IDAI tidak merekomendasikan penggunaan baby walker sebagai alat bantu jalan bayi
Baby walker kini sudah tidak lagi direkomendasikan untuk digunakan

Apakah Anda termasuk orangtua yang mengizinkan anak berlatih berjalan dengan baby walker? Bila iya, Anda sebaiknya mencari alternatif pengganti baby walker karena alat yang diklaim dapat merangsang kemampuan motorik anak ini ternyata justru berbahaya bagi anak-anak.

Baby walker adalah alat bantu jalan bayi yang terdiri atas kerangka keras beroda dengan sling untuk meletakkan bayi agar dapat berada dalam posisi berdiri atau duduk bila jatuh. Baby walker juga dilengkapi meja dengan mainan di depan bayi untuk merangsang keinginannya meraih mainan tersebut sehingga kemudian berjalan ke depan dengan bantuan roda pada baby walker.

Mengapa baby walker berbahaya untuk anak?

Dalam beberapa artikel yang diterbitkan di situs resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan tegas melarang penggunaan baby walker sebagai alat bantu jalan bayi. Salah satu alasannya didasarkan pada statistik, yakni terjadi peningkatan tingkat kecelakaan bayi yang menggunakan baby walker dalam dua dekade terakhir dari 64 persen menjadi 86 persen.

Pernyataan yang sama juga diutarakan Akademi Dokter Anak Amerika Serikat (AAP). Mereka berpendapat bayi yang diletakkan di baby walker dapat mengalami berbagai kecelakaan, seperti:

  • Terjatuh dari tangga, merupakan kecelakaan paling sering terjadi saat bayi bermain dengan baby walker. Jika mengalami kecelakaan ini, bayi bisa mengalami cedera serius, seperti patah tulang hingga retak pada tengkorak kepala.
  • Mengalami luka bakar, terutama disebabkan oleh siraman air panas, api kompor, perapian, pemanas ruangan, setrika, maupun tersengat listrik. Saat berada di baby walker, bayi akan memiliki posisi lebih tinggi sehingga dapat menarik benda-benda yang berada di atas meja maupun meraih lubang colokan listrik yang sebelumnya tidak bisa ia gapai.
  • Tenggelam, karena ia dapat ‘berlari’ ke kolam renang dengan cepat.
  • Keracunan, jika ia dapat meraih obat nyamuk ataupun cairan pembersih ruangan.

Seiring berkembangnya teknologi, banyak baby walker yang kini diklaim lebih aman untuk anak. Mereka biasanya dibuat dengan lebih lebar sehingga tidak bisa melewati pintu ataupun memiliki rem. Namun, AAP tetap tidak memberi lampu hijau untuk penggunaan baby walker karena mereka tetap memiliki roda dan dapat membuat bayi meraih permukaan yang lebih tinggi.

Baby walker tidak membantu anak lebih cepat berjalan

Klaim yang mengatakan baby walker dapat menstimulasi motorik kasar bayi sehingga ia cepat mampu berjalan juga ditampik mentah-mentah oleh IDAI dan AAP. Faktanya, bayi yang tidak menggunakan baby walker pun sama-sama bisa berjalan pada waktunya, bahkan bukan tidak mungkin lebih cepat dibanding bayi yang menggunakan alat bantu jalan bayi tersebut.

IDAI mengungkap bahwa baby walker justru dapat mengurangi keinginan anak untuk segera mampu berjalan sendiri. Pasalnya, bayi merasa lebih mudah berjalan dengan bantuan baby walker tersebut dibanding harus jatuh-bangun latihan berjalan secara mandiri.

Baby walker dianggap dapat mempercepat proses belajar berjalan pada bayi karena digadang-gadang dapat menguatkan otot kaki bayi. Anggapan ini tidak benar karena saat berjalan harus ada koordinasi antara mata, tangan, dan kaki. Ketika menggunakan baby walker, bayi hanya mendorong badannya sehingga tidak membantu ia berjalan.

Bagi Anda yang tetap bersikeras untuk menggunakan baby walker sebagai alat bantu jalan bayi, mulailah perhatikan cara jalan bayi Anda saat berada di baby walker. Bayi yang berada di baby walker biasanya berjalan dengan berjinjit atau berdiri dengan ujung jari kaki.

Hal ini mengakibatkan otot kaki menjadi tegang serta membuat bayi lebih terbiasa berjalan secara berjinjit. Apalagi, saat berjalan dengan baby walker, bayi tidak bisa melihat kakinya serta kurang mampu belajar menyeimbangkan tubuh, padahal kemampuan tersebut paling dibutuhkan saat ia mampu berjalan dengan sendirinya.

Bagaimana cara melatih bayi berjalan selain menggunakan baby walker?

Bagi Anda yang ingin melatih motorik anak untuk berjalan, ada pilihan yang lebih aman daripada baby walker. Alternatif ini pun diamini oleh AAP, yaitu:

  • Stationary activity center: yakni mainan yang memiliki dudukan, bisa membuat bayi berayun, berputar, dan kadang kala mengelilingi meja di tengahnya. Mainan ini dianggap aman karena meja di tengah tidak dapat bergerak sehingga bayi tidak dapat berpindah ruangan.
  • Ayunan yang dapat membuat bayi menggerakkan kakinya tanpa mampu berpindah tempat.

IDAI sendiri merekomendasikan bayi untuk lebih banyak mengeksplorasi lantai. Bila perlu, Anda dapat menstimulasinya dengan meletakkan mainannya sedikit di luar jangkauan bayi agar ia mau bergerak.

Pastikan juga tidak ada barang-barang berbahaya di sekitar bayi, seperti kabel dan stop kontak. Terakhir, jangan lepaskan pengawasan Anda ketika bayi tengah belajar berjalan.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/penggunaan-baby-walker
Diakses pada 28 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/menjelajah-sebelum-berjalan
Diakses pada 28 Desember 2019

Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-home/Pages/Baby-Walkers-A-Dangerous-Choice.aspx
Diakses pada 28 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-walkers-safety
Diakses pada 28 Desember 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed