Hipertensi pada Ibu Hamil Banyak Jenisnya, Apa Saja?

07 Agt 2019 | Oleh
Hipertensi pada ibu hamil terjadi saat tekanan darah ibu lebih besar atau sama dengan 130/80 mmHg
Tekanan darah ibu hamil perlu diperiksa secara rutin

Tahukah Anda kalau ibu hamil mudah terkena hipertensi? Hipertensi pada ibu hamil bahkan dapat terjadi kapan saja. Ibu hamil dianggap mengalami hipertensi jika tekanan darahnya lebih besar atau sama dengan 130/80 mmHg. Kondisi ini tentu perlu mendapatkan perhatian khusus dan penanganan yang tepat.

Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi yang parah bagi ibu dan janin yang sedang berkembang. Namun, jika hipertensi tersebut dikendalikan dengan baik, maka kemungkinan buruk dapat diantisipasi.

Jenis-Jenis hipertensi pada ibu hamil

Terdapat empat jenis hipertensi yang bisa terjadi pada ibu hamil, di antaranya:

  • Hipertensi kronis

Hipertensi kronis terjadi ketika ibu telah memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil, atau mendapatkannya dalam paruh pertama kehamilan, yaitu sekitar 20 minggu. Selain memiliki tekanan darah tinggi, ibu hamil juga mungkin memiliki jumlah protein yang tidak normal dalam urinenya.

Kehadiran protein tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah pada ginjal. Bukan hanya itu, ibu hamil juga mungkin mengalami perubahan fungsi hati. Kondisi ini biasanya diobati dengan obat-obatan untuk tekanan darah.

  • Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional terjadi ketika ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan. Kondisi ini hanya terjadi selama kehamilan sehingga biasanya sembuh setelah melahirkan.

Selain itu, tidak ada protein dalam urine atau perubahan fungsi hati. Namun, kondisi ini bisa meningkatkan risiko terkena hipertensi kembali.  Selain itu, sebagian wanita dengan hipertensi gestasional pada akhirnya mengalami preeklampsia.

  • Hipertensi kronis dengan superimposed preeclampsia

Hipertensi kronis dengan superimposed preeclampsia terjadi ketika ibu hamil yang sebelum kehamilannya telah memiliki hipertensi kronis juga mengalami preeklampsia. Kondisi ini ditandai dengan adanya protein dalam urine ibu hamil, serta terjadi komplikasi tambahan saat kehamilan berlanjut.

  • Preeklampsia

Preeklampsia terjadi ketika hipertensi ibu hamil memasuki kondisi yang serius. Kondisi ini dapat terjadi selama kehamilan, atau bahkan setelah melahirkan. Namun, lebih sering muncul pada trimester 3 kehamilan. Preeklampsia mampu menyebabkan komplikasi, seperti kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, solusio plasenta, sindrom HELLP, dan kerusakan pada organ ibu hamil, seperti ginjal, hati, paru-paru, atau jantung.

Gejala preeklampsia yang dapat terjadi, yaitu tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urine, pembengkakan wajah dan tangan secara berlebihan, sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, sesak napas, dan penglihatan kabur. Jika preeklampsia telah menyerang otak dan menyebabkan kejang, kondisi ini disebut dengan eklampsia.

Penyebab hipertensi pada ibu hamil

Terdapat beberapa kemungkinan yang memengaruhi terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Penyebab-penyebab tersebut, di antaranya:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik
  • Merokok
  • Minum alkohol
  • Kehamilan pertama
  • Terdapat riwayat keluarga yang memiliki hipertensi pada kehamilan
  • Kehamilan kembar
  • Hamil di usia lebih dari 35 tahun
  • Menderita diabetes atau penyakit imun tertentu

Jika Anda benar-benar dinyatakan menderita hipertensi pada kehamilan, maka Anda harus menjalani perawatan medis untuk mengendalikan penyakit tersebut.

Perawatan hipertensi pada ibu hamil

Dalam melakukan perawatan hipertensi pada ibu hamil, sebaiknya Anda berkonsultasi pada dokter. Mereka mungkin akan menyarankan Anda untuk menggunakan obat antihipertensi. Selain itu, dokter kadang juga merekomendasikan obat antikonvulsi untuk mencegah terjadinya kejang pada ibu hamil, terutama yang memiliki preeklampsia.

Jika umur janin sudah cukup untuk dilahirkan, dokter mungkin akan menyarankan Anda melakukan persalinan. Hal ini tergantung pada seberapa parah kondisi hipertensi ibu, dan sudah berapa lama umur kehamilan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk berkonsultasi mengenai cara mengontrol tekanan darahnya.

Apakah ibu hamil aman menggunakan obat hipertensi?

Mengendalikan hipertensi pada kehamilan sangatlah penting agar Anda terhindar dari berbagai komplikasi serius yang dapat terjadi. Beberapa obat penurun tekanan darah aman untuk digunakan oleh ibu hamil, seperti methyldopa, labetalol, nifedipine, dan hydralazine. Sementara, obat hipertensi yang harus dihindari oleh ibu hamil, yaitu inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE), diuretik, dan propranolol.

Jika Anda memerlukan obat untuk mengendalikan tekanan darah selama kehamilan, dokter akan meresepkan obat hipertensi yang aman dengan dosis tepat. Minumlah obat secara teratur sesuai dengan resep tersebut. Jangan menghentikan konsumsi obat atau merubah dosis obat berdasarkan keinginan sendiri karena bisa berbahaya untuk Anda dan janin.

Hipertensi pada ibu hamil memang tidak selalu berakibat fatal jika dikendalikan dengan baik. Melakukan gaya hidup sehat pun dapat membantu mengendalikan dan mencegah terjadinya hipertensi. Sebaiknya, ibu hamil banyak mengonsumsi buah dan sayur, berolahraga ringan, dan tidak merokok atau minum alkohol.

Referensi

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323969.php
Diakses pada 07 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/high-blood-pressure-hypertension/during-pregnancy#causes
Diakses pada 07 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/chronic-hypertension-medicine#medications-to-avoid
Diakses pada 07 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098
Diakses pada 07 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preeclampsia/symptoms-causes/syc-20355745
Diakses pada 07 Agustus 2019

Yang juga penting untuk Anda
Baca Juga
Diskusi Terkait:
Lihat pertanyaan lainnya
Back to Top