Tikus ternyata dapat berdampak buruk bagi kesehatan
Tikus dapat menyebarkan penyakit yang membahayakan kesehatan manusia lewat kontaminasi feses dan urine

Bukan hanya keberadaannya di rumah yang dirasa mengganggu, tikus juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan Anda. Ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh tikus yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Salah satu contohnya adalah penyakit leptospirosis. Penularan penyakit ini terjadi ketika manusia mengonsumsi makanan atau cairan yang terkontaminasi urine dari hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira.

Masih banyak lagi penyakit yang disebabkan oleh tikus baik melalui virus ataupun bakteri. Cara terbaik untuk menghindari penularan adalah dengan membasmi sumber makanan, cairan, hingga benda yang menjadi tempat tinggalnya.

Penyakit yang disebabkan oleh tikus

Memang tidak semua tikus terkontaminasi virus. Meski demikian, ada baiknya menghindari kontak dengan tikus dan kotoran atau urinenya.

Berikut ini beberapa penyakit yang disebabkan oleh tikus:

1. Leptospirosis

Ketika luka terbuka terinfeksi urine tikus yang terinfeksi, maka leptospirosis bisa jadi risiko. Penyakit ini terjadi karena bakteri Leptospira. Setelah terinfeksi, biasanya gejala akan mulai muncul dua minggu kemudian. Gejalanya serupa dengan flu, yaitu sakit kepala, demam, hingga nyeri otot.

2. Sindrom paru hantavirus

Penyakit yang disebabkan oleh tikus pertama adalah sindrom paru hantavirus (Hantavirus pulmonary syndrome). Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menular lewat tiga cara.

Pertama, ketika menghirup udara yang terkontaminasi urine atau feses tikus. Kedua, kontak langsung dengan urine atau feses tikus. Ketiga, apabila seseorang mengalami luka gigitan akibat tikus.

Gejala awalnya adalah lemah, demam, nyeri sendi terutama di bagian paha, punggung, dan terkadang bahu. Sepuluh hari kemudian, gejalanya akan memburuk dan bertambah batuk hingga dada yang terasa sesak karena paru-paru terisi cairan.

3. Salmonellosis

Tikus juga bisa menjadi sumber penularan penyakit salmonellosis. Ketika terinfeksi, penderitanya akan merasakan masalah pada pencernaan seperti kram perut, mual, hingga diare. Meski demikian, proses penyembuhan dari penyakit ini cenderung cepat.

4. Pes

Pes atau plague merupakan infeksi yang mematikan akibat bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini disebarkan melalui kutu yang hidup pada hewan pengerat seperti tikus. Saat ini, penyakit pes menyerang 5.000 orang setiap tahunnya.

Pada abad pertengahan di Eropa, pes disebut sebagai "black death" karena menyebabkan ratusan juta orang meninggal. 

5. Demam hemoragik

Penyakit yang disebabkan oleh tikus berikutnya adalah demam hemoragik yang juga terjadi karena kontaminasi urine atau feses dari tikus pembawa virus. Penularan juga bisa terjadi ketika urine yang terinfeksi mengenai luka terbuka atau membran di mata, hidung, atau mulut.

Demam hemoragik ini berbeda dengan demam berdarah yang ditularkan melalui nyamuk Aedes.

Ketika terinfeksi, penderita akan merasa sakit kepala, demam, mual, hingga penglihatan yang buram. Tak hanya itu, bisa juga muncul ruam dan mata memerah. Penderitanya bisa sembuh dalam waktu beberapa minggu atau bulan.

6. Koriomeningitis limfositik (Lymphocytic choriomeningitis)

Penyakit selanjutnya disebabkan oleh virus Lymphocytic choriomeningitis yang bisa dibawa oleh tikus. Biasanya, virus ini ditularkan oleh tikus-tikus yang ada di rumah. Risiko tinggi bisa terjadi ketika seseorang mengalami kontak langsung dengan urine atau feses tikus yang terkontaminasi.

Sekitar 13 hari setelah terinfeksi, penderitanya akan merasakan nyeri sendi, nyeri dada, nyeri testis, hingga nyeri kelenjar ludah. Tak hanya itu, nafsu makan juga akan berkurang drastis hingga merasa mual dan muntah.

7. Demam omsk

Juga disebut dengan omsk hemorrhagic fever, seseorang bisa saja tertular penyakit yang disebabkan oleh tikus ini ketika mengalami kontak langsung atau tidak sengaja tergigit. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1947 silam di Rusia.

Setelah inkubasi selama sepekan, gejala demam omsk akan muncul seperti demam, sakit kepala, muntah, hingga pendarahan. Tak hanya itu, sel darah merah dan putih pasien juga bisa turun drastis. Pemulihan bisa berlangsung selama dua pekan.

8. Demam lassa

Pada Maret 2018, demam lassa menjadi penyabab meninggalnya 78 orang di Nigeria. Penyebabnya? Virus yang dibawa oleh tikus. Kata Lassa berasal dari nama kota di Nigeria, tempat penyakit ini pertama kali terjadi pada tahun 1969 silam.

Berbeda dengan penyakit yang disebabkan oleh tikus lainnya, demam lassa sangat mungkin menular dari satu orang ke orang lainnya. Terlebih, demam ini termasuk dalam penyakit mematikan seperti halnya Marburg dan Ebola.

9. Demam gigitan tikus

Disebut juga dengan rat-bite fever, ini adalah penyakit demam akut karena penularan lewat lendir atau urine tikus yang terkontaminasi. Ada dua bakteri yang menyebabkan penyakit ini, yaitu Streptobacillus moniliformis dan Spirillum minus.

Anak-anak yang paling rentan terinfeksi penyakit ini adalah mereka yang berusia di bawah lima tahun karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Itu sebabnya sangat penting untuk rajin mencuci tangan dengan air bersih.

10. Tularemia

Berikutnya ada penyakit yang disebabkan oleh tikus dan kelinci yaitu tularemia. Setelah terpapar bakteri, orang yang terinfeksi akan merasa demam, batuk, sakit kepala, muntah, hingga mengalami luka-luka.

Sangat penting untuk memastikan lingkungan Anda aman dari kontaminasi urine serta feses tikus. Oleh karenanya, selalu bersihkan lingkungan dan jaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan.

Beri perhatian pula pada luka terbuka yang Anda alami. Langsung obati dan lindungi dengan kasa steril untuk mengantisipasi paparan virus atau bakteri yang tidak diharapkan, termasuk dari tikus.

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/rodents/diseases/direct.html
Diakses pada 9 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/weils-disease
Diakses pada 9 Juli 2019

The Royal Society for the Prevention of Accident. https://www.rospa.com/leisure-safety/water/advice/weils-disease/
Diakses pada 9 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed