Hiperbilirubin adalah alasan mengapa bayi baru lahir menjadi kuning
Hiperbilirubin menyebabkan bayi baru lahir menjadi kuning

Salah satu momok yang mengintai bayi baru lahir adalah berubahnya warna kulit dan mata menjadi kekuningan, atau disebut sebagai penyakit kuning alias jaundice. Kondisi ini terjadi ketika di dalam tubuh bayi terjadi hiperbilirubin alias kelebihan jumlah bilirubin di dalam darah bayi.

Hiperbilirubin adalah kejadian yang banyak menimpa bayi di seluruh dunia dan biasanya tidak berbahaya. Meski demikian, kadar bilirubin yang terlalu tinggi dapat meracuni bayi sehingga bayi dengan bilirubin di ambang batas akan terus diawasi agar tidak berkembang menjadi enselopati bilirubin akut atau kernikterus.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bayi baru lahir dikatakan menderita hiperbilirubin ketika jumlah bilirubin dalam darahnya mencapai 5 mg/dL. Meski demikian, orangtua tidak perlu panik saat menemukan bayinya mengalami jaundice, apalagi sampai meminta bayi diterapi sinar, karena tidak semua kondisi hiperbilirubin harus diselesaikan dengan fototerapi ini.  

Apa saja gejala hiperbilirubin pada bayi?

Gejala hiperbilirubin pada bayi baru lahir berbeda-beda, namun pada umumnya bayi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Kulit dan bagian putih mata bayi (sklera) berubah menjadi kuning. Warna kuning ini biasanya terjadi pada area wajah terlebih dahulu kemudian turun ke badan dan seluruh tubuh bayi
  • Menolak menyusu
  • Lemas.

Gejala di atas juga bisa menandakan adanya masalah kesehatan lain pada bayi. Untuk menegakkan diagnosis hiperbilirubin atau bukan, Anda harus memeriksakan bayi ke dokter.

Apa saja penyebab hiperbilirubin pada bayi?

Ketika ibu hamil, bilirubin di dalam darah bayi dibuang oleh plasenta. Ketika bayi lahir dan plasenta tidak lagi berfungsi, maka tugas ini diambil alih oleh hati.

Dalam kasus bayi dengan hiperbilirubin, banyak hal dapat menjadi penyebabnya, antara lain:

  • Jaundice fisiologis

Kondisi ini biasanya terjadi pada hari kedua hingga hari ketiga kelahiran bayi dan merupakan hal yang normal karena organ hati masih melakukan penyesuaian fungsi setelah sebelumnya bilirubin dibuang oleh plasenta. Pada kondisi ini bayi tidak tampak sakit.

  • Breastfeeding jaundice (BFJ)

Breastfeeding jaundice (BFJ) terjadi ketika bayi tidak bisa menyusu langsung dengan baik karena beberapa hal, misalnya harus menjalani hari-hari pertama terpisah dari ibunya sehingga tidak mendapatkan asupan ASI. BFJ banyak ditemui pada bayi yang lahir prematur antara 34-36 minggu, maupun bayi yang lahir cukup bulan 37-38.

  • Breastmilk jaundice (BMJ)

Bila penyakit kuning biasa hanya berlangsung beberapa hari atau minggu, BMJ bisa bertahan hingga bayi berusia 3 bulan (12 minggu). BMJ terjadi ketika ada kandungan dalam air susu ibu (ASI) yang justru membuat kadar bilirubin dalam darah bayi meningkat. Sekitar 2 persen bayi mengalami kondisi hiperbilirubin yang satu ini.

  • Hemolisis

Kondisi ini terjadi karena perbedaan golongan darah atau resus antara darah ibu dan bayi. Hiperbilirubin karena hemolisis juga dapat terjadi ketika ada kelainan pada sel darah merah bayi.

  • Kelainan fungsi hati

Hiperbilirubin ini terjadi ketika ada kerusakan pada hati bayi sehingga organ tersebut tidak mampu membuang bilirubin dari dalam darah.

Cara mengatasi hiperbilirubin pada bayi

Saat bayi mengalami hiperbilirubin, tidak jarang dokter langsung merekomendasikan fototerapi atau dikenal dengan terapi sinar. Padahal, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa tidak semua bayi dengan hiperbilirubin harus menjalani perawatan ini.

Pemberian fototerapi baru direkomendasikan dalam kondisi berikut:

  • Pada bayi berusia 25-48 jam, total serum bilirubin mencapai 15 mg/dL atau lebih.
  • Pada bayi berusia 49-72 jam, total serum bilirubin mencapai 18 mg/dL atau lebih.
  • Pada bayi berusia lebih dari 72 jam, total serum bilirubin mencapai 20 mg/dL atau lebih.

Hiperbilirubin pada bayi dianggap berbahaya (patologis) jika mencapai 17 mg/dL di hari pertama kelahirannya. Bayi yang mengalami kenaikan bilirubin lebih dari 5 mg/dL dalam kurun kurang dari 24 jam juga harus mendapat penanganan segera, begitu pula bayi yang memperlihatkan tanda-tanda hiperbilirubin serius.

Kapan fototerapi bisa dihentikan? Tergantung kondisi dan usia bayi itu sendiri.

Untuk bayi yang dirawat di rumah sakit pertama kali setelah lahir (misalnya dengan kadar bilirubin lebih dari 18 mg/dL), maka terapi sinar dapat dihentikan setelah kadar bilirubin bayi mencapai 13-14 mg/dL. Sementara untuk bayi dengan hiperbilirubin hemolisis atau kondisi lain, bayi dapat dipulangkan setelah disinar maksimal 3-4 hari kemudian dipantau perkembangannya dalam 24 jam di rumah.

IDAI tetap merekomendasikan agar ASI terus diberikan selama bayi mengalami hiperbilirubin. Pemberian ASI lebih intensif dapat mengurangi atau mencegah hiperbilirubin pada bayi.

Meski demikian, bila dokter menduga kondisi ini terjadi karena breastmilk jaundice, dokter mungkin meminta penghentikan pemberian ASI selama 24 jam untuk melihat turun atau tidaknya kadar bilirubin dalam darah bayi. Bila penghentian ASI tidak berpengaruh pada tingginya bilirubin bayi, ibu dapat kembali menyusui bayi.

American Academy of Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/114/1/297
Diakses pada 28 Desember 2019

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=hyperbilirubinemia-and-jaundice-90-P02375
Diakses pada 28 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/indikasi-terapi-sinar-pada-bayi-menyusui-yang-kuning
Diakses pada 28 Desember 2019

University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02375
Diakses pada 28 Desember 2019

American Academy of Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2002/0215/p599.html
Diakses pada 28 Desember 2019

Artikel Terkait