Hilangkan Stigma, Kenali Lebih Jauh Gejala PTSD Berikut Ini

Mudah marah adalah salah satu gejala PTSD yang mudah dikenali
Salah satu gejala PTSD yang bisa terjadi adalah terus menerus memikirkan kejadian yang membuat trauma

Di Indonesia, banyak jenis gangguan psikologis yang belum mendapatkan perhatian. Salah satunya adalah post-traumatic stress disorder atau PTSD. Pasalnya, gejala PTSD memang terkadang sulit dikenali, karena cukup mirip gejala depresi.

PTSD adalah gangguan psikologis yang muncul akibat suatu kejadian yang menimbulkan trauma seperti kecelakaan, kekerasan, atau perang. Uniknya, gejala PTSD tidak selalu langsung muncul segera setelah kejadian traumatis itu terjadi.

PTSD didiagnosis setelah seseorang mengalami gejala selama setidaknya satu bulan setelah kejadian traumatis. Namun,seseorang bisa saja baru mulai merasakan gejalanya, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah mengalami kejadian traumatis.

Apa saja kondisi yang termasuk sebagai gejala PTSD?

Gejala PTSD secara umum dibagi menjadi empat tipe, yaitu: intrusive memory (gangguan pada ingatan), avoidance (menghindar), perubahan cara pikir menjadi lebih negatif, dan perubahan reaksi secara fisik maupun emosional. Gejala tersebut, bisa berbeda antara satu penderita PTSD dengan yang lainnya.

1. Gangguan pada ingatan

Penderita PTSD akan sangat sulit untuk melupakan kejadian yang membuatnya trauma. Seberapa besarpun usaha untuk menghapus ingatan tersebut, kejadian traumatis itu akan terus teringat, bahkan terbawa dalam mimpi. Penderita PTSD juga bisa tiba-tiba memikirkannya di siang hari.

Kembalinya ingatan tersebut dapat membuat penderita PTSD seolah-olah merasa kembali mengalami kejadian tersebut. Hal ini membuat penderita PTSD akan merasa:

  • Cemas
  • Takut
  • Bersalah
  • Curiga

Segala bentuk emosi tersebut, kemudian akan membuat penderita tiba-tiba merasa kedinginan, menggigil, sakit kepala, detak jantung menjadi cepat, dan mengalami serangan panik.

2. Menghindar

Menghindar di sini berarti Anda melakukan segala cara untuk menjauhi hal-hal yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Gejala PTSD yang satu ini akan terlihat seperti ini.

  • Anda akan berusaha untuk tidak memikirkannya.
  • Anda tidak ingin berbicara mengenai kejadian tersebut.
  • Anda akan menghindari siapapun dan apapun yang berkaitan dengan kejadian tersebut, termasuk menghindari lokasi dan kegiatan tersebut.

Menghindar dalam hal ini juga tidak hanya dikhususkan untuk segala hal yang berkaitan dengan kejadian. Penderita PTSD, juga bisa menghindari orang lain secara umum. Sehingga, rasa kesepian kerap muncul.

3. Perubahan cara pikir

Setelah mengalami kejadian yang membuat trauma, cara pikir Anda mungkin bisa berubah, seperti:

  • Selalu berpikiran negatif terhadap diri Anda dan orang lain.
  • Merasa tidak punya masa depan.
  • Mengalami gangguan daya ingat, termasuk melupakan aspek-aspek penting dari kejadian traumatis tersebut.
  • Kesulitan menjaga hubungan baik dengan kerabat.
  • Merasa tidak lagi bisa dekat dengan teman atau saudara.
  • Menjadi tidak tertarik lagi melakukan kegiatan yang semula menjadi hobi Anda.
  • Kesulitan untuk berpikiran positif.
  • Tidak memiliki kepekaan secara emosional.

4. Perubahan reaksi fisik dan emosi

Orang yang mengalami PTSD akan menjadi lebih mudah kaget atau takut. Ia juga akan selalu merasa waspada secara berlebihan. Selain kedua hal tersebut, kondisi-kondisi di bawah ini juga bisa dirasakan.

  • Memilih melakukan hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan, seperti mengonsumsi alkohol secara berlebihan, dan menyetir ugal-ugalan.
  • Sulit tidur.
  • Sulit konsentrasi.
  • Mudah marah dan berperilaku agresif.
  • Merasa malu dan bersalah terhadap kejadian traumatis yang dialami.

Merasa punya gejala PTSD? Tanyakan 8 hal ini ke diri Anda

Setelah mengenali berbagai gejala PTSD di atas, Anda mungkin merasa juga mengalami hal yang serupa. Namun perlu diingat, hal tersebut belum tentu menandakan Anda menderita PTSD.

Delapan pertanyaan di bawah ini, bisa membantu Anda untuk lebih mengenali gejala yang dirasakan.

  • Apakah Anda pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian traumatis atau kejadian yang mengancam nyawa?
  • Apakah pengalaman tersebut membuat Anda merasa sangat ketakutan atau merasa tidak bisa mendapatkan pertolongan dari siapapun?
  • Apakah Anda kesulitan untuk melupakan kejadian tersebut dan terus menerus memikirkannya?
  • Apakah Anda jadi lebih mudah kaget dan lebih mudah marah, jika dibandingkan dengan sebelum kejadian?
  • Apakah Anda berusaha sebisa mungkin menghindari kegiatan, berinteraksi dengan orang-orang, atau memikirkan hal yang berkaitan dengan kejadian tersebut?
  • Apakah Anda mengalami gangguan tidur atau sulit berkonsenterasi setelah mengalami kejadian tersebut?
  • Apakah gejala tersebut sudah Anda rasakan lebih dari satu bulan?
  • Apakah tekanan akibat kejadian tersebut membuat Anda sulit melakukan kegiatan sehari-hari seperti bekerja?

Apabila Anda menjawab “Ya” pada tiga atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kejiwaan, untuk memastikan bahwa yang Anda alami adalah PTSD.

Jangan pernah menyimpulkan sendiri gejala yang Anda alami, sebagai suatu gangguan mental. Mendiagnosis diri sendiri terkena gangguan mental adalah hal yang berbahaya dan kurang tepat. Apalagi, jika Anda sampai mencari sendiri obat untuk mengatasi kondisi tersebut.

Ingat, tidak semua kejadian traumatis menyebabkan PTSD

Setelah mengalami kejadian traumatis, hampir semua orang akan merasakan setidaknya sedikit gejala PTSD. Saat keamanan terancam, wajar jika Anda merasa ingin menarik diri dari lingkungan sekitar.

Mengalami mimpi buruk merupakan hal yang wajar. Begitu pula jika Anda merasa ketakutan, atau sulit untuk mengeluarkan kejadian tersebut dari pikiran. Hal-hal tersebut adalah respons normal dari sebuah kejadian traumatis.

Bagi sebagian besar orang, kondisi-kondisi tersebut hanya akan dialami dalam waktu singkat selama beberapa hari atau minggu. Selanjutnya, hal itu akan hilang dengan sendirinya. Namun, pada penderita PTSD, gejala tersebut tidak mereda, bahkan setelah waktu yang lama atau bahkan dirasa bertambah parah.

Mengunjungi psikiater atau psikolog mungkin belum lumrah dilakukan di Indonesia. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa melakukannya. Penyakit kejiwaan sama pentingnya untuk diobati, seperti halnya penyakit fisik.

Jika Anda tidak keberatan untuk berkonsultasi dengan dokter ketika demam dan batuk, kenapa harus malu untuk mengunjungi psikiater ketika stres? Keduanya sama-sama penyakit, yang bisa disembuhkan dengan penanganan tepat tepat.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967
Diakses pada 18 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/what-are-symptoms-ptsd
Diakses pada 18 Juli 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/ptsd-trauma/ptsd-symptoms-self-help-treatment.htm
Diakses pada 18 Juli 2019

Anxiety And Depresion Association Of America. https://adaa.org/understanding-anxiety/posttraumatic-stress-disorder-ptsd/symptoms

Artikel Terkait

Banner Telemed