Kenali Herpes Zoster, Kelanjutan Cacar Air pada Orang Dewasa

Ruam dan benjolan Herpes zoster membentuk alur di salah satu sisi tubuh.
Ruam dan benjolan pada wajah menjadi salah satu tanda herpes zoster atau cacar api.

Herpes zoster atau cacar api disebabkan oleh virus yang dinamakan varicella zoster. Virus tersebut juga menyebabkan cacar air. Oleh karena itu, herpes zoster kerap disebut sebagai kelanjutan cacar air.

Varicella zoster merupakan virus yang masuk ke dalam grup yang sama dengan virus herpes, penyebab herpes simplex dan herpes kelamin. Oleh karena itu, infeksi laten varicella zoster juga disebut sebagai herpes zoster.

Penyakit ini umumnya menyerang lansia berusia di atas 60 tahun. Namun secara umum, herpes zoster juga dapat terjadi pada individu di segala usia, yang pernah menderita cacar air. Agar Anda lebih waspada, kenali lebih jauh penjelasan mengenai herpes zoster berikut ini.

Gejala herpes zoster

Gejala awal herpes zoster biasanya berhubungan dengan respons sistemik (seperti demam, tidak nafsu makan, dan mudah lelah). Gejala awal ini biasanya sangat ringan dan penderita bisa saja tidak merasa terinfeksi.

Kemudian, akan muncul rasa gatal dan rasa seperti terbakar atau tidak nyaman di kulit sebagai tanda akan munculnya bintil merah berisi cairan.

Ruam kemerahan ini akan muncul sekitar satu hingga lima hari setelah rasa tidak nyaman di kulit terjadi dan akan muncul di daerah yang sama dengan rasa tidak nyaman tersebut, ciri ruam yang menjadi ciri khas herpes zoster adalah:

  • Ruam berbentuk bulat; bintil berisi air muncul di permukaan kulit Kulit di sekitar bintil akan berwarna kemerahan
  • Ruam hanya ditemukan di satu bagian tubuh dan membentuk pola tertentu. Namun, jika penderita memiliki sistem imun yang rendah, ruam mungkin dapat ditemukan di beberapa daerah tubuh
  • Bintil akan pecah setelah tujuh hingga sepuluh hari
  • Ruam akan hilang dengan sendirinya setelah dua hingga empat hari

Perbedaan herpes zoster dan cacar air

Jika dilihat secara kasat mata, penampakan dari cacar air dan cacar api tidak jauh berbeda. Sehingga, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa penderita herpes zoster mengalami cacar air untuk yang kedua kalinya. Padahal keduanya adalah penyakit yang berbeda.

Apabila Anda pernah menderita cacar air, virus varicella zoster akan tetap berada di dalam tubuh. Namun, virus tersebut tidak aktif dan mendiami jaringan saraf di dekat saraf tulang belakang dan otak. Bertahun-tahun kemudian, virus tersebut dapat kembali aktif dan menyebabkan penyakit yang dinamakan herpes zoster.

Berikut perbedaan herpes zoster dan cacar air yang dapat Anda kenali:

1. Awal munculnya gejala

Pada cacar air, gejala awal yang dirasakan hampir serupa dengan gejala flu, yaitu demam, pusing, dan tubuh terasa lelah. Sementara itu pada herpes zoster, gejala pertama yang dirasakan berupa kesemutan, gatal, atau nyeri seperti tertusuk-tusuk.

2. Ruam dan penyebaran benjolan

Setelah gejala awal muncul, ruam dan benjolan-benjolan kecil pada cacar air dapat muncul. Ruam dan benjolan tersebut bisa terlihat, mulai dari wajah dan akan menyebar ke dada atau punggung, dalam waktu satu hingga dua hari setelahnya. Lalu, dalam waktu tiga hingga empat hari berikutnya, ruam akan menyebar ke seluruh tubuh.

Pada herpes zoster, ruam akan muncul beberapa hari setelah gejala awal terjadi. Ruam dan benjolan-benjolan tersebut akan membentuk semacam alur pada salah satu sisi dari tubuh, wajah, atau area lain di tubuh. Benjolan-benjolan berisi cairan tersebut kemudian akan mengering dalam waktu beberapa hari.

3. Masa penyembuhan

Secara umum, cacar air akan sembuh dalam waktu 1 minggu saat benjolan dan ruam mengering dan mengelupas. Namun pada herpes zoster, penyembuhan memerlukan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sekitar tiga hingga lima minggu.

4. Penularan

Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar dengan mudah melalui udara, maupun kontak langsung dengan penderita. Sementara itu, herpes zoster tidak dapat menular antarmanusia.

Hanya saja, apabila penderita herpes zoster berkontak dengan orang yang belum pernah mengalami cacar air, maka orang tersebut dapat tertular dan terkena infeksi cacar air.

Herpes Zoster, Berbahayakah?

Apabila dialami oleh individu berusia dewasa muda yang sehat, herpes zoster bukanlah suatu penyakit yang berbahaya dan dapat hilang sepenuhnya, dalam waktu dua hingga empat minggu. Namun, herpes zoster dapat menjadi penyakit yang berisiko tinggi, apabila dialami oleh lansia berusia di atas 60 tahun, dan ibu hamil.

Lansia dengan penyakit ini, berisiko lebih besar mengalami komplikasi seperti ruam yang parah dan infeksi bakteri pada benjolan yang pecah. Lansia yang menderita herpes zoster juga lebih rentan terhadap pneumonia dan peradangan otak.

Sementara itu, ibu hamil yang belum pernah menderita cacar air maupun belum pernah menerima vaksin cacar sebelumnya, berisiko tertular virus dari penderita herpes zoster. Pada usia kehamilan tertentu, cacar air pada ibu hamil, dapat meningkatkan risiko cacat lahir pada bayi.

Mengenali lebih jauh mengenai herpes zoster dapat membantu Anda mengantisipasinya, dengan melakukan pencegahan maupun perawatan yang tepat. Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami gejala herpes zoster.

Cegah dengan vaksin herpes zoster

Faktor risiko menderita herpes zoster, yang juga disebut sebagai 'shingles', adalah pertambahan usia, wanita, seseorang berkulit putih, dan seseorang yang memiliki riwayat keluarga mengalami herpes zoster.

CDC dari Amerika merekomendasikan penggunaan vaksin herpes zoster pada orang-orang berusia 60 tahun atau di atasnya, baik mereka sebelumnya pernah menderita herpes zoster atau tidak.

Di Amerika, peneliti menemukan bahwa vaksin ini dapat menurunkan kemunculan penyakit dengan tingkat efektivitas mencapai 61,1%. Meskipun tidak 100%, namun mencegah herpes zoster sangat penting untuk kesehatan lansia, yang menurut medis dianggap sebagai kelompok usia tersulit dan rentan terhadap komplikasi untuk mendapat pengobatan.

Association for Professionals in Infection Control and Epidemiology. https://apic.org/Resource_/TinyMceFileManager/for_consumers/IPandYou_Bulletin_Chicken_Pox_and_Shingles.pdf
Diakses pada 1 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/shingles/symptoms-causes/syc-20353054
Diakses pada 1 April 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/154912.php
Diakses pada 1 April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/shingles
Diakses pada 1 April 2019

New England Journal of Medicine. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp1302674
Diakses pada 7 Februari 2020

ADA Health. https://ada.com/conditions/herpes-zoster-infection/ Diakses pada 10 Februari 2020

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1132465-clinical#b1 Diakses pada 10 Februari 2020

Artikel Terkait

Banner Telemed