Hipertensi dalam kehamilan terjadi ketika tekanan darah pada ibu hamil mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Jika tak ditangani, kondisi ini bisa memicu solusio plasenta hingga kelahiran prematur. Untuk mengatasinya, dokter bisa meresepkan obat penurun darah tinggi serta merekomendasikan perubahan gaya hidup.
27 Apr 2023
Ditinjau oleh dr. Reni Utari
Hipertensi dalam kehamilan bisa menyebabkan pertumbuhan janin terhambat
Table of Content
Hipertensi dalam kehamilan ditandai dengan tekanan darah tinggi mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Kondisi ini biasanya terjadi setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu.
Advertisement
Ciri-ciri darah tinggi pada ibu hamil meliputi sakit kepala yang tak kunjung hilang, pembengkakan (edema), peningkatan berat badan tiba-tiba, gangguan penglihatan, mual dan muntah, hingga nyeri di perut kanan atas atau di sekitar perut.
Jika tak ditangani, kondisi ini bisa memicu komplikasi yang membahayakan kesehatan ibu hamil beserta janinnya. Dilansir dari BKM Journal of Community Medicine and Public Health yang dirilis Universitas Gadjah Mada, tercatat lebih dari 30 persen kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh hipertensi pada tahun 2010.
Berikut adalah beberapa jenis hipertensi dalam kehamilan yang perlu diwaspadai.
Hipertensi kronis adalah kondisi tekanan darah tinggi yang sudah terjadi sebelum hamil atau sebelum usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini sering kali tidak bergejala sehingga sering kali tak terdeteksi.
Jenis hipertensi dalam kehamilan ini biasanya baru terdeteksi saat menjalani pemeriksaan kehamilan. Terkadang, hipertensi kronis juga menyebabkan preeklampsia.
Hipertensi kronis dengan preeklampsia terjadi ketika jenis hipertensi ini menyebabkan tekanan darah tinggi semakin memburuk selama kehamilan. Gejala lain yang dapat muncul adalah sakit kepala, pembengkakan di wajah dan tangan, serta adanya protein dalam urine.
Hipertensi kronis dengan preeklampsia dapat mengembangkan berbagai komplikasi kehamilan yang berbahaya bagi ibu dan janin.
Hipertensi gestasional adalah keadaan tekanan darah yang terus naik setelah usia kehamilan 20 minggu dan menghilang setelah bayi dilahirkan. Kondisi ini dapat memengaruhi sekitar 6-8 persen wanita hamil.
Pada hipertensi gestasional, tidak terjadi kelebihan protein dalam urine dan tidak ada tanda-tanda kerusakan organ lainnya. Namun, preeklampsia bisa terjadi dalam sebagian kasusnya.
Sekitar 6 minggu setelah melahirkan, kondisi kesehatan ibu umumnya kembali normal.
Namun, jika Anda memiliki tekanan darah yang tinggi, yaitu 140/90 mmHg sebelum hamil atau pada awal kehamilan, maka Anda bisa terus mengalaminya meskipun telah melahirkan.
Beberapa faktor risiko dari hipertensi gestasional adalah kehamilan pertama, kehamilan kembar, kelebihan berat badan atau obesitas sebelum hamil, berusia 40 tahun ke atas ketika hamil, dan memiliki riwayat hipertensi atau pada kehamilan sebelumnya.
Jika tidak terkontrol dengan baik, hipertensi dalam kehamilan bisa berkembang menjadi preeklampsia.
Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tingginya kadar protein dalam urine.
Preeklampsia biasanya muncul setelah 20 minggu kehamilan dan bisa juga terjadi lebih awal ataupun berkembang setelah melahirkan.
Berikut adalah ciri-ciri darah tinggi pada ibu hamil dalam bentuk preeklampsia.
Penyebab preeklampsia tidak diketahui secara pasti, tetapi disinyalir pemicunya adalah plasenta yang tidak berfungsi dengan baik, nutrisi yang buruk, banyaknya lemak tubuh, ataupun faktor genetik.
Sementara itu, berikut adalah beberapa faktor yang dapat memicu preeklampsia.
Preeklampsia tentu berbahaya karena dapat mencegah plasenta menerima banyak darah sehingga janin kekurangan oksigen dan nutrisi.
Selain itu, ibu hamil juga bisa mengalami eklampsia dan berbagai masalah lainnya.
Eklampsia adalah komplikasi parah dari preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, kejang, koma, hingga hilang kesadaran.
Meskipun tidak memiliki riwayat kejang, Anda dapat mengalaminya jika mengalami eklampsia.
Eklampsia bisa disertai dengan gejala preeklampsia ataupun tidak. Kondisi ini juga dapat memengaruhi plasenta sehingga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah, kelahiran prematur, ataupun lahir mati.
Bukan hanya itu, ibu hamil juga bisa mengalami berbagai komplikasi, seperti stroke, henti jantung, penyakit hati, bahkan kematian.
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, hipertensi dalam kehamilan bisa membahayakan ibu hamil ataupun janinnya. Berikut adalah bahaya hipertensi ibu hamil yang harus diwaspadai.
Ketika plasenta tidak mendapatkan cukup darah, janin hanya akan menerima sedikit oksigen dan nutrisi.
Hal tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan yang lambat, berat badan lahir rendah, atau kelahiran prematur.
Solusio plasenta adalah kondisi plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum proses melahirkan. Hipertensi dalam kehamilan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi ini.
Pada kasus yang parah, solusio plasenta dapat menyebabkan perdarahan hebat yang mengancam keselamatan ibu hamil dan janin.
Tekanan darah tinggi saat hamil bisa menyebabkan pertumbuhan janin melambat atau menurun.
Masalah ini dipicu oleh berkurangnya aliran darah ke plasenta sehingga janin tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.
Jika hipertensi dalam kehamilan semakin memburuk, dokter bisa menyarankan persalinan lebih dini untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mengancam jiwa.
Bayi yang lahir prematur bisa mengalami masalah pernapasan, meningkatnya risiko infeksi, dan komplikasi lainnya.
Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan cedera pada berbagai organ, seperti otak, mata, jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan lainnya.
Dalam kasus yang parah, kondisi ini bisa mengancam jiwa.
Menderita preeklampsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) di masa mendatang.
Risikonya semakin tinggi jika Anda pernah mengalami preeklampsia lebih dari sekali atau melahirkan prematur karena memiliki tekanan darah yang tinggi selama kehamilan.
BACA JUGA: 10 Jus Penurun Darah Tinggi saat Hamil yang Aman Dikonsumsi
Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi yang perlu mendapatkan pengawasan dokter. Oleh sebab itu, ibu hamil dengan hipertensi gestasional ataupun jenis lainnya harus rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.
Cara menurunkan darah tinggi pada ibu hamil umumnya dilakukan dengan pemberian obat penurun tekanan darah. Dokter dapat meresepkan obat hipertensi dengan dosis yang paling aman untuk kehamilan Anda.
Untuk menghindari komplikasi yang lebih parah, pastikan Anda mengonsumsi obat penurun darah tinggi sesuai dosis dan petunjuk dokter. Jangan berhenti minum atau mengganti dosis tanpa pengawasan dokter.
Selain itu, hindari konsumsi suplemen atau obat-obatan herbal yang dipercaya bisa menurunkan tekanan darah, terlebih jika belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya.
Anda juga dianjurkan untuk tetap aktif berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, tidur dengan cukup, kelola stres dengan baik, serta menghindari minuman beralkohol dan merokok.
Punya pertanyaan lain seputar kehamilan? Jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
Advertisement
Referensi
Artikel Terkait
Sakit gigi saat hamil bisa disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya karena perubahan hormon. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan karena dapat menyebabkan kelahiran prematur. Atasi sakit gigi pada ibu hamil dengan obat pereda nyeri.
Flek cokelat adalah keputihan bercampur darah yang biasanya tidak berbahaya, namun bisa juga mengindikasikan penyakit tertentu. Penyebabnya bisa kehamilan, proses ovulasi, penyakit radang panggul, PCOS, hingga kanker serviks.
Sejumlah cara mencegah hipertensi tanpa obat-obatan adalah mengonsumsi makanan sehat yang bergizi, mengurangi asupan garam (natrium), hingga menjaga berat badan ideal.
Diskusi Terkait di Forum
Dijawab oleh dr. Dwiana Ardianti
Dijawab oleh dr. Farahdissa
Dijawab oleh dr. Stasya Zephora
Advertisement
Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.
© SehatQ, 2023. All Rights Reserved