Hemiplegia adalah penyakit yang memicu kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
Hemiplegia membuat penderitanya lumpuh pada salah satu sisi tubuh

Hemiplegia adalah kelumpuhan pada satu sisi tubuh, bisa bagian kanan atau bagian kiri. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari kerusakan pada salah satu sisi otak yang mengatur kerja otot.

Otot dapat berfungsi berkat sinyal listrik yang berjalan dari otak, menyusuri sistem saraf sepanjang tulang belakang, kemudian merangsang otot. Jika terjadi kerusakan pada otak, jalur sinyal ini akan terganggu dan menyebabkan kelumpuhan.

Karena sistem saraf yang menghubungkan otot dengan otak saling bersilangan, kerusakan di otak kanan dapat menyebabkan hemiplegia di sisi tubuh kiri. Sebaliknya, kerusakan pada otak kiri bisa memicu hemiplegia pada tubuh sebelah kanan.

Hemiplegia dapat muncul sebagai bawaan lahir maupun terjadi ketika dewasa. Mari simak penjelasannya di bawah ini.

Hemiplegia pada anak

Hemiplegia adalah salah satu penyakit yang bisa terjadi sebagai bawaan lahir alias kongenital maupun komplikasi akibat penyakit lain. Beberapa kondisi yang menyebabkan hemiplegia pada bayi dan anak-anak meliputi:

  • Perdarahan di dalam rongga otak yang berisi cairan (ventrikel otak).
  • Sindrom migrain.
  • Stroke.
  • Cedera kepala.
  • Tumor otak.
  • Infeksi, misalnya ensefalitis atau meningitis.
  • Multiple sclerosis.
  • Acute necrotizing myelitis.
  • Malformasi arteri vena, yaitu adanya kecacatan pada pembuluh darah arteri maupun vena.
  • Leukodystrophy, yakni sekelompok penyakit keturunan yang memengaruhi otak dan sistem saraf.

Selain kelumpuhan di satu sisi badan, hemiplegia pada anak dapat disertai dengan gejala-gejala berikut:

  • Kelemahan dan kekakuan otot.
  • Salah satu tangan yang selalu mengepal.
  • Kesulitan berjalan.
  • Sukar menjaga keseimbangan.
  • Kesulitan menggunakan kedua tangan. Misalnya, hanya memakai tangan yang sehat untuk bermain sebelum usia tiga tahun. Setelah usia tiga tahun, anak baru menunjukkan dominasi tangan kanan atau tangan kiri.
  • Sukar melakukan gerakan motorik halus, seperti menulis atau menggunting.
  • Keterlambatan perkembangan, contohnya terlambat duduk, merangkak, bicara, atau berjalan.
  • Sukar berkonsentrasi.
  • Kesulitan membentuk memori baru.
  • Perilaku yang agresif dan uring-uringan.
  • Suasana hati yang mudah berubah (mood swing).
  • Gangguan fungsi sensorik, misalnya fungsi mata yang terganggu.
  • Kejang-kejang.

Sementara itu, kelumpuhan satu sisi pada orang dewasa dapat terjadi dengan gejala yang berbeda pula.

Hemiplegia pada orang dewasa

Pada orang dewasa, hemiplegia paling sering disebabkan oleh stroke, baik akibat sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah otak. Hemiplegia karena stroke dapat menyebabkan gejala di bawah ini:

  • Satu sisi tubuh tiba-tiba menjadi lemah, mati rasa, atau sulit digerakkan.
  • Kesulitan berbicara akibat lumpuhnya otot-otot wajah.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kesulitan berjalan.
  • Kehilangan koordinasi dan keseimbangan tubuh.
  • Sakit kepala hebat.
  • Sulit bicara
  • Sulit menelan

Stroke merupakan kondisi gawat darurat medis yang harus segera ditangani. Pasalnya, sel-sel otak akan mati dengan cepat jika tidak mendapatkan pasokan oksigen.

Sayangnya, hanya sekitar tiga hingga lima persen penderita stroke yang memperoleh penanganan tepat waktu.

Hemiplegia akibat stroke seringkali tidak bisa kembali normal. Namun dalam beberapa kondisi, kelumpuhan satu sisi tubuh ini juga dapat pulih seutuhnya.

Taraf pemulihan bergantung pada banyaknya sel otak yang mati dan kecepatan penanganan. Jika kerusakan yang terjadi tidak luas, sel-sel otak yang masih hidup mungkin dapat mengambil alih fungsi sel otak yang sudah mati. Ini sebabnya, hemiplegia dapat sembuh total dalam kasus stroke tertentu.

Rehabilitasi untuk hemiplegia akibat stroke

Rehabilitasi hemiplegia adalah tahap yang memiliki peran yang sangat penting, dan harus dimulai secepat mungkin. Pada pasien dengan kondisi stabil, rehabilitasi dapat dilakukan dalam dua hari setelah serangan terjadi.

Hemiplegia memang tidak bisa dipulihkan melalui rehabilitasi. Tetapi rehabilitasi akan membangun kekuatan, kemampuan, dan kepercayaan diri penderita stroke untuk kembali ke kegiatan sehari-hari serta dapat beraktivitas semandiri mungkin.

Program rehabilitasi tersebut mencakup aktivitas yang meliputi:

  • Perawatan diri, misalnya cara mandi, mengenakan pakaian, menyisir rambut, atau makan.
  • Belajar berjalan, baik dengan alat bantu ataupun tidak. Jika harus memakai kursi roda, penderita perlu melatih diri agar bisa menjalankan kursi rodanya sendiri.
  • Berinteraksi dengan orang lain guna memulihkan kemampuan bersosialisasi.
  • Melatih fungsi komunikasi dan kognisi supaya bisa kembali normal.

Sebagian besar hemiplegia adalah kondisi yang tidak dapat sembuh total. Namun berbagai terapi yang dijalani oleh pasien dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter akan membantu agar gejala tidak terus bertambah parah dan risiko komplikasi dapat ditekan seminim mungkin. 

Selain itu, dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam proses rehabilitasi. Anggota keluarga dapat memasang alat bantu berupa pegangan di dinding rumah agar memudahkan penderita untuk berjalan. Dukungan dan semangat dari keluarga serta teman pun bisa membantu penderita hemiplegia agar tidak terpuruk dan mengalami depresi.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15345-paralysis/management-and-treatment
Diakses pada 25 November 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/Nemours/en/parents/az-hemiplegia.html
Diakses pada 25 November 2019

Children’s Hemiplegia and Stroke Association. https://chasa.org/medical/hemiplegia/. Diakses pada 25 November 2019

Christopher&Dana Reeve Foundation. https://www.christopherreeve.org/living-with-paralysis/health/causes-of-paralysis/stroke
Diakses pada 25 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed