Herpes Simplex Bisa Sembuh, tapi Tetap Waspadai Dampak Psikologisnya

Virus herpes simplex bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan penderitanya
Salah satu gejala herpes simplex adalah luka timbul berwarna kemerahan di sekitar mulut.

Di penjuru dunia, World Health Organization mencatat setidaknya ada 420,7 juta orang berusia 15 hingga 50 tahun yang tertular virus herpes simplex. Jumlah itu terbagi menjadi 67% untuk HSV-1 dan 11% untuk HSV-2, dua tipe virus herpes simplex.

Kedua tipe virus herpes simplex sama-sama ditularkan lewat kontak langsung dengan penderita. Virus HSV-1 ditularkan lewat kontak oral.

Kontak oral bisa juga terjadi karena berbagi sikat gigi, cangkir, atau lipstik dari orang yang telah terinfeksi HSV.

Sementara virus HSV-2 ditularkan lewat hubungan seksual yang meliputi sentuhan kulit, luka, air liur, atau cairan tubuh lainnya saat berhubungan.

[[artikel-terkait]]

Bagaimana gejala herpes simplex?

Sebagian besar infeksi herpes simplex tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Bahkan, penderitanya bisa saja tidak merasa terinfeksi. Jika terasa, gejalanya adalah luka timbul berwarna kemerahan di sekitar mulut.

Tak hanya di sekitar mulut, infeksi herpes simplex juga bisa terjadi di area genital.

Penderitanya akan merasa gatal, perih, dan sensasi panas sebelum munculnya luka yang biasa disebut blister atau open sore tersebut. Luka ini bisa terbuka dan mengeluarkan cairan.

Biasanya, luka ini akan muncul dalam 20 hari pertama setelah terinfeksi virus herpes simplex. Gejalanya bisa bertahan selama 7-10 hari.

Selain luka, gejala terinfeksi virus HSV lain kadang serupa dengan gejala flu, gangguan buang air kecil, hingga infeksi di mata.

Bisakah herpes simplex disembuhkan?

Penderita herpes simplex biasanya diberi pengobatan antibiotik dan salep untuk dioleskan pada luka. Pengobatan medis yang diberikan biasanya berupa acyclovir, famciclovir, atau valacyclovir.

Langkah-langkah pengobatan ini bertujuan untuk mengendalikan penularan virus HSV.

Meski demikian, luka akibat herpes simplex bisa hilang dengan sendirinya setelah beberapa pekan. Bagi orang yang sudah pernah menderita herpes simplex, risiko infeksi dapat terjadi terutama pada mereka dengan imunitas rendah (imunokompromais)

Bagaimana jika pasangan terkena herpes simplex?

Virus HSV, terutama HSV-2, hampir selalu ditularkan lewat hubungan seksual. Apalagi, virus HSV akan terus hidup dalam tubuh seseorang.

Kabar baiknya, meski herpes simplex kambuh sekalipun, gejalanya cenderung lebih ringan. Tubuh telah membangun antibodi untuk melawan virus itu.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika pasangan terkena herpes simplex?

  • tidak berhubungan seksual saat herpes simplex mewabah
  • tidak berbagi benda yang bisa menularkan virus seperti handuk, gelas, pakaian, makeup, lipstik
  • menggunakan kondom saat berhubungan seksual
  • bagi penderita, oleskan salep dengan kapas (tidak langsung dengan tangan)
  • selalu mencuci tangan setiap usai pengobatan

Hal yang tak kalah menghantui dari herpes simplex adalah hubungan seksual yang tak lagi harmonis. Di sinilah pentingnya saling jujur antar-pasangan tentang kondisi mereka.

Jangan sampai ketika gejala herpes simplex sudah mereda, justru hubungan seksual tetap dingin. Hal ini bisa memicu masalah psikologis jangka panjang. Jangan sepelekan dampaknya: depresi.

Saling dukung dan percaya adalah kunci yang tak kalah penting dalam menghadapi masalah herpes simplex. Bergabung dengan support group atau bicara dengan orang yang pernah menderitanya juga bisa jadi pilihan.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus
Diakses 12 Mei 2019

American Academy of Dermatology. https://www.aad.org/public/diseases/contagious-skin-diseases/herpes-simplex#treatment
Diakses 12 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/herpes-simplex#prevention
Diakses 12 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/genital-herpes/partner-faq#2
Diakses 12 Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1132351-overview#a5
Diakses 24 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed