidisme adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja dan bisa berakibat fatal bila tak diobati dengan benar. Karena itu, penting untuk memahami gejalanya agar tidak terlambat dideteksi dan ditangani.Jika Anda mengalami gejala yang dicurigai sebagai indikasi hipertiroidisme, segera periksakan ke dokter. Jangan menganggap enteng meski keluhan terasa ringan.
kelenjar tiroidhormon tiroidhipertiroidismekanker tiroid
Healthline. https://www.healthline.com/health/hyperthyroidism
Diakses pada 31 Desember 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/9153.php
Diakses pada 31 Desember 2019
NIH. https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/hyperthyroidism
Diakses pada 10 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait