logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Memahami Helicopter Parenting Beserta Dampaknya pada Anak

open-summary

Helicopter parenting adalah pola asuh orangtua yang sangat terfokus pada anak dan memantau gerak-gerik si kecil setiap waktu. Dampaknya pada anak cukup beragam, mulai dari timbulnya rasa takut akan kegagalan, kepercayaan diri rendah, hingga kecemasan berlebih pada anak.


close-summary

4.7

(10)

24 Mar 2022

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Orangtua dengan helicopter parenting seringkali memaksakan keinginan mereka tanpa mempertimbangkan perasaan anak

Helicopter parenting membuat orangtua ingin selalu mengontrol apa pun yang dilakukan anak

Table of Content

  • Apa itu helicopter parenting?
  • Kapan helicopter parenting mulai diterapkan?
  • Mengapa orangtua menerapkan helicopter parenting?
  • Ciri-ciri helicopter parenting
  • Dampak helicopter parenting terhadap anak
  • Apakah ada manfaat helicopter parenting?
  • Mencegah orangtua melakukan pola asuh helikopter

Sebagai orangtua, tentu Anda ingin memberikan yang terbaik dan menjauhkan hal-hal buruk dari anak. Terkadang, hal ini membuat Anda menjadi overprotektif sehingga terus memantau setiap gerak-gerik si kecil di segala aktivitasnya. Secara tidak langsung, Anda telah menerapkan pola asuh helicopter parenting.

Advertisement

Apa itu helicopter parenting?

Helicopter parenting adalah istilah yang pertama kali muncul dalam buku Dr. Haim Ginott berjudul Parents & Teenagers pada tahun 1969 silam.

Pengertian helicopter parenting adalah pola pengasuhan yang sangat fokus pada anak-anak dan memantau setiap gerak-gerik mereka layaknya ‘helikopter.’

Pola pengasuhan ini cenderung mengambil alih seluruh pengalaman, bahkan kesuksesan atau kegagalan anak sekalipun. Psikolog juga menyebut helicopter parenting sebagai overparenting.

Segala hal yang berlebihan tentunya tidak baik. Orangtua dengan pola asuh overparenting cenderung terlalu mengontrol, terlalu melindungi, bahkan terlalu menyempurnakan segalanya untuk anak, bahkan di luar kapasitas normal orangtua.

Kapan helicopter parenting mulai diterapkan?

ciri-ciri helicopter parenting
Helicopter parenting

Umumnya, istilah helicopter parenting disematkan pada orangtua dengan anak di usia SMA atau kuliah. Pada fase ini, anak-anak seharusnya sudah menjadi individu yang mandiri dan bisa melakukan tanggung jawabnya sendiri. Meski demikian, pola asuh helicopter ini dapat diaplikasikan di usia berapa pun.

Misalnya, pada anak-anak balita, ciri-ciri helicopter parenting pada orangtua adalah selalu membayangi langkah anaknya, termasuk memberi tahu apa yang harus dilakukan tanpa memberikan mereka waktu untuk mengenal dirinya sendiri.

Pada level tertentu, hal ini baik dilakukan untuk melindungi anak dari bahaya yang tidak diketahuinya. Namun, jika penerapannya terlalu berlebihan, pola asuh ini tentu saja mengganggu perkembangan pribadi anak.

Pada usia yang sedikit lebih besar, misalnya sekolah dasar (SD), orangtua helicopter parenting bisa saja memaksakan keinginan mereka. Mulai dari memilih kelas, pengajar, aktivitas, hingga lingkaran pertemanan.

Saat anak sedang mengerjakan tugas, orangtua yang menganut pola asuh ini bisa saja memberikan pendampingan yang berlebihan bahkan hingga mendominasi.

Mengapa orangtua menerapkan helicopter parenting?

Bukan tanpa alasan orangtua menerapkan helicopter parenting. Beberapa hal yang biasanya memicu terjadinya hal ini, di antaranya:

  • Takut konsekuensi

Sukses dan gagal adalah hal lazim dalam kehidupan. Namun, orangtua helicopter parenting tidak menganggap itu hal biasa.

Mereka merasa keterlibatan orangtua dapat menghindari anak-anak dari masalah atau kegagalan.

  • Cemas berlebih

Kecemasan berlebih yang dirasakan orangtua membuat mereka mengendalikan hidup anak secara berlebihan. Tujuannya untuk melindungi anak agar tidak pernah merasa kecewa atau terluka.

Sebuah studi yang dimuat dalam paper International Academic Conference on Humanities and Social Sciences menjelaskan, anak-anak mahasiswa yang diasuh oleh helicopter mom atau dad lebih berisiko menjalani pengobatan akibat gangguan kecemasan dan depresi.

Meski begitu, perlu diingat bahwa studi tersebut masih cukup terbatas karena partisipannya hanya anak perempuan yang diambil dari populasi kecil di Turki.

  • Kompensasi berlebih

Orang dewasa yang merasa terabaikan atau tidak dicintai di masa kecilnya berpotensi melampiaskan hal sebaliknya pada keturunan mereka. Hal ini dinilai sebagai bentuk kompensasi yang berlebihan untuk anak dan bisa terjadi tanpa disadari.

  • Tekanan dari orangtua lain

Persaingan atau tekanan dari sesama orangtua juga bisa memicu terjadinya helicopter parenting.

Secara alami, orangtua yang tidak terlalu terlibat ke dalam kehidupan anak akan merasa bersalah. Konsekuensinya, rasa bersalah itu yang membuat orangtua terlalu mengatur kehidupan anak.

Ciri-ciri helicopter parenting

ciri ciri helicopter parenting
Ciri-ciri helicopter parenting

Dikutip dari Web MD, terdapat sejumlah ciri-ciri helicopter parenting pada orangtua yang dapat terlihat, di antaranya:

  • Terlalu ikut campur dalam masalah anak

Salah satu ciri-ciri helicopter parenting pada orangtua adalah terlalu ikut campur dalam masalah anak, entah itu di sekolah atau lingkungan sosialnya.

Misalnya, anak terlibat argumen atau perkelahian di sekolah. Helicopter parents akan langsung menelepon orangtua murid yang sedang berkonflik dengan anak untuk menyelesaikan masalahnya.

Padahal, ada baiknya orangtua memandu anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri agar si kecil dapat belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

  • Mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anak

Ciri-ciri helicopter parenting selanjutnya yang dapat terlihat pada orangtua adalah selalu mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) anak.

Orangtua yang menganut pola asuh helikopter akan menyelesaikan segala soal-soal sulit yang diberikan sebagai tugas atau PR si kecil.

Padahal, ada baiknya jika orangtua membiarkan anak untuk mengerjakan tugasnya sendiri terlebih dahulu.

Jika memang anak membutuhkan bantuan untuk mengerjakan PR-nya, barulah Anda bisa membantunya.

  • Mengintervensi kegiatan anak di sekolah

Apakah Anda sering mengintervensi acara-acara anak di sekolah? Bisa jadi ini ciri-ciri helicopter parenting.

Contohnya, ketika anak sedang mengikuti perlombaan olahraga di sekolahnya. Helicopter parents cenderung berteriak di pinggir lapangan dan memberikan instruksi agar anak bisa memenangi perlombaan itu.

Padahal, ada baiknya jika orangtua membiarkan anak untuk mencari cara-cara yang positif untuk memenangkan perlombaan itu dengan usahanya sendiri.

Dengan begitu, anak dapat belajar mengenai kepemimpinan, sportivitas, dan kerja keras untuk meraih sebuah hasil.

  • Overprotektif

Apakah Anda sering mengantarkan anak ke pesta ulang tahun temannya? Atau, apakah Anda kerap menemani anak untuk pergi ke rumah temannya walau jaraknya tidak jauh? Ini dapat menjadi ciri-ciri helicopter parenting.

Sebaiknya, Anda tidak perlu terlalu overprotektif ketika anak berkegiatan di luar rumah sebab anak juga butuh ruang kebebasan untuk bermain. Sebaliknya, ajari mereka untuk menjaga dirinya sendiri supaya terhindar dari hal-hal negatif. Dengan begitu, kepercayaan diri anak bisa meningkat.

  • Menjadi 'pembantu' di rumah sendiri

Merapikan mainan atau membersihkan kamar adalah tugas anak yang perlu dibiasakan sejak dini. Namun, jika Anda terus-terusan menjadi ‘pembantu' di rumah dan mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan anak, bisa jadi Anda adalah helicopter parents.

Ini saatnya Anda memberikan tanggung jawab pada anak. Jangan biarkan anak bertingkah laku seenaknya di rumah dan lepas tangan terhadap tugas-tugasnya. 

Baca Juga

  • Anak Sering Bolos Sekolah, Orang Tua Harus Apa?
  • 5 Hal yang Harus Orangtua Persiapkan agar Anak Sehat Selama Sekolah Tatap Muka
  • Berat Badan Ideal Anak Usia 0-12 Tahun Ini Perlu Jadi Perhatian Ayah dan Ibu

Dampak helicopter parenting terhadap anak

Sayangnya, helicopter parenting membawa konsekuensi yang negatif pada anak. Memang baik memberikan perhatian pada setiap hal detail pada kehidupan anak, tetapi idealnya tidak berlebihan.

Konsekuensi yang mungkin tercipta akibat pola asuh helikopter adalah:

  • Anak tidak bisa menghadapi kegagalan

Ketika anak terus-menerus dibayangi orangtua, maka mereka tidak bisa mengenal rasa saat kecewa atau gagal.

Bukan tidak mungkin anak menjadi pribadi tidak bisa menghadapi kegagalan dengan baik karena terbiasa ditanggung oleh orangtua.

  • Kepercayaan diri rendah

Helicopter parenting bisa jadi bumerang ketika anak menjadi tidak percaya diri. Keterlibatan yang berlebihan dapat membuat anak merasa bahwa orangtuanya tidak yakin dengan kemampuan darah dagingnya sendiri. Konsekuensinya adalah kepercayaan diri yang rendah.

  • Cemas berlebih

Kecemasan berlebih dari orangtua rupanya bisa menurun pada anak sebagai akibat dari pola asuh helikopter. Jika terlalu parah, anak bahkan juga rentan mengalami depresi.

  • Life skill rendah

Untuk bisa bertahan hidup, manusia harus menguasai life skill. Mulai dari yang mendasar, seperti mengikat tali sepatu sendiri hingga menuntaskan pekerjaan dengan baik.

Bayang-bayang orangtua helicopter parenting berpotensi membuat anak kesulitan menguasai banyak skill penting dalam hidupnya.

  • Mengganggu hubungan antara anak dan orangtua

Dilansir dari Very Well Family, pengertian helicopter parenting adalah pola asuh yang berpotensi mengganggu hubungan antara anak dan orangtua.

Sebab, helicopter parenting membuat orangtua terus mengomeli anak. Hal ini dapat membuat mereka tidak mau berbicara dan menjauh dari orangtuanya.

  • Membuat anak ketergantungan pada orangtua

Pola asuh orangtua jenis helicopter dianggap bisa membuat anak menjadi ketergantungan berlebih pada orangtuanya.

Misalnya, Anda terus-menerus menyuruh anak untuk melakukan sesuatu. Hal ini dapat menghambat mereka untuk belajar sesuatu dan melakukannya secara mandiri.

Padahal, orangtua disarankan untuk mengajari anak agar bisa hidup dan mandiri tanpa keberadaan mereka.

  • Membuat anak jadi jahat dan agresif

Dikutip dari International School Parenting, helicopter parenting adalah pola pengasuhan yang dinilai dapat membuat anak menjadi jahat dan agresif terhadap anak-anak lainnya. Ini dapat terjadi sebagai respons dari pola asuh orangtua yang ekstrem.

Helicopter parenting dianggap bisa membuat anak lebih mudah tersinggung dan tidak sabar saat bersosialisasi dengan teman-teman sebaya.

Apakah ada manfaat helicopter parenting?

Mungkin sebagian orangtua akan bertanya-tanya, apakah ada manfaat helicopter parenting?

Dikutip dari Healthline, ternyata helicopter parenting memiliki manfaat, tapi hanya bisa dirasakan oleh orangtua.

Menurut sebuah riset yang dimuat dalam jurnal Social Psychological and Personality Science, orangtua yang sangat terlibat dalam kehidupan anak-anaknya dapat merasakan kebahagiaan dan makna yang lebih besar di dalam kehidupan mereka.

Sayangnya, manfaat helicopter parenting ini tidak dapat dirasakan oleh anak-anaknya.

Mencegah orangtua melakukan pola asuh helikopter

Sebelum terlambat, sebaiknya orangtua sadar betul bagaimana menempatkan diri sesuai kapasitas. Memang situasinya sangat dilematis: orangtua harus terus memantau anak di setiap fase kehidupannya.

Namun, ingatlah satu hal bahwa keterlibatan secara berlebih justru membuat anak tidak bisa mandiri. Biarkan mereka menghadapi semua kegagalan dan suka duka kehidupan sendiri. Orangtua ada, tetapi tidak mendominasi semua pengambilan keputusan.

Biarkan anak merasakan berbagai emosi saat dunia tidak berpihak pada mereka. Rasa kecewa, takut, cemas, hingga sedih karena gagal itu manusiawi. Biarkan anak melakukan sendiri hal yang secara mental dan fisik sangat mungkin dituntaskan sendiri.

Tidak selamanya orangtua akan berada di sisi anak mereka. Dengan tidak menerapkan pola asuh helikopter, Anda sebenarnya mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh kelak saat Anda tak lagi bersama mereka.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

tips mendidik anaktumbuh kembang anakanak praremajamembesarkan anakcara mendidik anak

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved