Hemophobia, Takut Darah Ekstrem Hingga Bikin Gemetar


Seperti halnya ketakutan akan badut dan rumah angker, hemophobia adalah rasa takut luar biasa akan darah. Jangankan mengikuti prosedur medis yang berkaitan dengan darah. Melihat atau membayangkannya saja sudah bisa membuat mual dan pusing seketika.

0,0
01 Aug 2021|Azelia Trifiana
Takut saat melihat darahTakut saat melihat darah
Seperti halnya ketakutan akan badut dan rumah angker, hemophobia adalah rasa takut luar biasa akan darah. Jangankan mengikuti prosedur medis yang berkaitan dengan darah. Melihat atau membayangkannya saja sudah bisa membuat mual dan pusing seketika.Hemophobia atau takut darah ini termasuk dalam fobia spesifik. Lebih jauh lagi, kategorinya termasuk dalam fobia blood-injection-injury atau BII phobia. Sangat mungkin, takut darah ekstrem ini berdampak pada kehidupan sehari-hari orang yang mengalaminya.

Gejala hemophobia

Ketika mengalami fobia, akan muncul reaksi baik fisik maupun emosional. Beberapa gejala fisik yang mungkin muncul ketika melihat darah di antaranya:
  • Napas tersengal-sengal
  • Detak jantung cepat
  • Dada terasa sesak dan sakit
  • Gemetar
  • Pusing
  • Mual
  • Keringat berlebih
Selain itu, bisa juga muncul gejala secara emosional seperti:
  • Merasa cemas atau panik luar biasa
  • Kewalahan ingin melarikan diri dari situasi
  • Merasa situasi tidak nyata
  • Hilang kendali
  • Sensasi akan pingsan
  • Merasa tidak berdaya menghadapi rasa takut
Pada anak-anak yang memiliki hemophobia, akan muncul gejala lain seperti tantrum, lebih menempel pada orang di sekitarnya, menangis, bersembunyi, atau menolak meninggalkan orangtua atau pengasuhnya ketika ada situasi yang mungkin memperlihatkan darah.Lebih jauh lagi, hemophobia termasuk unik karena ada respons vasovagal. Ini adalah jenis respons ketika detak jantung dan tekanan darah turun drastis sebagai respons saat melihat darah.Konsekuensinya, sangat mungkin muncul rasa pusing hingga nyaris hilang kesadaran. Setidaknya, tim peneliti asal Aligarh Muslim University mencatat 80% orang dengan fobia BII akan mengalami respons vasovagal. Namun, sangat jarang respons serupa ditemukan pada jenis fobia spesifik lain.

Mengapa terjadi?

Biasanya, fobia spesifik semacam takut darah ini pertama kali muncul ketika anak berusia 10-13 tahun. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya fobia ini adalah:
  • Gangguan kepribadian neurotik seperti serangan panik, agoraphobia, atau fobia hewan
  • Faktor genetik seperti lebih sensitif atau emosional
  • Pola ketakutan pada darah dari orang sekitar seperti orangtua atau pengasuh
  • Orangtua atau pengasuh yang overprotektif
  • Trauma saat harus dirawat di rumah sakit atau cedera serius dengan perdarahan
Lebih jauh lagi, awal mula anak mulai mengalami hemophobia adalah saat 9 tahun pada anak laki-laki, dan 7,5 tahun pada anak perempuan. Pergeseran ini terjadi karena anak-anak yang lebih kecil biasanya punya sumber ketakutan berupa gelap, orang asing, atau suara bising.

Diagnosis dan penanganan

Proses diagnosis kondisi hemophobia adalah hal yang gampang-gampang susah. Mengingat orangnya punya ketakutan tersendiri pada darah dan hal-hal medis, mungkin saja justru memilih untuk tidak memeriksakan diri ke dokter.Namun kabar baiknya, biasanya pemeriksaan tidak melibatkan peralatan medis atau jarum. Prosesnya hanya berupa berbincang dengan dokter tentang gejala yang muncul dan sudah berapa lama berlangsung.Biasanya, dokter akan menggunakan kriteria terkait kategori BII untuk menegakkan diagnosis resmi. Jangan lupa menyampaikan kepada dokter jika ada pertanyaan lain.Pilihan penanganan untuk hemophobia di antaranya berupa:
  • Terapi paparan

Terapis akan memberikan paparan secara bertahap berupa sumber ketakutan. Mulai dari latihan visual melihat darah dan seterusnya. Biasanya, terapi ini memerlukan beberapa sesi hingga terlihat hasilnya.
  • Terapi kognitif

Terapis juga akan mengidentifikasi bagaimana perasaan yang muncul ketika ada di dekat darah. Cara kerja terapi ini adalah menggantikan rasa cemas dengan pikiran yang lebih realistis terkait apa yang sebenarnya terjadi ketika menjalani prosedur atau melihat cedera dengan darah.
  • Relaksasi

Jenisnya bermacam-macam mulai dari latihan napas hingga yoga demi meredakan fobia. Teknik ini bisa mengalihkan rasa stres serta meredakan gejala fisik yang muncul.
  • Pemberian tekanan

Metode terapi ini dilakukan dengan memberi tekanan pada otot di lengan, dada, atau kaki selama interval waktu tertentu. Proses berlangsung hingga wajah memerah saat melihat darah. Harapannya, kemampuan merespons pemicu fobia bisa semakin kuat apabila sudah terlatih.
  • Konsumsi obat

Pada kondisi yang lebih parah, mungkin perlu ada konsumsi obat. Namun, bukan berarti ini adalah satu-satunya solusi untuk fobia yang cukup parah. Selalu diskusikan dengan dokter sebelum melakukannya.

Catatan dari SehatQ

Jangan ragu mendiskusikan kondisi ini terutama jika sampai mengganggu urusan Anda ke rumah sakit atau dokter. Memeriksakan diri lebih cepat akan memudahkan keseluruhan proses penanganan.Tak hanya itu, apabila Anda memiliki anak dan masih berkutat dengan hemophobia, sebaiknya segera lakukan penanganan. Harapannya agar anak tidak mendapatkan persepsi bahwa darah merupakan hal yang menyeramkan atau jadi pemicu dari faktor lingkungan.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar hemophobia dan bagaimana membedakannya dari rasa takut biasa akan darah, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalfobia
Healthline. https://www.healthline.com/health/hemophobia
Diakses pada 17 Juli 2021
Behavioural Neurology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4094700/
Diakses pada 17 Juli 2021
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/fear-of-blood-hemophobia-causes-and-symptoms-2671861
Diakses pada 17 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait