Hiperkalsemia, Saat Kadar Kalsium Terlalu banyak Dalam Darah

Hiperkalsemia bisa ditandai dengan lemas dan lesu
Lemas termasuk salah satu gejala hiperkalsemia

Hiperkalsemia adalah kelebihan kalsium di dalam darah. Kondisi ini hanya dapat diketahui melalui tes darah.

Saat melakukan medical check up rutin, pemeriksaan kadar kalsium juga biasanya akan dilakukan. Karena itu, kondisi kelebihan kalsium bisa cepat terdeteksi dan dicari penyebabnya.

Apa saja penyebab hiperkalsemia?

Kalsium merupakan mineral penting yang kita butuhkan seumur hidup karena berperan penting dalam aneka fungsi tubuh. Selain diperlukan guna membangun tulang yang kuat, kalsium juga penting untuk fungsi saraf dan otot dan menjaga kesiembangan kadar hormon.

Kadar kalsium dalam darah sebetulnya diatur dengan ketat oleh tubuh. Namun bila ada fungsi tubuh yang terganggu, penumpukan zat ini bisa terjadi dalam darah. Beberapa kondisi tersebut meliputi:

  • Hipertiroid atau kelenjar paratiroid yang terlalu aktif

Salah satu penyebab paling umum dari hiperkalsemia ini bisa diakibatkan oleh adanya tumor di kelenjar paratiroid.

  • Kanker

Kanker paru, kanker payudara, dan beberapa jenis kanker darah dapat meningkatkan risiko hiperkalsemia. Kanker yang sudah menyebar ke tulang juga bisa menyebabkan darah kelebihan kalsium.

  • Faktor keturunan

Ada sebuah kelainan genetik yang disebut hipokalsiurik hiperkalsemia. Kondisi ini memicu kerusakan pada reseptor kalsium di tubuh, sehingga menyebabkan kenaikan kadar kalsium dalam darah.

  • Imobilitas

Orang yang terpaksa berada dalam kondisi duduk atau tiduran dalam jangka waktu lama berisiko terkena hiperkalsemia. Pasalnya, tulang-tulang mereka tidak menopang beban berat badan dan akan melepaskan kandungan kalsiumnya ke dalam darah.

  • Dehidrasi yang cukup parah

Kekurangan cairan tubuh akan menyebabkan konsentrasi kalsium meningkat di dalam darah.

  • Penggunaan obat-obatan

Salah satu contoh obat ini adalah litium yang digunakan untuk mengendalikan gangguan bipolar. Litium bisa menyebabkan hormon paratiroid dikeluarkan lebih banyak, sehingga berisiko memicu kelebihan kalsium.

  • Konsumsi suplemen yang berlebih

Terlalu banyak mengonsumsi suplemen kalsium atau vitamin D dalam jangka waktu lama juga dapat menjadi dalang dari peningkatan kalsium dalam darah.

Bagaimana cara mengenali gejala hiperkalsemia?

Kondisi kelebihan kalsium yang ringan biasanya tidak menimbulkan gejala. Tetapi kondisi hiperkalsemia berat bisa memicu keluhat-keluhan berupa:

  • Rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil

Kelebihan kalsium dalam darah akan membuat ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kadar berlebihan tersebut. Akibatnya, penderita akan lebih sering buang air kecil yang kemudian memicu bertambahnya rasa haus.

  • Sakit perut dan masalah pencernaan

Kelebihan kalsium bisa menyebabkan sakit perut, mual, muntah, serta sembelit (konstipasi).

  • Rasa sakit pada tulang dan otot menjadi lemah

Hiperkalsemia mengakibatkan tulang melepaskan terlalu banyak kalsium ke dalam darah, sehingga tulang jadi kekurangan kalsium. Kondisi ini bisa memicu nyeri pada tulang dan otot yang lemah.

  • Kebingungan, lesu, dan letih

Kelebihan kalsium dalam darah bisa berdampak pada otak dan menimbulkan gejala kebingungan atau linglung, lelah, dan lesu.

  • Kecemasan dan depresi

Hiperkalsemia juga memengaruhi kesehatan mental, dan bisa berujung pada gangguan kecemasan maupun depresi.

  • Tekanan darah tinggi dan denyut jantung abnormal

Kelebihan kalsium dalam darah dapat meningkatkan tekanan darah dan menimbulkan kelainan elektrik jantung, yang mengubah irama detak jantung.

Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, periksakanlah diri ke dokter. Dengan menjalani diagnosis sedini mungkin, pengobatan bisa dilakukan secepatnya.

Pengobatan hiperkalsemia yang dianjurkan oleh dokter

Untuk kondisi hiperkalsemia ringan, dokter kemungkinan memilih untuk tidak memberikan obat apapun. Namun keadaan pasien akan terus dipantau, termasuk kondisi tulang dan ginjal selama jangka waktu tertentu.

Sementara untuk kondisi hiperkalsemia yang tergolong berat, dokter akan menyarankan penggunaan obat-obatan tertentu. Obat-obatan ini berfungsi menurunkan kadar kalsium dalam darah.

Bila perlu, dokter juga bisa menyarankan tindakan bedah. Misalnya ketika hiperkalsemia disebabkan oleh tumor pada kelenjar paratiroid.

Dengan pengobatan yang tepat, kondisi kelebihan kalsium Anda niscaya akan membaik dan  komplikasi yang tidak diinginkan pun bisa dihindari.

Sederet komplikasi akibat hiperkalsemia

Kondisi hiperkalsemia yang parah dapat menimbulkan sejumlah komplikasi. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Osteoporosis atau tulang keropos

Bila terus-menerus melepas kalsium ke dalam darah, lama-kelamaan tulang akan keropos dan memicu penyakit osteoporosis. Tulang pun menjadi mudah patah dan bentuk badan Anda bisa berubah menjadi bungkuk.

  • Batu ginjal

Jika jumlahnya terlalu banyak di dalam urine, risiko kalsium yang mengkristal di dalam ginjal turut meningkat dan dapat berujung pada batu ginjal.

  • Gagal ginjal

Hiperkalsemia yang parah dan tidak ditangani bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Kondisi ini akan mengakbatkan organ tersebut kehilangan kemampuan dalam menyaring dan membuang racun-racun dari tubuh.

  • Gangguan sistem saraf

Hiperkalsemia berat bisa menimbulkan kepikunan atau menyebabkan kondisi koma yang fatal.

  • Aritmia atau detak jantung tidak teratur

Kelebihan kalsium akan memengaruhi impuls elektrik pada jantung yang berfungsi mengatur denyut jantung. Sebagai akibatnya, detak jantung menjadi tidak teratur (aritmia).

Diagnosis dan pengobatan yang tepat adalah kunci utama untuk mengatasi hiperkalsemia. Karena itu, segera konsultasi ke dokter apabila Anda merasakan gejala-gejala yang mengarah pada kelebihan kalsium. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu fungsi organ vital tubuh dan membahayakan kesehatan.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14597-hypercalcemia
Diakses pada 18 April 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypercalcemia/symptoms-causes/syc-20355523
Diakses pada 18 April 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322012#symptoms
Diakses pada 18 April 2020

Artikel Terkait